LombokPost - Komisi III DPRD NTB menyarankan PT Gerbang NTB Emas (GNE) untuk sementara waktu, tidak melakukan diversifikasi usaha dan lebih fokus membenahi bisnis inti perusahaan di sektor jasa beton.
Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmadi menegaskan, langkah ekspansi ke bidang usaha baru belum menjadi prioritas bagi PT GNE yang saat ini masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR).
Terutama terkait penguatan kinerja perusahaan dan penyelesaian beban utang yang masih cukup besar. “Saya sarankan untuk sementara tidak diversifikasi dulu. Benahi dulu, concern dulu terhadap usaha yang sudah dikuasai, yang menjadi core business perusahaan, yaitu jasa beton," jelasnya.
Baca Juga: DPRD Dorong PT GNE Berbenah di Bawah Direksi dan Komisaris Baru
Ia menilai manajemen baru PT GNE perlu memusatkan perhatian pada konsolidasi internal, dan penguatan sektor usaha yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan.
Diversifikasi usaha baru sebaiknya dilakukan setelah kondisi perusahaan benar-benar stabil dan sehat. “Jadi sementara konsolidasi dulu, fokus, kemudian naikkan leverage usaha mereka ini, kapasitas produksi beton,” katanya.
Politisi PKS ini juga menjelaskan, saat ini PT GNE justru memiliki peluang pasar yang cukup besar pada sektor produksi beton, khususnya paving block.
Ia memperkirakan permintaan akan meningkat signifikan pada paruh kedua tahun ini seiring dimulainya berbagai proyek pembangunan pemerintah.
“Kita ingat, permintaan terhadap paving block itu tinggi sekali atau meningkat karena proyek-proyek pemerintah biasanya dilaksanakan mulai pertengahan tahun sampai akhir tahun," ujarnya.
Menurut dia, ketika proyek-proyek pembangunan mulai berjalan secara bersamaan, kebutuhan material konstruksi akan melonjak tajam. Kondisi tersebut sering menyebabkan pasokan terbatas sehingga kontraktor harus berebut material di pasaran.
“Kalau sudah bersamaan semua proyek ini turun, kontraktor-kontraktor pada rebutan. Itu yang kemudian bisa membuat harga paving block naik karena permintaannya memuncak,” katanya.
Baca Juga: Benahi PT GNE, Percepat Pembentukan PT NTB Capital, Tumbuhkan Usaha dan Peningkatan PAD
Karena itu, Sambirang menilai PT GNE harus memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan kapasitas produksi dibanding membuka lini usaha baru yang berpotensi mengalihkan fokus perusahaan.
Ia menegaskan, sebagai badan usaha milik daerah (BUMD), PT GNE tidak hanya dituntut mencari keuntungan, tetapi juga memiliki fungsi menjaga stabilitas harga material konstruksi di daerah.
“PT GNE sebagai instrumen BUMD pemerintah harus berfungsi menjaga stabilitas harga. Supaya masyarakat juga tidak terbebani dengan harga yang akan naik ketika proyek-proyek pembangunan meningkat,” tegasnya.
Untuk mendukung peran tersebut, Sambirang mendorong perusahaan meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memenuhi kebutuhan proyek pemerintah di tingkat provinsi, kabupaten, maupun kota.
Selain peningkatan produksi, Komisi III DPRD NTB juga mendorong PT GNE segera mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI), untuk produk-produk beton yang dihasilkan.
Sertifikasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar.
"Paving block mereka bagus, kualitasnya bagus. Jadi mereka harus segera SNI. Produk-produk beton lainnya juga harus SNI," kata pria asal Sumbawa tersebut.
Baca Juga: Pemprov NTB Fokus Revitalisasi dan Restrukturisasi BUMD
Standar mutu nasional akan menjadi modal penting bagi PT GNE untuk memperkuat posisi di pasar konstruksi tanpa harus tergesa-gesa melakukan ekspansi usaha ke sektor lain.
“Leverage-nya harus standar nasional supaya perusahaan-perusahaan bonafide tetap melirik mereka. Kalau tidak SNI, tentu akan menjadi kendala,” pungkasnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menekankan pentingnya belajar dari kesalahan masa lalu dan menjadikannya sebagai pijakan untuk membangun perusahaan ke depan.
“Dalam pikiran saya hanya satu, bagaimana PT GNE bisa berjalan kembali dan melakukan bisnisnya secara normal,” ujarnya.
Menurutnya, tidak ada bisnis yang bisa berkembang tanpa fokus. Ia mencontohkan sejumlah perusahaan besar yang bangkit setelah melakukan re-engineering dan kembali pada core business mereka.
Editor : Akbar Sirinawa