LombokPost-Merosotnya prestasi Kafilah NTB pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional, dalam beberapa tahun terakhir memicu sorotan tajam dari publik.
Ketua Harian Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) NTB TGH Sabarudin Ar, secara objektif mengakui adanya penurunan peringkat dalam beberapa penyelenggaraan MTQ Nasional terakhir, di mana posisi NTB yang sempat berada di peringkat lima pada 2020 melorot ke peringkat 10 pada 2025.
“Kami harus mengakui itu, bila ditarik sejak 2007-2025, NTB pernah berada pada fase yang sangat membanggakan dengan mampu bersaing di papan atas nasional. Namun dalam beberapa penyelenggaraan terakhir terjadi penurunan peringkat yang patut menjadi bahan evaluasi bersama,” bebernya.
Baca Juga: Sumbawa Kirim Tujuh Peserta Training Center MTQ Nasional 2026
Meski demikian, ia menegaskan penurunan peringkat tidak bisa langsung disimpulkan sebagai menurunnya kualitas qari dan qariah NTB.
Menurutnya, prestasi merupakan hasil akhir dari sebuah proses panjang sehingga yang perlu dibenahi, adalah sistem pembinaan yang menjadi fondasi lahirnya prestasi tersebut.
“Yang lebih penting adalah membaca akar persoalannya secara ilmiah. Prestasi merupakan output, sedangkan kualitas pembinaan adalah input dan prosesnya,” kata dia.
Ia menjelaskan, ketika sistem pembinaan belum sepenuhnya berjalan secara berkelanjutan, fluktuasi prestasi menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Karena itu, kepengurusan LPTQ NTB yang dilantik pada Februari 2026, memilih memulai langkah pembenahan dengan memperkuat sistem, bukan mencari pihak yang harus disalahkan atas capaian sebelumnya.
Sabarudin memandang, prestasi di tingkat nasional tidak mungkin dibangun, hanya melalui persiapan dalam hitungan bulan.
Dibutuhkan investasi pembinaan yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun agar mampu melahirkan qari dan qariah yang memiliki kualitas serta daya saing tinggi.
“Semuanya dimulai dari investasi pembinaan yang dilakukan secara konsisten, selama bertahun-tahun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sabarudin Ar menilai NTB sebenarnya memiliki modal yang sangat besar, dalam melahirkan generasi qurani.
Baca Juga: Menyelamatkan Marwah MTQ NTB
Keberadaan ribuan pondok pesantren, madrasah, rumah tahfiz, taman pendidikan Alquran (TPQ), majelis taklim, hingga tradisi membaca Alquran yang kuat menjadi potensi yang selama ini, terus tumbuh di tengah masyarakat.
Karena itu, ia sepakat tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan bibit unggul, melainkan bagaimana potensi tersebut dibina melalui sistem yang terstruktur dan berkesinambungan.
Selama periode 2007 hingga 2025, berbagai bentuk pembinaan memang telah dilakukan oleh berbagai pihak.
Namun dalam praktiknya, intensitas pembinaan masih cenderung meningkat ketika pelaksanaan MTQ sudah semakin dekat.
Kondisi tersebut, menurutnya, menyebabkan proses pembentukan kemampuan peserta belum berjalan optimal karena lebih banyak berorientasi pada persiapan menghadapi perlombaan dibandingkan membangun kualitas secara berkelanjutan.
“Pembinaan tidak boleh lagi berbasis kegiatan, tetapi berbasis sistem,” ujar Sabarudin.
Orientasi pembinaan ke depan tidak lagi sekadar mengejar perolehan medali atau peringkat nasional, melainkan membangun ekosistem pembinaan Alquran yang mampu melahirkan kader-kader terbaik secara terus-menerus.
Baca Juga: Sambang TPQ Dimulai, LPTQ Lombok Tengah Perkuat Fondasi Generasi Qurani
Sebagai bentuk perubahan tersebut, LPTQ NTB mulai menerapkan pola pembinaan sepanjang tahun, sejak kepengurusan baru mulai bekerja pada Februari 2026.
Salah satu kebijakan yang langsung dijalankan, memulai pembinaan terhadap para Juara I MTQ XXXI Tingkat Provinsi NTB sejak 5 Juli, jauh sebelum pelaksanaan MTQ Nasional.
Program pembinaan tersebut disusun secara bertahap melalui kombinasi pelatihan tatap muka dan pembinaan daring. Tahapan pertama berupa Training Center (TC) offline berlangsung pada 5–14 Juli, dilanjutkan pembinaan online pada 18–28 Juli.
Kemudian, peserta kembali mengikuti TC offline pada 3–13 Agustus dan pembinaan daring pada 15–28 Agustus.
Menjelang keberangkatan ke MTQ Nasional di Semarang, peserta kembali mengikuti TC offline final pada 2–8 September 2026 sebelum memasuki tahap persiapan keberangkatan pada 9 September 2026.
Menuru Sabarudin, pola tersebut menjadi tonggak perubahan sistem pembinaan di NTB. Peserta tidak lagi hanya dikumpulkan menjelang keberangkatan, tetapi menjalani proses pembinaan yang berlangsung secara bertahap dengan evaluasi berkala terhadap perkembangan kemampuan masing-masing peserta.
