LombokPost - Brigadir Esco Faska Rely, seorang anggota Polsek Sekotong, ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan, tergantung di sebuah kebun yang hanya berjarak 12 meter dari rumahnya.
Kematian tragis Brigadir Esco Faska Rely ini menyisakan duka mendalam dan misteri, karena pelaku di balik insiden ini belum terungkap hingga kini.
Ayah Esco Faska Rely, Samsul Herawadi, mewakili keluarga besar, secara tegas menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya, bahkan sampai hukuman mati jika itu sesuai dengan perbuatan mereka.
"Semoga secepatnya pelaku terungkap. Kami minta penegak hukum memberi hukuman yang seberat-beratnya. Bila perlu, kalau hukuman mati memang sesuai dengan keadaan anak saya, ya hukum mati," ujar Samsul.
Keluarga merasakan kehilangan yang teramat besar atas kepergian Esco Faska Rely, yang mereka kenal sebagai sosok yang pendiam, baik hati, dan ramah.
Menurut Samsul, mendiang anak, Esco Faska Rely, adalah kebanggaan keluarga yang tidak pernah terlibat dalam masalah.
Kuasa hukum keluarga, Lalu Anton Heriawan, memastikan bahwa kasus ini akan dikawal dengan serius dan meyakini bahwa kebenaran akan terungkap.
Ia mengirimkan pesan kepada pelaku yang melakukan aksi keji ini.
"Saya cuma ingin bilang satu hal. Semoga pelaku menonton ini. Saya yakin dia tidak akan tenang. Sehebat apa pun larinya kebohongan, kebenaran itu pasti akan terungkap. Saya akan kejar sampai manapun," tegasnya.
Sebelumnya, Kepolisian Resor (Polres) Lombok Barat telah memulai penyelidikan untuk mendalami penyebab kematian Brigadir Esco Faska Rely, yang tubuhnya ditemukan membengkak dan wajahnya sulit dikenali.
Korban pertama kali ditemukan oleh mertuanya, H. Saiun, di lokasi yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah.
Kasat Reskrim Polres Lombok Barat, AKP Lalu Eka Arya Mardiwinata, menyatakan bahwa pihak kepolisian sedang mengumpulkan bukti-bukti di lapangan untuk mengungkap kasus ini.
Sampai saat ini, pelaku pembunuhan Brigadir Esco Faska Rely masih belum ditemukan.***
Editor : Fratama P.