LombokPost - Dunia seni dan budaya Sasak berduka atas kepergian H Lalu Nasib AR.
Salah satu maestro wayang kulit terbaiknya, H. Lalu Nasib AR, meninggal dunia pada Jumat, 29 Agustus 2025, di kediamannya di Lingkungan Prigi, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
Kabar duka tentang kepergian Lalu Nasib ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga dan sejumlah tokoh terkemuka, termasuk mantan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, yang menyampaikan belasungkawa melalui media sosialnya.
Menurut informasi dari perwakilan keluarga Lalu Nasib, Lalu Nurahman, prosesi salat jenazah akan dilaksanakan pada Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 11.00 WITA di Masjid Miftahurrahmah.
Selanjutnya, pemakaman akan dilakukan pada hari yang sama sekitar pukul 16.00 WITA di Pemakaman Umum Gode Gerung.
Perjalanan Hidup Sang Maestro
Lalu Nasib sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia wayang sejak kecil.
Meski tidak memiliki guru resmi, Lalu Nasib belajar mendalang secara otodidak dengan membuat wayang dari kardus bekas.
Perjalanan kariernya tidak mudah, orang tuanya sempat tidak merestui pilihannya dan bahkan mengirimnya ke sekolah pelayaran untuk menjauhkannya dari dunia seni.
Namun, kecintaannya yang mendalam terhadap wayang tak pernah padam.
Lalu Nasib memulai karier profesionalnya sebagai dalang pada tahun 1969.
Gaya pementasannya dikenal khas, komunikatif, dan merakyat karena sering menggunakan bahasa Sasak yang dipadu dengan unsur humor.
Selama lebih dari 55 tahun berkarya, Lalu Nasib tidak hanya melestarikan wayang Sasak, tetapi juga melakukan inovasi.
Lalu Nasib berani memasukkan unsur modern seperti cidomo dan pesawat antariksa Apollo ke dalam pertunjukannya.
Lalu Nasib juga menciptakan tokoh-tokoh lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti Inak Ocong dan Amak Amat, yang membuat pertunjukannya selalu dinanti.
Penghargaan dan Legasi Abadi
Dedikasi yang dimiliki Lalu Nasib pun sudah diakui secara nasional.
Pada tahun 1981, Lalu Nasib menerima penghargaan dari Bina Graha di era Presiden Soeharto.
Sebagai dalang, Lalu Nasib dikenal bukan hanya sebagai penghibur, melainkan juga sebagai penyampai pesan moral dan kritik sosial.
Lalu Nasib selalu memperbarui cerita wayangnya dengan isu-isu terkini dari koran, radio, dan diskusi.
Meskipun di tengah gempuran media modern, pesona pertunjukan Lalu Nasib tetap bertahan.
Lalu Nasib berhasil menjaga eksistensi wayang Sasak dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan pakem aslinya.
Lalu Nasib akan selalu dikenang sebagai salah satu ikon budaya Lombok dan NTB yang berhasil menjadikan wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat.
"Hanya satu yang selalu saya ingat, untuk menjadikan pertunjukan wayang sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat," ucap Lalu Nasib dalam sebuah kesempatan.***
Editor : Fratama P.