LombokPost - Industri hilirisasi pertambangan di Indonesia Timur kembali mencatatkan babak krusialnya.
Setelah sempat terseok akibat serangkaian kendala teknis yang cukup pelik sejak pertengahan tahun 2024 hingga awal 2025, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kini resmi menyatakan bahwa proyek raksasa smelter tembaga terintegrasi mereka di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah beroperasi penuh (full operation).
Kabar melegakan ini disampaikan langsung oleh Presiden Direktur PT AMNT, Rachmat Makkasau, dalam pemaparan komprehensifnya di hadapan forum legislatif DPR RI.
Menggunakan basis teknologi double flash technology serupa dengan yang diterapkan pada raksasa tambang PT Freeport Indonesia, smelter AMNT dirancang untuk memutus ketergantungan ekspor konsentrat mentah dan mengunci nilai tambah komoditas di dalam negeri.
"Kami beroperasi di Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Pulau Sumbawa. Operasi saat ini pada Kabupaten Sumbawa Barat. Dan saat ini eksplorasi atau rencana untuk operasi di cadangan berikutnya berada di Kabupaten Sumbawa, sekitar 60 kilometer dari existing lokasi," papar Rachmat Makkasau di awal presentasinya.
Ia menjelaskan, AMNT memegang status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang beralih sejak tahun 2017 dengan total luasan lahan konsesi mencapai 25.000 hektar.
Baca Juga: Cerita Sasambo 2026 Dibuka, AMMAN Siapkan Hadiah Ratusan Juta untuk Jurnalis NTB
"Kita anggap ini adalah sebagai suatu tambang yang terintegrasi, di mana smelternya berada pada lokasi pertambangan langsung," tambahnya.
Kronologi Hambatan Teknis: Kebocoran hingga Kebakaran Ringan
Di balik optimisme kini, jalannya proyek hilirisasi ini sempat diuji oleh dinamika commissioning (uji coba fungsi) yang sangat menantang.
Baca Juga: AMMAN Buka Beasiswa SMK Unggulan 2026, Gratis Sekolah hingga Sertifikasi Internasional
Rachmat secara terbuka mengakui bahwa fase transisi dari pembangunan menuju operasional komersial tidak berjalan mulus.
Mengalami fenomena teething problem yang jamak dijumpai pada industri berat berskala mega-proyek, operasional sempat tertahan lama.
"Terkait dengan kemajuan dan progres smelter, sama dengan yang terjadi pada PT Freeport. Jadi, kami mengalami hambatan pada saat proses commissioning. Commissioning dimulai pada bulan Juni tahun 2024, kemudian memulai dengan pemanasan dan proses yang lainnya," urai Rachmat secara transparan.
Malapetaka teknis mulai membayangi ketika memasuki fase ramping up (peningkatan kapasitas) sepanjang periode Februari hingga Agustus tahun lalu. Mesin-mesin raksasa tersebut mendadak mengalami anomali serius.
"Dalam perjalanan proses operasi atau ramping up di sekitar bulan Februari sampai dengan bulan Agustus itu terjadi banyak hambatan ya. Terjadi kebocoran pada acid cooling. Kemudian juga terjadi kebocoran yang mengakibatkan kebakaran ringan pada area flash melting furnish, itu terjadi di awal tahun 2025 sehingga menghambat produksi dan membutuhkan perbaikan yang sangat panjang pada saat itu," ungkapnya.
Kendati demikian, manajemen AMNT langsung mengerahkan tim ahli internasional untuk melakukan restorasi masif. Langkah recovery tersebut membuahkan hasil signifikan pada kuartal pertama tahun ini.
"Dapat kami laporkan pada saat ini adalah perbaikan-perbaikan yang kami lakukan mulai pada akhir tahun 2025 itu berjalan. Kemudian di bulan Februari 2026 yaitu kami memulai lagi menjalankan smelter dengan beberapa proses commissioning yang kami ulang pada saat itu," cetusnya.
Balik Arah di Juni 2026: Kapasitas Penuh Tercapai
Kerja keras tersebut terbayar memasuki pertengahan tahun ini. Grafik performa smelter berbalik arah secara dramatis. Titik balik operasional tercapai tepat pada dua bulan lalu.
"Bahwa pada sekitar bulan April 2026 kemarin operasi sudah mulai berjalan dan ramping up berjalan dengan baik, sehingga pada sekitar bulan Juni 2026 itu kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," kata Rachmat dengan nada mantap.