Selain mendapatkan pembinaan secara berkesinambungan, setiap peserta juga didampingi oleh tim pelatih sesuai cabang dan golongan yang diikuti, sehingga perkembangan kemampuan dapat dipantau secara lebih terukur.
“Kami ingin membangun budaya pembinaan, bukan budaya karantina sesaat,” tegas ketua Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) NTB tersebut.
LPTQ NTB juga mulai mengarahkan pembenahan, menuju tata kelola pembinaan yang lebih profesional.
Pengalaman sejumlah daerah yang secara konsisten, berada di papan atas MTQ Nasional, menjadi salah satu referensi dalam menyusun sistem baru yang akan diterapkan di NTB.
Menurutnya, daerah-daerah tersebut umumnya memiliki database peserta yang lengkap, pelatih tetap, tim teknis permanen, sistem evaluasi yang berjalan sepanjang tahun, serta pembinaan yang dimulai sejak usia dini.
“Model tersebut justru menjadi arah pembenahan LPTQ NTB. Pengalaman daerah-daerah yang konsisten berada di papan atas menunjukkan bahwa prestasi lahir dari tata kelola yang profesional,” jelasnya.
Ia mengatakan, LPTQ NTB sedang menyusun sistem pembinaan berbasis data, membentuk tim teknis yang bekerja secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas pelatih, memetakan potensi peserta sejak usia dini, serta mengintegrasikan pembinaan secara luring dan daring agar proses pembinaan lebih efektif.
“Reformasi tata kelola merupakan prioritas utama LPTQ NTB,” tambahnya.
Sabarudin melihat, keunggulan sebuah daerah saat ini, tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki qari terbaik, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas sistem pembinaan yang dimiliki.
Di sisi lain, dirinya pun menilai keberhasilan pembinaan Alquran, tidak dapat diwujudkan hanya oleh LPTQ.
Menurutnya, sinergi yang selama ini telah terjalin antara Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten/kota, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag), pondok pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, perangkat daerah, hingga masyarakat perlu terus diperkuat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut sudah tumbuh dengan baik, tetapi masih perlu ditingkatkan menjadi kerja bersama yang lebih sistematis agar seluruh komponen bergerak dalam arah yang sama.
“LPTQ tidak mungkin bekerja sendiri. Pembinaan Al-Qur'an adalah gerakan bersama,” tegas dia.
LPTQ ke depan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai penyelenggara MTQ, tetapi menjadi simpul kolaborasi seluruh lembaga yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan Alquran di NTB.
Selain penguatan kolaborasi, aspek pendanaan juga menjadi perhatian dalam mendukung transformasi pembinaan.
Sabarudin mengakui pembinaan Alquran, merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan dukungan anggaran memadai.
Kebutuhan tersebut mencakup pembinaan sepanjang tahun, peningkatan kapasitas pelatih, digitalisasi pembinaan, monitoring dan evaluasi, hingga pengembangan bibit sejak usia dini.
Meski demikian, ia menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemprov NTB dalam mendukung kebangkitan syiar Alquran.
Menurutnya, visi pemerintah daerah yang ingin menjadikan NTB tidak hanya dikenal sebagai Provinsi Seribu Masjid, tetapi juga sebagai NTB Serambi Alquran, menjadi energi baru bagi LPTQ dalam melakukan transformasi pembinaan.
Ia mengatakan visi tersebut menempatkan Alquran, bukan sekadar sebagai identitas religius masyarakat NTB, tetapi juga sebagai fondasi pembangunan karakter, pendidikan, budaya, dan peradaban.
Baca Juga: DPD BKPRMI Lombok Tengah Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pembinaan Generasi Qurani
Sebagai bagian dari pembenahan secara menyeluruh, LPTQ NTB juga tengah menyusun Grand Design Pengembangan Alquran Provinsi NTB.
Dokumen tersebut disiapkan sebagai arah pembangunan ekosistem Alquran dalam jangka panjang, dan tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan MTQ.
Grand design tersebut akan memuat berbagai prioritas, mulai dari penguatan tata kelola organisasi, pembinaan sepanjang tahun, peningkatan kompetensi pelatih, pembentukan tim teknis permanen, digitalisasi database peserta, pemetaan bibit sejak usia dini, penguatan kerja sama dengan pondok pesantren dan lembaga pendidikan, hingga penyusunan sistem evaluasi berbasis indikator kinerja.
Sabarudin mengatakan, keberhasilan MTQ ke depan tidak semestinya hanya diukur dari posisi NTB dalam peringkat nasional.
Terpenting, sejauh mana pembinaan mampu melahirkan generasi qurani yang unggul dalam bacaan, hafalan, pemahaman, pengamalan, dan akhlak. “Kami optimistis prestasi NTB akan kembali meningkat,” ujarnya.
Ia berharap, melalui pembenahan yang dilakukan secara bertahap dengan dukungan penuh Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, Kemenag, pondok pesantren, para pelatih, dewan hakim, serta masyarakat, NTB tidak hanya mampu kembali bersaing di tingkat nasional, tetapi juga menjadi pusat lahirnya generasi Alquran yang memberikan manfaat bagi bangsa dan umat.
“Kita ingin membangun NTB, sebagai pusat lahirnya generasi Alquran yang mampu memberi manfaat bagi bangsa dan umat,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa