LombokPost – Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program prioritas pemerintah.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak usia sekolah, sebagai investasi penting dalam menyongsong generasi emas Indonesia 2045.
Pelaksanaan program MBG di Lombok tidak sekadar menyuplai makanan sehat. Lebih dari itu, fokus diarahkan pada kualitas penanganan, pengolahan, hingga pelayanan makanan.
Untuk menjamin hal tersebut, BGN bersama pemerintah daerah menggelar rangkaian pelatihan intensif bagi para penjamah makanan (food handlers) dan satuan pelaksana gizi. Saat ini, kegiatan tersebut tengah berlangsung di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk Lombok.
Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 3, Ranto, S.P., M.AP menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam MBG.
Program Makan Bergizi Gratis adalah bentuk nyata komitmen negara dalam membangun generasi sehat dan cerdas. "Untuk menjamin keberhasilan program, kualitas tenaga pelaksana di lapangan harus terus ditingkatkan, termasuk di Lombok,” ungkap Ranto dalam sambutannya, Sabtu (4/10).
Menurutnya, keberadaan Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di daerah memegang peranan vital. Mereka bukan hanya bertugas mendistribusikan makanan, tetapi juga memastikan standar higienis dan gizi terpenuhi di setiap hidangan.
BGN menegaskan ada tiga pilar utama yang harus dijalankan dengan baik agar program MBG benar-benar berdampak bagi masyarakat. Ada beberapa hal yang ditekankan BGN. Diantaranya seluruh proses, mulai dari pengadaan bahan makanan, pengolahan, hingga penyajian, wajib memenuhi standar higienis dan gizi seimbang.
Kemudian ketepatan waktu dan pemerataan distribusi menjadi kunci. Program MBG dituntut mampu menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah-daerah terpencil di Lombok.
Pemberdayaan dan Edukasi Gizi
Masyarakat, khususnya peserta didik dan keluarganya, didorong untuk memahami pentingnya konsumsi makanan bergizi sebagai kebiasaan sehari-hari.
Ranto menegaskan, jika tiga pilar tersebut dijalankan secara konsisten, MBG tidak hanya menjadi program formal semata, tetapi juga gerakan perubahan gaya hidup masyarakat menuju pola makan sehat.
Selain dukungan teknis, BGN juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Pemerintah daerah, sekolah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat perlu bahu membahu agar program ini berjalan optimal.
“Kami berharap program MBG di Lombok tidak sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya makan sehat di kalangan anak bangsa,” tutup Ranto.a
Program Makan Bergizi Gratis memang dirancang bukan hanya untuk menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia. Dengan gizi yang baik sejak usia sekolah, diharapkan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan mampu bersaing di tingkat global pada 2045.
Di Lombok sendiri, program MBG mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Sekolah-sekolah penerima manfaat menilai, kehadiran program ini membantu mengurangi beban keluarga sekaligus memberikan edukasi gizi praktis bagi anak-anak.
Dengan penguatan layanan, peningkatan kompetensi tenaga pelaksana, serta dukungan masyarakat, program ini diharapkan berjalan efektif dan memberi manfaat nyata. Lombok pun berpeluang menjadi salah satu contoh keberhasilan implementasi MBG di Indonesia.
Editor : Siti Aeny Maryam