Walau begitu, ia memberikan catatan logis terkait pembuktian kapasitas total pabrik pemurnian tersebut secara tahunan. "Memang kapasitasnya adalah 900.000 ton. Memang belum bisa terbukti karena produksi kami belum mencapai 900.000 ton dalam rentang satu tahun. Tapi dalam beberapa minggu operasi, kapasitas maksimum atau mendekati maksimum sudah bisa dicapai. Sehingga kami confident bahwa operasi penambangan konsentrat yang dihasilkan pada tahun ini semuanya bisa diproses," urainya.
Selain itu, Amman berencana untuk memproduksi 91 dry metric (DMT) selenium; 1,91 DMT telurium, serta 572 DMT Asam Sulfat.
Meskipun laju produksi sudah berada di level full-throttle, manajemen tetap mengantisipasi pemeliharaan jangka panjang guna mengganti suku cadang strategis yang sempat tertunda selama fase perbaikan darurat sebelumnya.
"Dalam prosesnya ada beberapa pekerjaan-pekerjaan perbaikan yang masih tertunda, yang diperkirakan nanti kita akan melakukan shutdown (penghentian operasional sementara) lagi di sekitar bulan Desember atau Januari untuk melakukan penggantian beberapa peralatan yang tidak bisa kami ganti dalam empat bulan pertama. Jadi saat ini operasi sudah berjalan dengan full dan menampung seluruh produksi dari tambang," jelasnya.
Fase 8 Tambang Batu Hijau: Kejar Peningkatan "Ore" Mulai 2027
Beralih ke sektor hulu, fluktuasi volume pasokan dari Tambang Batu Hijau turut menjadi perhatian. Berdasarkan data internal perusahaan, volume produksi konsentrat tembaga sempat mencatatkan penurunan yang cukup signifikan di sepanjang tahun 2025 akibat dinamika teknis di area pit terbuka (open pit).
"Terkait dengan rencana produksi ke depan, pada tahun 2025 kalau kita bisa lihat memang produksi kami turun. Kemudian di tahun 2026 itu rencana ada peningkatan produksi sampai dengan di tahun 2027 hingga ke depannya," ungkap Rachmat.
Rachmat membeberkan alasan ilmiah di balik turunnya suplai material mentah pada tahun lalu yang sempat menekan kinerja operasional hulu.
"Proses ini terjadi adalah dikarenakan proses pengepasan pada fase 8 yang mengakibatkan dalam prosesnya itu kami lebih banyak effort untuk mengambil batu buangan (overburden/waste rock) ketimbang mengambil ore (bijih tambang berharga)," jelasnya.
Namun, kondisi tersebut diproyeksikan akan berbalik 180 derajat mulai akhir tahun ini hingga tiga tahun ke depan.
Struktur tanah penutup yang sudah terkupas bersih pada Fase 8 akan membuka keran pasokan bijih tambang dalam volume yang jauh lebih melimpah.
"Memang terdapat peningkatan produksi, ini dikarenakan mulai tahun depan kami akan lebih banyak memproses dan mengambil ore pada proses penambangan," tegasnya.
Strategi Pasar: Prioritas Mutlak untuk Kebutuhan Domestik
Menutup pemaparannya, orang nomor satu di AMNT tersebut menggarisbawahi orientasi pasar atas produk akhir hilirisasi yang dihasilkan dari bumi Sumbawa Barat.
Selaras dengan mandat pemerintah pusat untuk membangun ekosistem industri manufaktur dalam negeri termasuk menyokong industri kabel, elektronik, hingga komponen kendaraan listrik nasional AMNT memastikan pasar lokal menjadi target utama.
"Keseluruhan produk prioritas utama adalah penjualan ke domestik. Pasti saat ini hampir semua maksimal juga ke domestik," ucap Rachmat Makkasau memungkasi paparannya.
Kendati mengunci pasar lokal sebagai pilar utama penjualan, ia tidak menutup mata terhadap potensi ekspansi internasional apabila keran produksi hulu dan hilir perusahaan telah menyentuh batas kapasitas puncak (peak production).
"Namun kita lihat dalam perkembangan, pada saat semua produksi sudah maksimal, kemungkinan kita akan perlu ekspor, terutama untuk komoditas katoda tembaga," pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post Online