Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kasus Stunting Turun, Program CKG Sasar Jutaan Jiwa

Redaksi • Kamis, 7 Mei 2026 | 10:11 WIB
Kepala Dikes NTB dr Lalu Hamzi Fikri (DISKOMINFOTIK NTB/LOMBOK POST)
Kepala Dikes NTB dr Lalu Hamzi Fikri (DISKOMINFOTIK NTB/LOMBOK POST)

LombokPost - Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, Pemprov NTB melakukan sejumlah program strategis yang menjadi prioritas utama di tahun 2026.

Mulai dari percepatan penurunan stunting, penguatan skrining penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga penanganan TBC.

Baca Juga: Keamanan SPBE Jadi Kunci Keberhasilan Transformasi Digital Pemerintahan, Wagub NTB Tekankan Audit dan Integrasi Sistem

Hasil evaluasi tingkat pusat pada Triwulan I-2026, angka prevalensi stunting di NTB tercatat turun signifikan menjadi 12,88 persen. Angka ini yang jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 17,5 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri menjelaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi yang dilakukan secara konsisten melalui dua jalur utama. Yakni intervensi spesifik (langsung) dan sensitif (tidak langsung).

“Intervensi langsung di sektor kesehatan memiliki daya ungkit 30 persen, yang fokus pada imunisasi, pemberian ASI eksklusif, dan pola asuh,” katanya.

Baca Juga: Ketimpangan Gender Turun, NTB Mendekati Era Penduduk Menua

Namun, kunci utamanya juga ada pada intervensi tidak langsung yang menyumbang 70 persen daya ungkit.

Seperti akses air bersih, sanitasi layak, lingkungan sehat, hingga penanganan kemiskinan.

Dikes NTB juga mengandalkan program Desa Berdaya sebagai ujung tombak.

Baca Juga: Sinergi Kuat di Dompu! Kemenkum NTB Genjot Posbankum dan Reformasi Hukum Daerah

Di sana, dilakukan monitoring ketat pada 10 desa per kabupaten/kota, pemberian telur bagi balita, hingga dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tantangan Lingkungan dan Pola Makan

Meski angka stunting menurun, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait asupan nutrisi dan pengaruh lingkungan.

Dr Fikri menyoroti fenomena makanan siap saji yang membuat standar kebutuhan gizi balita seringkali tidak terpenuhi.

“Terkait asupan, tantangan kita adalah memastikan seluruh balita bermasalah gizi mendapatkan pendampingan pemenuhan gizi yang tepat. Edukasi lingkungan sehat terus kami masifkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada makanan instan," tambahnya.

Cek Kesehatan Gratis Hak Setiap Warga

Sebagai bagian dari program hasil tercepat Presiden yang dimulai sejak Maret 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kini tengah dipercepat di seluruh pelosok NTB.

Pada tahun 2026, ditargetkan sebanyak 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total penduduk NTB harus mendapatkan layanan skrining.

Sasaran CKG sangat luas, mulai dari bayi hingga lansia. Masyarakat dapat mengakses layanan ini di Puskesmas, Pustu, Posyandu, hingga melalui layanan komunitas di berbagai acara (event) besar di NTB.

CKG adalah upaya skrining untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. Ini adalah hak setiap masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh faskes.

“Seluruh data pasien akan terekam secara digital melalui aplikasi Satusehat Indonesia," jelas dr Fikri.

Perang Melawan TBC Menuju 100 Persen Bebas Kasus

Selain stunting dan CKG, penanganan Tuberkulosis (TBC) juga menjadi sorotan. Pada tahun 2025, penemuan kasus baru mencapai 61 persen dari target 90 persen. Meskipun layanan pengobatan di faskes sudah maksimal, kendala utama terletak pada pengawasan minum obat yang sering terputus.

Dikes NTB memperkenalkan strategi Terapi Pencegahan yang wajib diikuti oleh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

Faktanya, anggota keluarga yang merasa sehat seringkali enggan minum obat pencegahan. Padahal itu wajib.

“Kami mendorong peran aktif masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC sebagai program unggulan. Harapan kita, 40 desa ini bisa 100 persen bebas TBC ke depannya," tegasnya.

Dr Fikri menambahkan, terdapat tiga pilar penanganan TBC di NTB. Pertama, penemuan kasus dengan meningkatkan skrining aktif di masyarakat. Kedua, pengobatan untuk memastikan pelayanan maksimal begitu pasien terdiagnosa.

Pilar ketiga adalah terapi pencegahan. Tujuannya, melindungi orang sehat yang berisiko tertular di keluarga dan lingkungan sekitar.

Dengan sinergi antara program nasional dan inovasi lokal seperti Desa Berdaya, Dikes NTB optimis dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan bebas dari ancaman penyakit kronis maupun masalah gizi kronis. (lil/diskominfotikntb)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#skrining penyakit #Dikes #CKG #NTB #Stunting