LombokPost - RSUD NTB dipastikan telah melunasi seluruh kewajiban utang yang sebelumnya, mencapai puluhan miliar rupiah. “Alhamdulillah wa syukurillah, utang RSUD sudah lunas, kita patut mengucapkan syukur,” kata Wakil Direktur (Wadir) Perencanaan dan Keuangan RSUD NTB Baiq Nelly Kusumawati, Rabu (20/5).
Manajemen RSUD NTB kini mulai memperketat perencanaan keuangan dan melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk penataan aset dan optimalisasi sumber pendapatan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Perencanaan keuangan ke depan harus dilakukan secara lebih selektif dengan mempertimbangkan potensi riil pendapatan rumah sakit.
“Tentunya perencanaan keuangan di sini harus selektif, harus benar-benar melihat potensi pendapatan rumah sakit apakah akan bertambah,” kata dia.
Baca Juga: Utang RSUD NTB Lunas, Jaspel Pegawai Berpotensi Naik Lagi
Untuk mewujudkan hal tersebut, jajaran manajemen baru mulai melakukan pemetaan (mapping) total secara ketat. Nelly menjelaskan, pihaknya menggelar forum diskusi khusus (desk) bersama seluruh wadir RSUD NTB, beserta jajarannya untuk mempresentasikan rencana program kerja masing-masing secara transparan.
“Kami melakukan desk dengan masing-masing wakil direktur beserta jajaran untuk mempresentasikan perencanaan, mulai dari mapping sekarang dan apa yang akan diakukan kedepan,” terang mantan Inspektur Inspektorat Kota Mataram tersebut.
Dari hasil evaluasi tersebut, RSUD NTB berkomitmen untuk memperketat ketaatan terhadap Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA).
Penyesuaian RBA kini tidak lagi di atas kertas, melainkan mengacu pada kebutuhan riil di lapangan. Manajemen, dipimpin langsung oleh Direktur RSUD NTB Asrul Sani, turun langsung memantau setiap wilayah yang menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing.
Di sektor perencanaan dan keuangan sendiri, Nelly bergerak cepat dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Aset. Satgas ini mengemban tugas dan tanggung jawab, untuk melakukan pelacakan (tracking) dan pendataan menyeluruh di atas lahan RSUD NTB yang luasnya mencapai 7 hektare.
Targetnya, setiap ruangan akan memiliki Kartu Inventaris Ruangan (KIR) yang akurat. Langkah ini dilakukan secara lintas sektoral (cross-cutting) bersama Wadir Umum dan Operasional.
Petugas menyisir seluruh ruangan untuk memetakan kondisi aset, mulai dari yang mengalami rusak sedang, rusak parah, hingga aset yang tidak terpakai (idle).
“Data-data tersebut kita gunakan untuk membuat perencanaan yang akurat, berapa yang harus kita butuhkan lagi untuk yang baru karena yang lama sudah rusak parah,” jelas dia.
Dari hasil pemetaan tersebut, RSUD NTB juga menyiapkan mekanisme penghapusan aset yang sudah tidak layak digunakan. Aset yang dihapus tidak sepenuhnya menjadi beban, karena sebagian masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber pendapatan.
“Tentunya dari penghapusan tersebut kita akan mendapatkan lagi hasil dari aset itu, misalnya banyak yang rusak dari bahan besi, itu bisa kita kilokan seperti itu,” ungkapnya.
Selain menertibkan barang inventaris, RSUD NTB saat ini tengah menurunkan tim penilai (appraisal) untuk menghitung nilai seluruh lahan yang dimiliki.
Optimalisasi lahan ini diharapkan mampu melahirkan diversifikasi pendapatan bagi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD NTB. Nelly menegaskan, fokus utama rumah sakit memang tetap pada bisnis inti (core business) pelayanan kesehatan.
Namun, Nelly juga menekankan adanya peluang besar dari pemanfaatan aset non-medis, seperti penyewaan ruang, pengembangan food court, hingga fasilitas olahraga yang dapat digunakan baik oleh internal maupun masyarakat umum.
“Potensi itu banyak sekali. Kita bisa sewakan minimal untuk internal rumah sakit atau juga dari luar,” ujarnya.
Dengan segala terobosan, inovasi, dan kerja keras kolektif ini, manajemen baru RSUD NTB optimistis keuangan rumah sakit akan menjadi jauh lebih sehat, tertib administrasi, dan bebas dari sisa beban anggaran di tahun-tahun politik atau tahun anggaran berikutnya.
“Insya Allah mudah-mudahan tahun depan tidak akan lagi ada terjadi utang yang akan membebani meluncur ke tahun berikutnya,” jelas dia.
Ia yakin manajemen baru, dengan berbagai inovasi dan kerja keras akan mampu mewujudkan pengelolaan keuangan yang baik dan tertib administrasi, sehingga tidak lagi menimbulkan beban bagi RSUD NTB.
“Kita berharap mudah-mudahan, ini akan kita bisa mewujudkan rumah sakit yang sehat, mandiri yang surplus,” tandasnya.
Baca Juga: Utang Lunas, RSUP NTB Bangkit Benahi Tata Kelola dan Pelayanan
Sebelumnya, Kepala BKAD NTB Nursalim mengatakan tata kelola keuangan rumah sakit, harus dijalankan lebih disiplin mulai dari tahap perencanaan hingga pelaporan. “Tata kelola keuangannya harus lebih disiplin. Disiplin perencanaannya, kemudian penatausahaannya, sampai kepada pelaporannya,” tegas dia.
Editor : Akbar Sirinawa