LombokPost-Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB mulai menyusun Grand Design Perbibitan Sapi Potong 2027–2037.
“Penyusunan dokumen tersebut melibatkan Tim Ahli Gubernur dan akademisi,” kata Kepala Disnakeswan NTB Muhamad Riadi, Senin (2/11).
Prosesnya dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari kunjungan lapangan, identifikasi potensi wilayah, pemetaan dan analisis data peternakan, hingga Focus Group Discussion (FGD).
Setidaknya ada 21 isu strategis telah diidentifikasi, sebagai dasar penyusunan arah kebijakan pengembangan peternakan sapi potong di Bumi Gora.
Baca Juga: Musim Pancaroba Ancam Kesehatan Sapi Umbaran di Sembalun, Peternak Diminta Waspada Penyakit
Selama FGD tersebut, berbagai pemangku kepentingan dilibatkan untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus merumuskan strategi penyelesaian dan arah pengembangan perbibitan sapi potong di NTB.
Pembahasan mencakup kondisi dan perkembangan populasi sapi potong, potensi kawasan perbibitan, kualitas genetik ternak, produktivitas, hingga berbagai tantangan yang dihadapi peternak di lapangan.
“Hasil FGD mengidentifikasi sedikitnya 21 isu strategis yang dikelompokkan ke dalam lima aspek utama,” jelasnya.
Kelima aspek tersebut meliputi teknis produksi dan perbibitan, kesehatan hewan dan manajemen pemeliharaan, pendataan dan tata kelola kawasan, kelembagaan dan sumber daya manusia, serta pembiayaan dan pengembangan usaha.
Dari hasil identifikasi itu, forum juga merumuskan sejumlah strategi penyelesaian. Strategi tersebut selanjutnya akan dipertajam untuk menentukan skala prioritas sebelum diterjemahkan menjadi program dan kegiatan pembangunan peternakan.
Baca Juga: Grand Design Sapi Potong NTB Petakan Masalah Pakan hingga Bibit
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian khusus adalah pengawasan pemotongan sapi betina produktif. Pengendalian diperlukan untuk menekan pemotongan indukan yang masih memiliki kemampuan reproduksi, sekaligus menjaga keberlanjutan populasi dan ketersediaan indukan berkualitas di NTB.
Selain itu, Grand Design akan mengakomodasi pengembangan sapi lokal dan sapi persilangan. Pengembangannya tetap mempertimbangkan potensi, karakteristik, serta daya dukung masing-masing wilayah agar sesuai dengan kondisi peternakan setempat.
Penguatan sistem digitalisasi dan pendataan ternak secara terintegrasi juga masuk dalam arah kebijakan. Langkah ini ditujukan untuk memastikan ketersediaan data populasi dan kondisi ternak yang akurat, mutakhir, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Riadi menyebutkan, penyusunan Grand Design Perbibitan Sapi Potong NTB 2027–2037 ditargetkan rampung pada Desember 2026. Dokumen tersebut nantinya menjadi pedoman pembangunan perbibitan sapi potong dalam jangka panjang.
Untuk memperkuat landasan hukum dan pelaksanaannya, Grand Design tersebut juga akan diperkuat melalui Peraturan Gubernur (Pergub). Dengan demikian, arah kebijakan yang telah disusun dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan program pembangunan perbibitan sapi potong di NTB.
Baca Juga: NTB Kaji Pemasukan Puluhan Embrio Beku Sapi asal Jawa Barat
Melalui dokumen tersebut, pengembangan peternakan sapi potong diharapkan lebih terarah dan terukur, terutama dalam meningkatkan kualitas genetik, produktivitas, serta populasi ternak.
“Kebijakan ini juga diarahkan untuk mendukung keberlanjutan usaha dan meningkatkan kesejahteraan peternak,” pungkasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan