Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kasus Cacing Hati Masih Muncul pada Hewan Kurban di NTB, Ini Penjelasan Disnakkeswan

Yuyun Kutari • Selasa, 2 Juni 2026 | 21:05 WIB
Seekor sapi tampak menunggu giliran, untuk disembelih sebelum dagingnya didistribusikan kepada masyarakat, di momen perayaan Iduladha 1477 Hijriah, belum lama ini. (IVAN/LOMBOK POST)
Seekor sapi tampak menunggu giliran, untuk disembelih sebelum dagingnya didistribusikan kepada masyarakat, di momen perayaan Iduladha 1477 Hijriah, belum lama ini. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB mencatat data sementara, lebih dari 20 ribu ekor hewan ternak, baik sapi maupun kambing, disembelih di seluruh wilayah Bumi Gora, selama momen Iduladha 1447 Hijriah. “Kita masih rekap jumlah seluruhnya,” kata Kepala Disnakeswan NTB Muhamad Riadi.

Namun, di tengah masifnya pemotongan hewan kurban tersebut, tim pemeriksaan kesehatan hewan Disnakeswan NTB menemukan puluhan sapi dan kambing yang terjangkit penyakit cacing hati (Fasciola hepatica).

Temuan ini diperoleh, setelah petugas melakukan pemeriksaan intensif langsung di lokasi pemotongan. Disnakeswan NTB sebelumnya telah mengumpulkan dan memberikan pembekalan (briefing) khusus kepada tim pemantau, termasuk para mahasiswa kedokteran hewan yang diperbantukan.

Baca Juga: Jaga Status Bebas LSD, NTB Tolak Sapi Balik dari Jawa

Tim dibekali pemahaman mendalam mengenai karakteristik, dan visualisasi organ hati yang terinfeksi cacing agar bisa langsung mengambil tindakan cepat saat proses pemotongan dilakukan.

“Cacing hati ini jelas petugas yang menemukan, jadinya sebelum tim pemantauan kurban turun-turun, kita brief mereka, kumpulkan, kita jelaskan,” jelas Riadi.

Ia mengungkapkan kasus cacing hati ini, ditemukan terjadi hampir merata di seluruh kabupaten dan kota di NTB.

Riadi mengakui, kondisi ini tidak terlepas dari NTB yang hingga saat ini masih berstatus sebagai daerah endemik untuk penyakit cacing hati pada hewan ternak.

Fenomena serupa juga terus berulang, sebagaimana hasil pemantauan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Saya nggak bisa mengatakan daerah mana paling banyak, tapi ini merata di seluruh kabupaten dan kota di NTB, temuannya cacing hati yang sama seperti tahun lalu juga,” bebernya. 

Meski demikian, Riadi meminta masyarakat untuk tidak panik maupun khawatir secara berlebihan. Seluruh organ hati yang terindikasi mengandung cacing, langsung disita oleh petugas di lokasi untuk dibuang dan dimusnahkan agar tidak dibagikan kepada warga.

Sementara itu, untuk bagian daging dan organ lain yang bebas dari infeksi cacing dipastikan tetap aman, sehat, dan sangat layak untuk dikonsumsi.

“Begitu ditemukan, langsung diambil sama petugas, nggak boleh dimakan hatinya, tapi dagingnya masih boleh dikonsumsi,” jelasnya.

Baca Juga: Disnakeswan Lombok Timur Temukan Cacing Hati pada Hewan Kurban

Adanya temuan ini, ia menekankan betapa pentingnya kehadiran dokter hewan maupun petugas paramedis di setiap Rumah Pemotongan Hewan (RPH), dan titik pemotongan massal guna menjamin aspek higienitas daging yang beredar di masyarakat.

Penyakit cacing hati ini sama sekali tidak memperlihatkan gejala atau kelainan pada fisik luar ternak, sehingga sapi maupun kambing yang sakit akan tetap terlihat sehat bugar secara kasat mata. 

Keterbatasan ini membuat panitia kurban di tingkat pengurus masjid atau lingkungan, sering kali kecolongan karena tidak memiliki keahlian teknis untuk mendeteksinya.

Riadi menceritakan pengalaman di lapangan saat petugas harus membedah organ hati terlebih dahulu, dan memberikan edukasi langsung, baru kemudian panitia kurban memahami bahayanya dan bersedia membuang bagian yang terinfeksi tersebut.

Jika tidak ada petugas, dikhawatirkan panitia yang telanjur abai akan langsung membagikan atau mengolahnya menjadi konsumsi warga.

“Panitia kurban kan belum mengerti apa itu cacing hati, Nah, saat dibedah hatinya, ditunjukkan oleh petugas, ‘Nah, ini nggak boleh dimakan. Ini kena cacing hati.’ baru mereka yakin,” ujar Riadi.

Mengenai aspek pencegahan, Riadi menggarisbawahi kunci utama untuk memutus rantai penularan penyakit ini, terletak pada pemeliharaan sanitasi dan kebersihan kandang oleh para peternak.

Bahkan pemberian obat cacing secara rutin kepada ternak, tidak akan memberikan dampak yang optimal, apabila kebersihan lingkungan kandangnya diabaikan, sebab potensi infeksi ulang akan tetap terbuka lebar. 

“Kalau kandangnya bersih, tidak terinfeksilah sama cacing. Walaupun diobatin, rajin dikasih obat, tapi kalau kandangnya nggak bersih, tetap aja akan potensi terinfeksi,” terang Riadi.

Baca Juga: Temuan Cacing Hati dan Scabies pada Daging Kurban, Mayoritas Daging Kurban Aman Dikonsumsi

Saat ini, pihak Disnakeswan NTB masih melakukan rekapitulasi dan menunggu pengiriman data komprehensi, mengenai temuan penyakit ternak dari seluruh dinas kabupaten dan kota.

Riadi menambahkan seluruh data yang terkumpul, nantinya akan dijadikan dokumen evaluasi bersama antara Pemprov NTB dengan pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota. “Ini untuk meminimalisir kondisi serupa pada tahun depan,” tandasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#Rumah Pemotongan Hewan (RPH) #cacing hati #sapi #hewan kurban #peternak