Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Saatnya Ubah Branding Rinjani dari Trekking Berganti Mountaineering

Yuyun Kutari • Jumat, 4 Juli 2025 | 15:03 WIB
PENUH TANTANGAN: Para pendaki berjuang menaklukkan Gunung Rinjani, beberapa waktu lalu.
PENUH TANTANGAN: Para pendaki berjuang menaklukkan Gunung Rinjani, beberapa waktu lalu.

Lombok Post - Saat ini, pendakian Rinjani dikenal dengan image wisata trekking. Branding seperti ini akan memengaruhi persiapan pendaki yang bisa jadi biasa-biasa saja. Padahal pendakian Rinjani sangat menantang dan kompleks.

Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi untuk Vertical Rescue Disyon Toba mengusulkan ada penyesuaian dalam branding pendakian Gunung Rinjani. Rinjani yang sebelumnya trkenal sebagai kawasan trekking menjadi mountaineering.

Menurutnya, perubahan istilah ini penting agar pendaki, bisa mempersiapkan diri lebih matang.

“Perbedaan pemahaman kata tersebut dapat berdampak besar terhadap keselamatan dan kesiapan pendaki,” jelasnya, Kamis (3/7).

Insiden tragis yang menimpa Juliana Marins (27), seorang pendaki asal Brasil, sepatutnya menjadi pelajaran berharga. Menjadi gerbang evaluasi bagi pemangku kepentingan, bahwa Rinjani bukan berbicara soal mendaki gunung dengan cara yang biasa-biasa saja.

Dalam proses menuju puncak, setiap pendaki harus mempersiapkan diri. Tak hanya soal berhadapan dengan tantangan fisik, namun juga butuh keterampilan teknis.

“Ini semua sangat diperlukan, jadi Rinjani yang kita lihat ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi juga tentang kemampuan navigasi, penggunaan peralatan khusus, dan menghadapi kondisi cuaca ekstrem,” tandasnya.

Kepala Diskominfotik NTB Yusron Hadi mengatakan selama ini pemandu pendaki maupun trekking organizer (TO) memasarkan paket pendakian dengan sebutan ayo wisata trekking ke Rinjani.

“Saya rasa branding ini perlu kita revisi,” ujarnya.

Menurutnya, bila branding trekking disampaikan kepada pendaki mancanegara, jelas mereka akan menganggap bahwa mendaki Rinjani tak ubahnya seperti jalan-jalan di atas bukit.

“Kalau bicara trekking sama orang Bule itu sama dengan jalan-jalan di bukit teletubies, jalan-jalan biasa seperti di belakang rumah, jadi persiapannya dianggap biasa-biasa saja,” jelasnya.

Sebaliknya, jika branding pendakian Rinjani ditekankan pada mountaineering, terbangun kesadaran dengan sendirinya. Bahwa dalam proses mendaki akan ditemui tantangan fisik yang lebih tinggi dibandingkan trekking, maka pendaki akan mengatensi serius hal ini.

Pendaki harus memiliki stamina yang prima, kekuatan, dan daya tahan yang luar biasa untuk menghadapi medan Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Kalau branding Rinjani adalah mountaineering bukan trekking, saya rasa teman-teman pendaki akan mempersiapkan diri dengan cara yang berbeda, saya rasa ini penting disampaikan kepada pemandu dan TO kita,” pungkasnya.

Kepala Balai TNGR Yarman mengungkapkan perubahan branding adalah usulan yang bagus. Dia sepakat Rinjani memiliki medan sulit dan membutuhkan keterampilan teknis serta peralatan khusus.

Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan Balai TNGR, untuk disosialisasikan kepada pemandu pendaki dan TO.

“Perlu kita sosialisasikan kepada TO-TO yang menjual paket wisata Rinjani, nanti coba kita diskusikan ya,” ujarnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#pendaki #trekking #Gunung Rinjani #rinjani #pendakian #Juliana Marins