LombokPost - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma terus memastikan pembangunan gedung baru khusus layanan rehabilitasi Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (Napza) berjalan sesuai target.
Proyek ini didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2025 dengan nilai anggaran mencapai Rp 12,95 miliar, menurut data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) NTB.
Direktur RSJ Mutiara Sukma Wiwin Nurhasida mengungkapkan progres pembangunan gedung tersebut telah mencapai sekitar 80 persen.
“Alhamdulillah, sejauh ini semua berjalan lancar. Setiap hari Jumat progresnya dilaporkan ke saya, dan biasanya selalu ada deviasi positif,” terangnya, Selasa (25/11).
Wiwin menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi selama proses pembangunan berlangsung. “Kami berkomitmen agar proyek ini dilaksanakan dengan benar dan sesuai aturan,” ujarnya.
Selama pembangunan, RSJ Mutiara Sukma menggandeng pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati), Dinas PUPR, Inspektorat NTB, serta tim internal rumah sakit, termasuk tim pengendali infeksi dan tim Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) yang menangani aspek pergedungan, instalasi, dan kesehatan lingkungan.
“Harapannya, proyek ini selesai dengan baik dan aman, sehingga cepat dapat dimanfaatkan masyarakat NTB,” jelasnya.
Sesuai rencana, gedung baru tersebut akan difungsikan untuk layanan rehabilitasi medik khusus Napza dengan kapasitas sekitar 50 tempat tidur (bed).
Wiwin menyebut ini jauh lebih banyak dibandingkan fasilitas lama yang hanya mampu menampung 15 pasien.
“Saat ini kita sudah memiliki layanan rehabilitasi, namun kapasitasnya hanya 15 bed, sangat kurang jika dibandingkan kebutuhan,” tegasnya.
Kehadiran fasilitas baru itu nantinya, bisa dimanfaatkan oleh pasien rujukan maupun pasien mandiri, termasuk program restorative justice melalui kerja sama dengan Kejati dan Kejaksaan Negeri (Kejari).
Baca Juga: Diduga Pesta Narkoba, Oknum Polisi di Dompu Ditangkap Bersama Empat Teman Cewek di kos
Juga diharapkan bisa memangkas antrian layanan rehabilitasi yang saat ini cukup tinggi, dengan lebih dari 50 pasien menunggu per bulan. Dengan lama rehabilitasi yang berlangsung selama tiga bulan membuat daftar tunggu terus bertambah.
“Adanya fasilitas baru ini, kami berharap kapasitas layanan dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya.
RSJ Mutiara Sukma telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan secara bertahap, termasuk dokter subspesialis adiksi, dokter spesialis jiwa, dan lima psikolog klinis.
Namun, pihak RSJ juga masih membutuhkan tambahan pekerja sosial sebanyak dua orang untuk melengkapi tim layanan. “Peran pekerja sosial penting untuk menjembatani komunikasi antara rumah sakit dan keluarga pasien,” jelas Wiwin.
Selain itu, sarana pendukung rehabilitasi juga telah dipersiapkan, termasuk ruang belajar, musala, fasilitas olahraga, dan tempat tidur yang memadai.
“Ini untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pasien agar dapat pulih dari ketergantungan zat adiktif,” kata dia.
Terkait serah terima proyek, Wiwin menegaskan komitmen RSJ Mutiara Sukma untuk melaksanakan pembangunan sesuai aturan dan standar keamanan.
“Insya Allah, kami targetkan fasilitas ini bisa langsung dimanfaatkan pada acara HUT NTB, meskipun batas akhir penyelesaian proyek adalah 31 Desember 2025,” pungkasnya.
Editor : Prihadi Zoldic