LombokPost - Meningkatnya dinamika geopolitik global saat ini, khususnya di kawasan Timur Tengah, diprediksi berdampak ke sektor pariwisata Bumi Gora.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Sahlan M Saleh menegaskan situasi memanas di kawasan tersebut, membawa konsekuensi signifikan terhadap arus kunjungan wisatawan mancanegara, termasuk ke Lombok dan Sumbawa.
“Situasi-situasi yang memanas ini di kawasan Timur Tengah, jelas akan berdampak pada pariwisata NTB, bahkan di seluruh dunia,” terangnya, Senin (2/3).
Menurut Sahlan, konflik yang terjadi tidak hanya berdampak pada negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi jalur penerbangan internasional.
Sejumlah penerbangan dari Eropa harus melintasi zona udara Timur Tengah yang saat ini dinilai rawan akibat potensi peperangan. “Bukan hanya kita bicara Timur Tengah-nya, tetapi pesawat yang dari Eropa juga melewati zona udara yang dimiliki oleh Timur Tengah, di mana itu menjadi daerah rawan untuk peperangan saat ini,” tegasnya.
Ia menilai, dampak paling nyata akan dirasakan dari pasar wisatawan Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Ketidakpastian situasi keamanan membuat mobilitas wisatawan dari kawasan tersebut terganggu, sehingga berpotensi menurunkan angka kunjungan ke NTB.
“Dampaknya sangat besar terhadap wisatawan-wisatawan kita dari Amerika, Eropa, dan Timur Tengah,” katanya.
Kendati demikian, BPPD NTB tidak tinggal diam. Sahlan mengungkapkan pihaknya terus membangun komunikasi dan memperkuat promosi di negara-negara Asia yang tidak terdampak langsung oleh konflik tersebut.
Strategi ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan. “Kita coba terus bangun komunikasi dan promosi di negara-negara Asia yang tidak terdampak dengan peperangan ini,” jelasnya.
Ia juga melihat adanya peluang di tengah situasi sulit tersebut, khususnya dari pasar Australia, karena dengan terganggunya akses penerbangan ke Eropa dan Amerika yang melintasi wilayah Timur Tengah, wisatawan Australia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memilih destinasi yang lebih dekat dan aman, seperti NTB.
“Artinya, ruang untuk penerbangan kelompok Australia itu semakin besar kesempatannya. Karena orang-orang Australia terhalang untuk terbang ke Eropa dan Amerika, berarti peluang kita untuk bisa datangkan ke kelompok itu kita baca,” ungkap Sahlan.
Baca Juga: Menuju Hub Pariwisata Dunia, RS Mandalika Harus Diperkuat
Menurutnya, setiap tantangan selalu menyimpan peluang. Ketika pasar Eropa mengalami hambatan, NTB dapat mengoptimalkan pasar Australia dan negara-negara Asia lainnya yang relatif tidak terdampak konflik.
“Kesulitan kita datangkan tamu-tamu dari Eropa, ada kesempatan kita datangkan wisatawan-wisatawan dari Australia dan Asia lainnya. Karena mereka tidak bisa terbang ke Timur Tengah, Eropa, maupun Amerika,” bebernya.
Namun demikian, Sahlan tidak menampik penurunan kunjungan dari Eropa dan Timur Tengah hampir pasti terjadi. Padahal, wisatawan dari kedua kawasan tersebut dikenal memiliki lama tinggal (length of stay) yang cukup panjang di Lombok, sehingga kontribusinya terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.
“Wisatawan Timur Tengah dan Eropa ini cukup lama tinggalnya di daerah kita. Nah ini bagian dari peperangan ini ada dampaknya sangat besar pada sektor pariwisata kita yang paling dekat dampaknya,” ujarnya.
Ia pun berharap situasi geopolitik global segera membaik agar stabilitas sektor pariwisata, baik di NTB maupun secara global, dapat kembali pulih. “Ya betul, mudah-mudahan segera berakhirlah yang kayak gini-gini,” pungkas Sahlan.
Terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengimbau maskapai penerbangan rute internasional, dengan tujuan atau yang melewati kawasan Timur Tengah, agar meningkatkan kewaspadaannya.
“Aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya melalui siaran resmi di situs Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Ia menekanan selalu berkoordinasi dengan Airnav Indonesia, maskapai penerbangan, pengelola bandara dan otoritas asing untuk memperbaharui informasi keamanan wilayah Timur Tengah serta memastikan penerbangan aman dan lancar.
Beberapa negara telah menutup ruang udara untuk semua kedatangan dan keberangkatan, baik penerbangan komersial maupun pribadi. Negara-negara tersebut antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah.
“Kami telah berkoordinasi dan meminta maskapai memonitor kondisi ruang udara Timur Tengah, termasuk untuk perjalanan umroh,” jelasnya.
Editor : Akbar Sirinawa