LombokPost - Pemprov NTB mengarahkan arus investasi ke sektor non tambang, sebagai upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP NTB) Irnadi Kusuma.
Dia menyebut, minat investor terhadap sektor non tambang cukup tinggi. “Mereka sangat tertarik,” ujarnya, Kamis (7/5).
Sejauh ini cukup banyak investor yang datang dan melakukan penjajakan. Dia percaya NTB tidak kekurangan potensi sektor non tambang. Ada pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, perdagangan, jasa, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif.
Berdasarkan data realisasi investasi selama 2025, sektor ESDM masih menempati posisi puncak, dengan realisasi Rp 43 triliun. Namun setelahnya ada sektor non tambang, seperti pariwisata dan ekonomi kreatif dengan nilai investasi sebesar Rp 6,3 triliun, perdagangan Rp 2,1 triliun, hingga transportasi Rp 434 juta.
Investasi merupakan proses panjang yang tidak bisa langsung menghasilkan realisasi dalam waktu singkat. Setiap investor tetap harus melalui tahapan dan prosedur yang berlaku, mulai dari perizinan hingga analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Pengembangan investasi non tambang juga berkaitan erat dengan konsep green investment atau investasi hijau. Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan perlindungan lingkungan menjadi pijakan utama pemerintah daerah dalam menarik investor.
“Biarkan berproses. Kalau sudah ada keseriusan tetap juga akan ada proses perizinan, proses amdal dan segala macam,” katanya.
Irnadi optimistis NTB akan tetap menjadi daerah tujuan investasi yang diperhitungkan para investor. Terutama karena potensi sumber daya yang dimiliki daerah tersebut. “Intinya kita optimis bahwa NTB itu akan tetap menjadi daya tarik para investor ke depan, terutama dengan potensi-potensi yang kita miliki,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim menegaskan sektor kelautan dan perikanan memiliki prospek besar, untuk dikembangkan melalui investasi strategis.
“Kita membuka peluang investasi sebagai bagian dari transformasi menuju ekosistem industri agro maritim yang berdaya saing global,” jelasnya.
Dengan produksi udang vannamei yang mencapai lebih dari 198 ribu ton pada tahun 2025, NTB menawarkan pembangunan pabrik pengolahan udang terintegrasi di dua lokasi utama. Yaitu Labuhan Lombok di Lombok Timur dan Teluk Santong di Kabupaten Sumbawa.
Kedua lokasi ini berstatus clean and clear, berlokasi dekat dengan pelabuhan perikanan. Serta telah dilengkapi dengan studi kelayakan (FS) dan Detail Engineering Design (DED) yang menunjukkan kelayakan tinggi.
Investasi ini sangat menjanjikan karena akses permintaannya langsung ke pasar global yang terus tumbuh 5-7 persen per tahun seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, China, dan ASEAN.
Dislutkan NTB juga memberikan dukungan penuh berupa insentif investasi serta kemudahan perizinan sebagai bentuk karpet merah bagi para investor.
Baca Juga: Investasi Hunian Mewah Masuk Mandalika
Selain udang, NTB menawarkan peluang hilirisasi tuna, tongkol, dan cakalang yang telah memiliki sertifikat Marine Stewardship Council (MSC) standar internasional dalam tata kelola penangkapan.
Proposal lain mencakup pembangunan Pelabuhan Soroadu di Dompu. Ini untuk mendukung Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573 sebagai pusat bongkar muat dan pengolahan pasca tangkapan.
Dengan potensi bahan baku melimpah, infrastruktur pelabuhan yang siap, serta dukungan regulasi yang kuat, NTB menghadirkan peluang investasi.
“Ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi daerah, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi biru Indonesia,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa