LombokPost - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal resmi dianugerahi gelar Manggala NTB oleh Majelis Adat Sasak (MAS). Penganugerahan gelar adat tersebut berlangsung khidmat dan sarat makna dalam rangkaian acara Festival Budaya Mirah Sasak Adi di Desa Golong, Narmada, Lombok Barat, Rabu (10/12).
"Gelar Manggala NTB ini adalah kepemimpinan ala Sasak yang adil dan bijaksana. Menyatukan masyarakat dari semua golong untuk menjadi kekuatan membangun daerah," jelas Ketua Majelis Adat Sasak Lalu Sajim Sastrawan.
Sementara Lalu Prima Wira, Sekretaris MAS memaparkan jika Manggala Gumi NTB adalah bagian dari falsafah tridatu atau datu telu yang artinya kepemimpinan itu dilakukan secara kolektif antara penyelenggara negara, bersama tokoh agama dan tokoh adat.
"Manggala Gumi memiliki posisi terhormat dalam struktur adat. Sesuai falsafah tridatu, ini mengajarkan bahwa kepemimpinan harus dijalankan secara tiga pilar yakni enyelenggara negara, tokoh agama, dan tokoh adat," paparnya.
Ia menegaskan bahwa pelibatan seluruh unsur tersebut menjadi pondasi kokoh dalam menjaga keharmonisan dan kemajuan masyarakat Sasak.
Sebagai penerima gelar, Gubernur Lalu Muhammad Iqbal diharapkan dapat memimpin NTB dengan sinergi bersama para pemuka agama dan adat. Kolaborasi tiga unsur ini diyakini menjadi kunci pembangunan daerah yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal menyampaikan rasa terima kasih dan komitmennya untuk membawa kembali semangat kolektivitas masyarakat Sasak. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan Sasak sejak dulu dikenal dengan karakter yang lembut namun tetap visioner dan tegas.
"Bangsa Sasak memimpin dengan hati, tapi tetap visioner dan tegas. Hadir untuk semua suku dan golongan," ujarnya.
Ia menekankan bahwa esensi kepemimpinan Sasak bukanlah soal kekuasaan, tetapi pengabdian dan keberpihakan kepada rakyat.
Gubernur juga menyinggung persoalan besar yang masih dihadapi NTB, yaitu kemiskinan dan kebodohan. Menurutnya, musuh utama masyarakat saat ini bukanlah perbedaan, melainkan dua masalah mendasar tersebut. "Musuh kita bersama adalah kemiskinan," tegasnya.
Iqbal menyebut NTB masih termasuk satu dari 12 provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.
Tercatat 106 desa masuk kategori kemiskinan ekstrem, dengan lebih dari 100 ribu warga yang masih berjuang keluar dari garis kemiskinan. Pemerintah menargetkan penurunan signifikan, bahkan menuju nol kemiskinan ekstrem.
Ia juga menegaskan sifat sejati orang Sasak adalah rela berkorban demi menjaga tatanan sosial. Dalam budaya Sasak, kepentingan pribadi tidak boleh mengalahkan kepentingan bersama.
"Merang berarti rendah hati, bukan berarti mau direndahkan," ucapnya.
Karakter ini, menurut Iqbal, menjadi modal sosial besar dalam membangun peradaban NTB.
Di akhir pidatonya, Gubernur menegaskan bahwa identitas Sasak bukan sekadar garis keturunan, melainkan kecintaan pada Lombok, NTB, serta budaya dan adat Sasak.
"Semua orang yang mencintai Lombok, mencintai NTB, mencintai budaya dan adat Sasak, dia layak disebut orang Sasak," tutupnya.
Sementara TGH Hazmi Hamzar, Komite Seni Budaya Nusantara Provinsi NTB mengharapkan semua masyarakat Sasak mendukung pemerintahan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal.
"Selama ini kita mengharapkan pemimpin dari Bangsa Sasak, sekarang sudah saatnya kita mendukung beliau. Jangan orang Sasak yang justru mengganggu sesama Sasak," harapnya.
Editor : Siti Aeny Maryam