LombokPost - Nama Dr Ahmad Saufi menjadi salah satu yang mencuat, dalam bursa calon Sekretaris Daerah (Sekda) NTB. Lahir di Mataram pada 2 Januari 1971, sosok birokrat senior dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di tingkat nasional dan internasional ini, menyatakan kesiapannya untuk kembali ke daerah dan mengabdikan seluruh kompetensi yang dimilikinya bagi Bumi Gora.
Ahmad Saufi memulai karier profesionalnya sebagai Peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama 15 tahun, terhitung sejak 1995 hingga 2010.
Memasuki tahun 2011, ia dipercaya menjabat sebagai Asisten Deputi Penelitian Iptek Bidang Kesehatan, Obat, Pangan, dan Pertanian di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) hingga tahun 2016.
Kariernya kemudian berlanjut ke ranah diplomasi internasional saat ditugaskan menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, Jerman, pada periode 2016–2020.
Sekembalinya ke tanah air, Ahmad Saufi menjabat sebagai Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2020–2021.
Sejak tahun 2021, dirinya aktif mengabdi di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dengan mengemban beberapa tanggung jawab strategis.
Dimulai dari Asisten Deputi Pendidikan Keagamaan 2021–2022, dilanjutkan sebagai Asisten Deputi Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Tinggi 2023–2024, hingga saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Pemuda dan Peningkatan Prestasi Nasional.
Karena itu, Ahmad Saufi mengungkapkan keputusannya mengikuti seleksi Sekda NTB bukanlah langkah spontan, melainkan buah dari perjalanan panjang pengabdian sebagai ASN yang telah ditempa di berbagai kementerian strategis.
“Kurang lebih 30 tahun saya menjadi ASN yang bertugas di pusat, di empat lembaga yang berbeda,” ujar Ahmad Saufi saat ditemui Lombok Post, Selasa (30/12).
Ragam pengalaman tersebut membentuk perspektif komprehensif tentang bagaimana dirinya bekerja, dari level teknis hingga koordinasi lintas kementerian. Tak hanya di dalam negeri, Ahmad Saufi juga pernah menjalani penugasan luar negeri selama empat tahun.
Penugasan ini memberinya pengalaman internasional, sekaligus memperluas jejaring global di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kerja sama lintas negara.
“Jadi, ingin saya rasanya untuk memberikan pengabdian terbaik, dan dari segi perspektif saya, apabila Tuhan mengizinkan, masih ada kurang lebih 5 tahun sebagai ASN aktif, mudah-mudahan dalam sisa pengabdian ini, saya bisa memberikan pengabdian terbaik untuk NTB,” jelasnya.
Bagi Ahmad Saufi, pengabdian kepada Negara tidak selalu harus dilakukan di tingkat pusat. Itu bisa dilakukan di daerah, terlebih tanah kelahiran sendiri. Karenanya, dengan adanya seleksi terbuka Sekda NTB, ia merasa terpanggil untuk pulang dan mengabdi.
“Saya bisa mengabdi dimana saja, terlebih itu di tanah kelahiran juga apabila diperlukan, tentu saya akan sangat siap,” tegas alumni IPB tersebut.
Ia menilai, saat ini NTB berada pada momentum penting. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memiliki visi besar, ingin menjadikan NTB Makmur Mendunia.
Visi tersebut, menurutnya, memerlukan dukungan birokrasi yang solid, profesional, dan mampu bekerja secara detail di lapangan. “Untuk mewujudkan visi besar itu, dibutuhkan tangan kanan seorang birokrat yang memahami persoalan secara detail dan teknis. Dengan begitu, Pak Gubernur bisa lebih fokus pada arah kebijakan strategis dan global,” jelasnya.
Dalam konteks itulah, peran Sekda menjadi sangat vital dan krusial. Sekda bukan sekadar pejabat administratif, melainkan motor penggerak birokrasi, penghubung antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekaligus penerjemah visi dan misi kepala daerah ke dalam program yang lebih konkret.
Ia mengibaratkan Sekda sebagai seorang dirigen dalam sebuah orkestra besar. Setiap OPD adalah pemain dengan instrumen masing-masing, memiliki tugas dan fungsi yang sangat rinci, mulai dari pembangunan pariwisata, pertanian dan ketahanan pangan, pendidikan, hingga sektor-sektor strategis lainnya.
