LombokPost - Dinas Sosial (Dinsos) NTB melaksanakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas bagi petugas pengelola Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Rabu (13/8). “Pelatihan ini diselenggarakan langsung oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin) Kementerian Sosial RI dan difasilitasi oleh kami,” terang Kepala Dinsos NTB Nunung Triningsih.
Peserta pelatihan terdiri dari operator dan verifikator Dinsos kabupaten/kota se-NTB, masing-masing dua orang. Serta perwakilan pejabat struktural dan teknis Dinsos NTB, seperti sekretaris, kepala bidang, kepala pusat layanan sosial (puslansos), dan operator.
Narasumber pertama dari Pusdatin Kementerian Sosial RI memaparkan tentang sumber-sumber data DTSEN. Yakni dari Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Pemutakhiran Pendataan Keluarga Ekstrem (P3KE), dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pemateri juga menjelaskan dasar hukum dan mekanisme pendataannya.
Narasumber kedua dari Badan Pusat Statistik (BPS) membahas variabel yang digunakan dalam DTSEN. Serta metode dan pendekatan dalam pengumpulan data. Narasumber ketiga dari BPJS Kesehatan menyampaikan jumlah masyarakat penerima manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan integrasi data kesehatan dalam kerangka DTSEN.
Nunung menegaskan pengelolaan data yang akurat dan terintegrasi sangat penting. Terutama dalam mendukung pencapaian program prioritas daerah. Saat ini, Pemprov NTB telah menetapkan tiga program unggulan pembangunan lima tahun ke depan.
Mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengembangan destinasi pariwisata unggulan. “Untuk pengentasan kemiskinan, target kita sangat ambisius. Yakni menekan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada akhir masa kepemimpinan,” terangnya.
Hal ini memerlukan strategi yang tepat, serta dukungan data yang presisi. Salah satu strategi utama adalah program Desa Berdaya, ditujukan untuk menangani 106 desa dengan kategori kemiskinan ekstrem secara bertahap selama lima tahun ke depan.
Keberhasilan program tersebut bergantung pada kualitas data yang digunakan, termasuk data yang dihimpun melalui sistem DTSEN. “Pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem melalui Desa Berdaya dilakukan secara komprehensif dari tingkat desa. Karena itu, peran data tunggal sangat penting dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program,” jelasnya.
Pelatihan hari pertama difokuskan pada penyampaian materi, diskusi, dan tanya jawab. Untuk hari kedua akan diisi dengan sesi praktik langsung penggunaan aplikasi DTSEN oleh para peserta.
Editor : Jelo Sangaji