LombokPost - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dipercaya menjadi tuan rumah forum internasional kerja sama energi terbarukan. Kegiatan yang mempertemukan delegasi dari Indonesia, Madagaskar, Nepal, Kenya, dan Jerman ini digelar di Hotel Prime Park Mataram, Selasa (19/5).
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Pemerintah Republik Federal Jerman dan GIZ, Kementerian Luar Negeri RI, Bappenas, akademisi, serta pelaku industri energi terbarukan.
Forum kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular tersebut membahas penguatan kolaborasi transisi energi bersih yang berkeadilan. Khususnya bagi negara-negara berkembang dan wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan akses energi dan perubahan iklim.
Baca Juga: Menuju Kemandirian Energi Terbarukan di NTB, Investasi EBT NTB Terkendala Bahan Baku dan Pasar
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB Ahsanul Khalik menyampaikan apresiasi atas dipilihnya NTB sebagai tuan rumah penyelenggaraan forum internasional tersebut.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTB dan seluruh masyarakat NTB, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi di Pulau Lombok, daerah yang terus tumbuh menjadi wilayah yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Aka, sapaan akrab Ahsanul Khalik.
Dalam sambutan yang dibacakan Aka, Gubernur Miq Iqbal menegaskan, di tengah tantangan perubahan iklim, ketahanan energi, dan tekanan ekonomi dunia yang semakin kompleks, transisi energi bersih menjadi kebutuhan global.
Baca Juga: PLN Resmikan Rumah Adat Gonggor di Manggarai: Komitmen Pelestarian Budaya dan Energi Terbarukan
Namun demikian, transisi menuju energi bersih tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan teknologi dan investasi semata. Tetapi harus memastikan masyarakat kecil, wilayah terpencil, dan kelompok rentan tetap mendapatkan akses energi yang adil dan merata.
“Transisi energi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan bersama. Namun prosesnya harus dijalankan secara adil dan inklusif agar tidak meninggalkan masyarakat kecil maupun kawasan terpencil,” katanya.
Aka menjelaskan, Provinsi NTB memiliki potensi energi baru terbarukan yang besar. Mulai dari energi surya, panas bumi, bioenergi, mikrohidro, hingga energi kelautan.
Baca Juga: FT Unram Perkuat Energi Terbarukan, Teken Tiga Kerja Sama Strategis dengan Vena Energy
“Tingginya intensitas sinar matahari sepanjang tahun dinilai menjadi peluang besar bagi NTB untuk berkembang sebagai salah satu pusat energi surya di Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, kondisi geografis NTB yang terdiri atas banyak wilayah kepulauan dan kawasan terpencil menjadikan pengembangan energi berbasis komunitas, termasuk renewable energy minigrids, sangat relevan untuk memperluas akses energi masyarakat.
“Kami percaya energi bukan hanya soal listrik dan infrastruktur. Tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup, pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, dan masa depan generasi mendatang,” katanya.
Pemerintah Provinsi NTB berharap forum kerja sama internasional tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat solidaritas antarnegara berkembang dalam menghadapi tantangan geopolitik global, krisis energi, dan perubahan iklim yang dampaknya dirasakan lintas negara.
Kolaborasi antar negara tidak cukup hanya berbasis kepentingan ekonomi. Tetapi juga harus dibangun melalui transfer pengetahuan, penguatan kapasitas, pengembangan teknologi hijau, dan keberpihakan pada pembangunan berkelanjutan.
“Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi sendirian. Dibutuhkan kemitraan global yang dibangun atas dasar kolaborasi dan saling menguatkan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTB, lanjut Aka sangat terbuka untuk memperluas kerja sama internasional dalam pengembangan energi terbarukan, investasi hijau, teknologi ramah lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis energi bersih.
“NTB ingin menjadi bagian penting dalam peta pengembangan energi bersih kawasan Asia dan negara berkembang,” tegasnya.
Melalui forum internasional tersebut, Pemprov NTB berharap lahir langkah konkret, penguatan jejaring internasional, serta inovasi yang mampu mempercepat pengembangan energi bersih yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Super Grid Listrik Berbasis EBT
Sebelumnya, Pemprov NTB melakukan kajian bersama untuk mendukung kemitraan tiga provinsi, yakni Bali, NTB, dan NTT, khususnya dalam pengembangan jaringan listrik terintegrasi (super grid listrik). Kegiatan tersebut sebagai tindaklanjut Kerja Sama Regional Bali–Nusa Tenggara Barat–Nusa Tenggara Timur (KR BNN).
Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Niken Arumdati mengatakan, super grid itu nanti akan ada jaringan listrik yang menghubungkan Provinsi NTB sampai dengan Bali.
Menurut Niken, NTB memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar dan terus dikembangkan. Mulai dari tenaga surya, angin, air, hingga panas bumi. Hal ini bisa menjadikan NTB sebagai produsen listrik hijau.
“Kontribusi energi baru terbarukan (EBT) di NTB baru mencapai sekitar 25 persen. Sisanya masih didominasi energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas,” katanya.
Dari sisi potensi, NTB memiliki kapasitas energi terbarukan yang terus berkembang. Untuk pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung jaringan (on grid), kapasitas terpasang mencapai 21,6 megawatt.
Sementara pembangkit listrik tenaga air skala mikro dan mini mencapai 18,5 megawatt. Di luar itu, terdapat kapasitas tambahan 26,8 megawatt yang dibangun secara off grid oleh sektor industri.
Di samping itu, NTB juga mulai mengembangkan potensi panas bumi di wilayah Hu’u, Kabupaten Dompu dengan estimasi kapasitas mencapai 65 megawatt. Izin pengembangan telah diperoleh sejak Maret 2025.
Ke depan, Pemprov NTB menargetkan percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan dapat mendorong kemandirian energi daerah. Sekaligus memperkuat posisi NTB sebagai pusat energi hijau di kawasan Indonesia tengah. (lil/diskominfotikntb)
Editor : Redaksi Lombok Post Online