“Fungsi dan tugas Sekda sudah jelas, bukan hanya membantu Gubernur namun juga memimpin birokrasi di seluruh NTB ini, artinya Sekda harus bisa mendirijen, memimpin OPD untuk menjalankan tugas dan peran yang sudah dirincikan,” beber Ahmad Saufi.
Selain soal koordinasi, tantangan besar lain adalah pengelolaan anggaran. Ahmad Saufi mengakui dalam dua hingga tiga tahun terakhir, APBD NTB berada di kisaran Rp 6 triliun lebih, kombinasinya bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dana transfer pusat.
Namun porsi dana transfer pusat masih mendominasi. Karena itu, jika dipercaya menjadi Sekda NTB, dirinya akan memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan DPRD, agar anggaran yang ada menjadi logistik yang bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, bagi OPD bisa menjankan tugas dan fungsi untuk mencapai visi dan misi kepala daerah.
Di konteks ini, Sekda, kata Ahmad Saufi, harus mampu memastikan bahwa setiap rupiah anggaran digunakan secara tepat sasaran, sehingga OPD bisa menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal.
Dalam pandangannya, komunikasi dengan DPRD menjadi kunci. Legislatif adalah mitra strategis pemerintah daerah sekaligus representasi suara rakyat. “Masyarakat berhak mengetahui sampai ke rupiah terakhir anggaran itu dibelanjakan untuk apa,” katanya.
Saat ditanya mengenai beratnya tugas Sekda, Ahmad Saufi memilih menyebutnya sebagai tantangan. “Saya lebih suka menyebutnya menantang. Setiap tahun tantangannya berbeda. Lain ladang, lain belalang,” katanya sambil tersenyum.
Ia menuturkan, pengalaman mengoordinasikan lintas kementerian di Kemenko PMK, menjadi bekal penting dalam menghadapi kompleksitas pemerintahan daerah. “Kami terbiasa mengoordinasikan banyak pihak, lintas sektor, lintas lembaga. Itu menjadi modal besar,” ujarnya.
Meski lama bertugas di pemerintah pusat, Ahmad Saufi menegaskan dirinya bukan orang luar NTB. Sejak awal kariernya, ia telah banyak terlibat dalam berbagai program di Bumi Gora.
Dari proyek pertanian lahan kering di Lombok Utara, penugasan sebagai licensed officer BPPT di Bappeda NTB, hingga keterlibatan dalam program Bumi Sejuta Sapi pada era Gubernur Muhammad Zainul Majdi, semuanya membentuk kedekatan emosional dengan daerah.
“Saya rutin pulang ke NTB, ibu kandung saya ada di sini. Saya mengenal karakter masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo. Jadi saya tidak merasa sebagai orang luar,” tegasnya.
Mengenai dinamika seleksi calon Sekda NTB, Ahmad Saufi menunjukkan sikap yang tenang, dewasa, dan penuh etika birokrasi. Ia menegaskan proses yang sedang berjalan bukanlah ajang kompetisi yang saling meniadakan, melainkan ruang bersama untuk menghadirkan figur terbaik bagi daerah.
Menurutnya, keberadaan sembilan kandidat lainnya justru menjadi cerminan, daerah memiliki banyak sumber daya manusia unggul yang siap mengabdi. Ia menilai seluruh peserta seleksi memiliki kapasitas, kompetensi, dan rekam jejak yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
“Saya sangat menghormati seluruh kandidat. Sejak proses seleksi di Jakarta, kami sudah sering bertemu, berdiskusi, dan berinteraksi. Hubungan kami sudah seperti saudara sendiri,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi Panitia Seleksi (Pansel) yang dinilai profesional, transparan, dan menjunjung suasana kekeluargaan. Hasil akhir seleksi diserahkan sepenuhnya kepada Gubernur NTB dan Pansel, dengan sikap tawakal kepada Tuhan agar dipilih sosok yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah.
Di akhir wawancara, Ahmad Saufi menegaskan komitmennya untuk terus belajar dan membumikan kearifan lokal NTB. Menurutnya, ilmu dari luar itu penting, tetapi kearifan lokal Sasak, Samawa, dan Mbojo harus digali dan amalkan. “Bukan hanya dalam pola pikir, tapi juga pola sikap dan pola tindak,” pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam