Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kerap Diobrak-Abrik Monyet, Pendaki Rinjani Diminta Tidak Meninggalkan Tenda Tanpa Pengawasan

Yuyun Kutari • Rabu, 24 Juni 2026 | 22:26 WIB
Pendakian Rinjani dengan peralatan lengkap. (IST/LOMBOK POST)
Pendakian Rinjani dengan peralatan lengkap. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kembali mengingatkan para pendaki untuk tidak meninggalkan tenda tanpa pengawasan saat melakukan summit attack menuju puncak Gunung Rinjani.

Pasalnya, tenda yang ditinggalkan di kawasan Plawangan Sembalun masih kerap menjadi sasaran monyet liar.

Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan mengatakan, kondisi tersebut masih sering terjadi di jalur pendakian Rinjani.

Monyet liar yang mencari makanan kerap masuk ke area perkemahan dan mengobrak-abrik tenda yang ditinggalkan pendaki.

“Kondisi seperti ini masih sering terjadi di Plawangan Sembalun. Tenda yang ditinggalkan tanpa pengawasan saat pemiliknya melakukan summit attack kerap menjadi sasaran monyet liar,” ujarnya.

Baca Juga: Pendakian Tektok Rinjani Tak Bisa Sembarangan, Ini Alur dan Syaratnya

Akibatnya, tidak sedikit tenda yang mengalami kerusakan. Selain itu, perlengkapan pendaki menjadi berantakan dan sampah maupun sisa makanan berpotensi berserakan di kawasan taman nasional.

Menurut Budhy, perilaku monyet yang semakin berani mendekati area perkemahan tidak terlepas dari kebiasaan satwa tersebut memperoleh makanan dari manusia.

Kondisi ini dinilai tidak hanya merugikan pendaki, tetapi juga berdampak terhadap perubahan perilaku alami satwa liar di habitatnya.

“Perilaku monyet yang semakin berani merupakan dampak dari kebiasaan satwa memperoleh makanan dari manusia. Hal ini tidak hanya merugikan pendaki, tetapi juga mengubah perilaku alami satwa liar,” katanya.

Baca Juga: Balai TNGR Siapkan Aturan Baru, Guide dan Porter Rinjani Wajib Punya Kartu Pass Mulai 2027

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, Balai TNGR menyarankan pendaki yang tidak menggunakan jasa porter atau pemandu agar menyisakan setidaknya satu orang di area perkemahan saat anggota tim lainnya melakukan pendakian ke puncak.

“Bagi pendaki yang tidak menggunakan porter atau pemandu, disarankan untuk menyisakan minimal satu orang di area perkemahan guna menjaga tenda dan barang bawaan selama anggota tim lainnya melakukan pendakian ke puncak,” jelas Budhy.

Ia menegaskan, langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah kerusakan tenda, kehilangan barang, maupun gangguan dari satwa liar selama aktivitas pendakian berlangsung.

Selain itu, pihaknya mengajak seluruh pendaki untuk menerapkan prinsip pendakian yang bertanggung jawab dengan tidak meninggalkan makanan di dalam tenda, menyimpan barang yang berbau makanan dengan aman, tidak memberi makan satwa liar, membawa kembali seluruh sampah yang dihasilkan, serta menjaga keamanan tenda dan perlengkapan selama berada di kawasan pendakian.

Baca Juga: Pesona Kedai Sawah Sembalun, Spot Agrowisata yang Fotogenik di Kaki Rinjani

Budhy menekankan bahwa kawasan Gunung Rinjani bukan hanya destinasi wisata alam bagi para pendaki, tetapi juga habitat berbagai satwa liar yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya.

“Bijak mendaki, bijak menjaga. Karena Rinjani bukan hanya milik kita untuk dinikmati, tetapi juga rumah bagi satwa liar yang harus kita hormati,” pungkasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#pendaki #Jalur pendakian #rinjani #satwa liar #monyet