Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pondok Pesantren, Tempat Belajar Pluralisme dan Multikulturalisme

Administrator • Senin, 25 Januari 2021 | 00:36 WIB
ilustrasi.
ilustrasi.
Oleh:
Hasbi Ardhani
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Lombok Barat

MENJADI fakta umum bahwa pondok pesantren menjadi institusi pendidikan, pusat dakwah dan atau bahkan menjadi pusat peradaban awal bangsa Indonesia. Perjalanan panjang yang dilalui oleh para ulama pesantren (Kiai, Tuan Guru dan sebutan lainnya) ialah menggunakan konversi disertai dengan adopsi di tengah-tengah tradisi Islam dan kebudayaan yang sudah lama mengakar di Nusantara.

Konversi dan adaptasi tradisi budaya bisa dibuktikan dengan banyak hal. Salah satunya adalah penggunaan nama di sebuah pondok pesantren yang diambil dari bahasa Sansekerta. Pesantren secara bahasa berasal dari kata pesantrian yang maknanya ialah tempat tinggal para pembelajar agama Hindu. Mengutip salah seorang Sosiolog terkemuka dunia yang konsentrasi kajiannya ke wilayah Indonesia Clifford Geertz, bahwa pesantren itu bermakna tempatnya para santri dan santri secara literal memiliki makna manusia yang baik.

Secara bahasa, kata santri bisa saja direduksi dari kata Sansekerta, shastri yang berarti seorang ilmuwan Hindu yang pandai menulis. Selain hal-hal tersebut di atas, banyak sekali penggunaan terminologi-terminologi Indonesia yang diadopsi dari tradisi masyarakat Hindu-Jawa. Lebih jauh lagi misalkan, tidak menutup kemungkinan untuk benar bahwa bahasa yang digunakan dalam pengajian kitab-kitab kuning di pesantren juga menggunakan bahasa Jawa- Kuno.

Dalam urusan seni, khususnya wayang. Misalnya pertunjukan wayang itu dengan alur ceritanya disertai dengan pemeran dan tokoh-tokohnya diambil dari kisah epos Mahabarata dan juga Ramayana dari India. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu yang pelan tapi pasti, alur dari kisah tersebut oleh para ulama (Kiai, Tuan Guru, dsb) diubah formatnya ke dalam terminologi-terminologi Arab-Islam. Penggunaan pakaian seperti sarung atau bahkan kopiah yang digunakan sehari-hari oleh para santri merupakan pakaian masyarakat Hindu. Lihatlah yang dekat dari kita, Bali atau negara lain seperti Srilanka, dengan jawaban pasti kita akan bertemu dengan orang-orang yang bersarung. Sampai dengan hari bahkan detik ini, pakaian ini dijadikan sebagai simbol terhadap keshalihan santri khususnya dan masyarakat umum pada umumnya.

Pengetahuan umum bahwa ulama-ulama pembawa dan penyebar agama Islam di Indonesia yang pertama yaitu Wali Songo, dalam upayanya menanamkan doktrin tauhid dan melakukan Islamisasi dikenal sangat toleran, berterima terhadap praktik-praktik keagamaan lokal yang telah mendarah daging dalam masyarakat setempat. Toleransi mereka terhadap budaya lokal, kepercayaan - kepercayaan yang berasal dari Hindu-Budha memberikan dampak positif yaitu Islam menjadi agama yang mudah diterima oleh masyarakat. Itu semua dikarenakan oleh pendekatan yang dilakukan dengan berbagai budaya lokal tersebut, Indonesia kemudian mampu berkembang pesat dengan status penduduk Muslik terbesar di Dunia.

Ada hal yang menurut penulis sangat menarik yakni fakta tentang romantisme hubungan Islam dengan agama-agama yang lain hidup berdampingan, bersama dengan penuh kedamaian. Itu semua bisa dilihat dari rumah-rumah ibadah yang didirikan berhadapan atau bahkan berdampingan, seperti di Lingsar Narmada Lombok, Singorojo Kendal Jateng dan seterusnya. Bahkan di Bali, ada sebuah pesantren bernama Bali Bina Insani yang memperbolehkan non-muslim menjadi guru sebagai salah satu strategi menjaga harmoni dalam keberagaman kita beragama. Contoh selanjutnya yaitu Arjawinangun, Masjid Jami’ dan pondok pesantren yang didirikan oleh KH Abdullah Syatori, yang dibangun berdekatan dengan dua rumah ibadah non-muslim yaitu vihara dan gereja.

Dua pondok pesantren yang saya jadikan contoh di atas memiliki semangat yang sama dalam rangka menjaga keharmonisan dalam keberagaman dan hubungan antar umat beragama. Hubungan romantis yang terbangun dengan para pemeluk agama non-muslim harus tetap dirawat dengan baik, berterima, saling menghargai dan saling membantu sehingga perusak hubungan romantis atau orang ketiga tidak ada ruang untuk memperkeruh.

Praktik-praktik toleransi menjadi sebuah perilaku yang mampu menciptakan sikap menjaga kearifan lokal, atau menghasilkan sebuah pemikiran yang open minded, inklusif, dan menghargai perbedaan. Dalam konteks Indonesia, hal itu penting untuk diwujudkan. Negara kita Indonesia bukan saja multietnik dan agama, tetapi juga multicultural. Kemajemukan itu harus mampu kita kelola dengan mengembangkan sikap toleransi kepada siapapun.

Sikap dan juga pandangan Alquran tentang pluralisme dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW., dan menjadi prinsip untuk hidup bersama dalam berbangsa dan bernegara. Madinah dengan realitasnya dipenuhi masyarakat yang plural, mulai dari suku sampai keyakinan agama. Pada waktu itu ada tiga agama yaitu Muslimin, Musyrikin dan Yahudi dengan berbagai macam kaumnya masing-masing. Di tengah kemajemukan masyarakat tersebut, Nabi Muhammad SAW., membentuk sebuah sistem sosial yang komponennya diisi oleh tiga agama tersebut. Sistem inilah yang kemudian terkenal dengan shafifah madinah (Piagam Madinah) atau Constitution of Madinah. Ini yang kemudian menjadi konstitusi pertama yang ada di dunia tentang hak-hak manusia.

Demikianlah. Penulis berasumsi, di tengah rusaknya romantisme hubungan antaragama dan antarumat Islam sendiri dengan klaim kebenaran masing–masing (Truth Claim) dewasa ini. Pondok pesantren menjadi penting bahkan menjadi pemeran utama untuk mengambil peranan mendamaikan serta menjadi sentral pembelajaran toleransi antarsesama bangsa. Pondok pesantren sudah waktunya melakukan re-konstruksi diri sebagai central of learning pluralism and multiculturalism demi terwujudnya ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (Persaudaraan sesama bangsa) dan ukhuwah insaniyah (Persaudaraan sesama umat manusia). (*) Editor : Administrator
#pondok pesantren #tempat belajar #multikulturalisme #pluralisme #Opini