LombokPost-Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB terus mengawal keberlangsung pertanian yang berkelanjutan.
Kepala Distanbun NTB Muhammad Taufiek Hidayat memaparkan hingga saat ini luas lahan pertanian di NTB telah mencapai 772.669 hektare.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 282.062 hektare atau sekitar 36,50 persen di antaranya telah ditetapkan sebagai Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B),” jelasnya, Senin (25/8).
Penetapan KP2B ini menjadi bagian penting dalam mendukung arah pembangunan jangka panjang sektor pertanian NTB. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah NTB Nomor 5 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Kawasan ini tidak hanya dilindungi sebagai aset pertanian strategis, tetapi juga didukung oleh infrastruktur irigasi yang cukup memadai. KP2B di Bumi Gora didukung oleh 16 daerah irigasi nasional, 35 daerah irigasi provinsi, serta 440 daerah irigasi kabupaten dan kota.
“Selain itu, terdapat 63 bangunan sumber daya air, seperti bendungan dan embung yang tersebar di berbagai wilayah,” ujarnya.
Dalam konteks optimalisasi pemanfaatan lahan, Distanbun NTB juga tengah mengakselerasi program Optimasi Lahan (OPLAH) tahun 2025.
Program ini menargetkan optimalisasi lahan seluas 10.574 hektare di seluruh NTB.
Hingga Agustus ini, perkembangan signifikan telah dicapai. Proses Survey Investigasi Desain (SID) telah tersedia untuk 8.688 hektare atau sekitar 83 persen dari total target.
“Sisanya sekitar 17 persen masih dalam tahap finalisasi, dan kami menargetkan seluruh SID ini sudah selesai dan ditandatangani paling lambat tanggal 28 Agustus,” kata pria asal Sumbawa tersebut.
Dengan selesainya seluruh dokumen SID, tahapan konstruksi untuk kegiatan OPLAH 2025 bisa langsung dimulai September mendatang.
Hal ini memungkinkan pelaksanaan penanaman perdana pada minggu ketiga atau keempat September.
Langkah ini menjadi momentum penting bagi NTB. Dalam mempercepat transformasi sektor pertanian melalui pemanfaatan lahan secara optimal dan berkelanjutan.
Pertanian adalah tulang punggung perekonomian daerah. Karenanya, segala upaya untuk memperkuat infrastruktur dan efisiensi lahan akan terus didorong.
“Kami berharap dengan keberhasilan program OPLAH 2025, akan terjadi peningkatan produktivitas pertanian secara menyeluruh. Sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendorong peningkatan kesejahteraan petani,” pungkas Taufiek.
Editor : Akbar Sirinawa