LombokPost - Sepanjang Januari-Juli, data menunjukkan betapa rentannya wilayah NTB terhadap berbagai jenis bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi mengatakan dalam kurun waktu tujuh bulan, telah terjadi 125 bencana. “Terdiri dari 115 bencana alam dan 10 bencana non-alam,” terangnya, Jumat (8/8).
Banjir menjadi jenis bencana yang sering terjadi, 64 kejadian. Fenomena ini memperlihatkan, meski berbagai upaya mitigasi telah dilakukan, banjir masih menjadi momok bagi banyak kawasan di NTB.
Selain banjir, cuaca ekstrem atau angin puting beliung juga cukup sering di NTB, dengan 37 kejadian. Tanah longsor tercatat 11 kejadian yang biasanya dipicu oleh kondisi tanah yang labil setelah hujan deras. Gempa bumi terjadi sebanyak dua kali, serta gelombang pasang dan abrasi dengan satu kejadian.
“Data ini turut mempertegas keberagaman jenis ancaman bencana alam yang dihadapi masyarakat NTB,” ujarnya.
Bencana non-alam juga perlu menjadi perhatian. Selama periode ini, terjadi delapan kebakaran gedung dan permukiman. Serta dua kejadian epidemi atau wabah penyakit yang menguji kesiapan sistem kesehatan dan penanggulangan darurat di tingkat lokal.
Ahmadi mengatakan akumulasi dari berbagai kejadian tersebut mengakibatkan dampak kemanusiaan. Sebanyak 13 orang dinyatakan meninggal dunia, 36 orang mengalami luka-luka, dan lima orang dinyatakan hilang.
Selain itu, 131.776 jiwa terdampak secara langsung, baik akibat evakuasi, kerusakan tempat tinggal, maupun kehilangan akses terhadap layanan dasar. Dampak terhadap sektor permukiman juga signifikan.
Sebanyak 561 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 126 rumah rusak berat,136 rumah rusak sedang dan 299 rumah rusak ringan. Tak hanya itu, 33.500 rumah terendam banjir, dan berdampak pada kerusakan fisik tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit, kerusakan perabot, dan kehilangan harta benda.
Bencana yang terjadi juga berdampak besar terhadap fasilitas pelayanan dasar masyarakat. “Kami mencatat, ada 57 unit fasilitas pendidikan seperti sekolah rusak atau terdampak, lima fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau klinik mengalami gangguan layanan, 13 rumah ibadah rusak atau terganggu fungsinya, 23 unit perkantoran, termasuk kantor pemerintahan, terdampak, dan satu unit pasar juga mengalami kerusakan,” bebernya.
Bencana turut menghantam sarana dan prasarana vital yang sangat berpengaruh terhadap mobilitas, distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Rinciannya, 13 unit jembatan rusak, yang mengganggu akses transportasi, 74 meter jalan rusak, menghambat pergerakan warga dan distribusi barang. Kemudian 300 meter tanggul rusak, delapan jaringan listrik dan delapan jaringan komunikasi terdampak menyebabkan terganggunya akses informasi dan layanan publik. Serta 542 meter jaringan irigasi yang rusak, berdampak langsung pada sektor pertanian.
Di sektor ekonomi dan ketahanan pangan, Ahmadi menjelaskan bencana juga memberikan tekanan besar. Luas lahan produktif yang terdampak mencakup 690 hektare sawah yang dapat berimbas pada penurunan produksi pangan. “Ada 177 hektare tambak atau kolam yang rusak, serta 16 unit pertokoan atau kios yang rusak,” jelasnya.
Melihat angka kejadian dan dampak yang begitu besar, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan. “Informasi terkini dari baik dari BPBD maupun BMKG sangat penting, sebagai langkah antisipasi untuk menghindari dampak yang lebih luas akibat bencana,” tandasnya.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana mengungkapkan saat ini seluruh wilayah NTB sudah berada pada periode musim kemarau. Masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi kekeringan dan bencana kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, masyarakat agar dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya. “Tetap perhatikan informasi BMKG guna mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan anda ke depan dan tetap selalu menjaga kesehatan,” tegasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam