LombokPost - Lima jemaah haji asal Embarkasi Lombok (LOP), NTB, meninggal dunia, di Arab Saudi.
“Jemaah yang wafat mayoritas berstatus lanjut usia (lansia),” tegas Ketua Tim Kerja 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram Ferry Wardhana, Jumat (29/5).
Rinciannya, seorang perempuan berusia 87 tahun meninggal dunia akibat radang paru-paru. Penyakit serupa juga merenggut nyawa seorang perempuan berusia 57 tahun.
Baca Juga: BIZAM Sukses Berangkatkan 5.862 Jemaah Haji Embarkasi Lombok, Catat Rekor OTP 100 Persen
Sementara seorang jemaah laki-laki usia 71 tahun meninggal akibat serangan jantung. Kemudian perempuan usia 71 tahun meninggal karena radang paru-paru disertai kanker, serta seorang laki-laki berusia 80 tahun yang mengembuskan napas terakhirnya akibat serangan jantung.
Ferry mengungkapkan faktor usia dan penyakit bawaan menjadi pemicu utama. Kondisi kesehatan jemaah lansia semakin rentan, karena tingginya aktivitas fisik dan padatnya kerumunan jemaah dari seluruh dunia.
Situasi tersebut membuat penularan penyakit saluran pernapasan menjadi lebih mudah terjadi.
Jemaah yang awalnya hanya mengalami batuk pilek biasa, kondisinya bisa cepat memburuk hingga menjadi radang paru-paru, karena faktor daya tahan tubuh yang rendah.
“Awalnya batuk pilek biasa, lalu muncul radang paru-paru karena daya tahan tubuh jemaah sudah tidak bagus akibat usia lanjut dan penyakit bawaan dari Indonesia,” beber sang dokter.
Cuaca ekstrem di Arab Saudi, juga menjadi faktor yang memperberat kondisi kesehatan jemaah. Suhu saat ini berkisar antara 40-44 derajat celsius, sangat berbahaya bagi jemaah lanjut usia.
Baca Juga: Ibadah Haji dan Makna Kurban, Hakikat Kurban Bukan Hanya Menyembelih Hewan
Menurutnya, kelelahan juga kerap dialami jemaah yang mengikuti Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
Karena aktivitas ibadah biasanya dipadatkan, menjelang Armuzna sehingga kondisi fisik jemaah menjadi menurun.
Ferry juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh tim medis di lapangan. Sejak dua tahun terakhir, kebijakan efisiensi membuat satu kloter yang berisi sekitar 280 lebih jemaah, hanya dikawal oleh satu orang dokter dan satu orang perawat.
“Menurut saya tidak sebanding. Bayangkan kalau dokter sedang tugas merujuk pasien ke rumah sakit, itu kan prosesnya lama jadi otomatis di kloter tidak ada dokter,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai proses istitaah kesehatan atau kelayakan kesehatan jemaah perlu diperketat.
“Ke depan memang harus lebih selektif lagi untuk jamaah lansia, terutama yang punya riwayat penyakit jantung dan paru-paru,” tegasnya.
Baca Juga: Sapi 952 Kilogram di Labuhan Haji Lombok Timur Terpilih untuk Kurban Presiden
Agar kondisi kesehatan jemaah tetap prima, Ferry mengimbau para jemaah tidak memaksakan diri memperbanyak aktivitas ibadah menjelang kepulangan ke Indonesia.
Menurutnya, jemaah perlu menjaga stamina agar tetap prima, perjalanan pulang akan berlangsung panjang dan melelahkan. “Jangan dikebut lagi ibadahnya,” ujarnya.
Ia juga meminta jemaah yang mengalami gangguan kesehatan, agar segera memeriksakan diri kepada tenaga medis.
Selain itu, jemaah disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan seperti berbelanja maupun berjalan-jalan. “Cuaca di sana masih sangat panas,” kata dia.
Ferry turut mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan memperbanyak konsumsi buah. Juga beristirahat cukup, serta rutin mengkonsumsi obat bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit.
Baca Juga: Muhsinin Berangkatkan Jamaah Haji Khusus Perdana dengan Fasilitas VIP dan Direct Flight
Kepala Kanwil Kemenhaj NTB Muhamad Amin memastikan, kelima jemaah yang wafat di Tanah Suci akan memperoleh hak berupa asuransi.
“Untuk nilai santunannya, perhitungan akan dilakukan setelah seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Editor : Akbar Sirinawa