Afriyas Ulfah,SST
Observer dan Forcaster Iklim BMKG NTB
BEBERAPA hari yang lalu masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan tentang siklon tropis “Seroja” yang menghantam wilayah Nusa Tenggara khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Walaupun namanya siklon tropis tetapi fenomena ini memang jarang ditemukan di wilayah tropis equator salah satunya di Indonesia, tetapi bukan berarti kejadian siklon tropis tidak dapat terjadi sama sekali di Indonesia. Oleh karena frekuensinya yang jarang terjadi di Indonesia sehingga masyarakat masih sangat awam terhadap fenomena siklon tropis, dampak dan mitigasinya. Lalu sebenarnya bagaimana siklon tropis bisa terbentuk dan akhirnya bisa masuk ke wilayah tropis? Dan mengapa nama siklon tropis terdengar unik contohnya Siklon Tropis Seroja? Apa mitigasi yang harus kita lakukan jika mendapat informasi potensi siklon tropis dan dampak yang harus diketahui?
Pembentukan Siklon Tropis
Siklon tropis merupakan gangguan cuaca yang terjadi secara spontan, bukan termasuk siklus intra musiman atau tahunan seperti El Nino, La Nina, atau MJO. Siklon tropis bisa terjadi di sepanjang perairan tropis dengan koordinat tidak menentu oleh karena itu sulit memprediksi kejadian siklon tropis jika memang belum ada bibit siklon yang terjadi. Pembentukan siklon tropis dapat terjadi jika syarat-syarat atau faktor pembentukannya terpenuhi. Beberapa faktor yang dapat menimbulkan siklon tropis antara lain suhu muka laut yang hangat, adanya perairan yang luas, kondisi atmosfer yang labil, dan adanya lapisan yang relatif basah dekat dengan permukaan. Suhu Muka Laut (SML) yang cukup hangat merupakan salah satu faktor utama pembentuk siklon tropis dengan suhu lebih dari 26.5°C. Suhu yang hangat akan menyebabkan banyaknya uap air yang terbentuk sebagai bahan baku utama pembentukan siklon tropis. Mengapa? Karena siklon tropis merupakan gabungan multisel dari awan-awan Cumulonimbus (Cb) yang memang pembentuknya adalah uap air.
Faktor yang kedua adalah adanya perairan yang luas. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa “makanan” utama pembentuk siklon tropis adalah uap air sehingga perlu adanya sumber uap air yang banyak yaitu dengan adanya lautan yang cukup luas. Pada kasus Siklon Tropis Seroja, kita tahu bahwa laut selatan wilayah Nusa Tenggara merupakan laut lepas yang cukup luas terhubung dengan lautan di wilayah Barat Laut Australia sehingga sumber uap air akan sangat melimpah dengan di dukung suhu muka laut yang hangat. Faktor yang ketiga adalah kondisi atmosfer yang labil. Kelabilan atmosefer bisa dilihat dengan tutupan awan yang terbentuk di langit. Semakin banyak tutupan awan maka semakin labil suhu udara khususnya tutupan awan-awan hujan seperti Cumulusnimbus (Cb). Selain tutupan awan kelabilan atmosfer bisa kita rasakan dengan suhu udara lingkungan yang cukup rendah. Faktor terakhir adalah adanya lapisan yang relatif basah dekat dengan permukaan. Melihat lapisan basah ini bisa kita ketahui dari kondisi kelembaban udara permukaan.
Pada proses pembentukannya, siklon tropis dibagi beberapa tahap hingga terbentuk sampai matang`dan pada akhirnya punah. Tahap pertama merupakan tahap pembentukan. Pada tahap ini gangguan atmosfer sudah mulai terlihat di citra satelit berupa wilayah-wilayah dengan gambaran awan-awan konvektif . Tahap kedua merupakan tahap belum matang. Pada tahapan ini hal termudah yang terlihat adalah nilai tekanan yang berada dibawah 1000 milibar. Pada kasus siklon tropis “Seroja” tekanan udara terakhir sebelum akhirnya masuk ketahap matang atau tahap siklon adalah 996 milibar hingga akhirnya dinamai dengan Bibit Siklon 99S. Selain melihat tekanan udara kita juga bisa merasakan dengan kondisi angin. Secara umum pada tahap ini kondisi angin maksimum bisa mencapai 63 km/jam. Pada Bibit Siklon 99S angin maksimum mencapai 55 km/jam. Tahap selanjutnya adalah tahap matang ditandai dengan kondisi perawanan konvektif yang lebih teratur dan sudah terlihat mata siklon. Nama siklon diberikan pada tahap ini. Tahap matang biasanya hanya bertahan 24 jam kemudian melemah.Tahap terakhir adalah tahap punah. Tahap ini pusat siklon mulai menghilang, angin mulai melemah dan tekanan udara kembali pada normalnya. Mulai dari tahap pembentukan hingga punah secara rata-rata siklon tropis memerlukan waktu 6 sampai 7 hari hingga akhirnya menghilang.
Pemberian Nama “Yang Unik” Siklon Tropis
Pemberian nama siklon tropis berdasarkan aturan WMO (World Meteorological Organization) ditugaskan dan dikoordinir oleh 10 area atau wilayah penamaan siklon tropis antara lain wilayah Laut Karibia – Teluk Meksiko – Atlantik Utara, wilayah Pasifik Timur-Utara, wilayah Pasifik Utara-Tengah, wilayah Pasifik Utara-Barat-Laut China Selatan, TCWC Australia, TCWC Jakarta, TCWC Port Moresby, wilayah regional Spesialis Meteorologi Nadi, wilayah Samudera Hindia Utara dan wilayah Samudera Hindia Barat Daya. Dari kesepuluh wilayah tersebut masing-masing wilayah sudah memiliki daftar nama yang berurut berdasarkan alphabet mulai dari huruf ‘A’ contohnya untuk ‘Anne’, ‘B’ untuk ‘Betsy’ dan seterusnya. Menurut WMO nama manusia dianggap lebih mudah diingat daripada angka atau istilah teknis lainnya. Karena penamaan siklon tropis merupakan wewenang masing-masing wilayah penamaan, TCWC (Tropical Cyclone Warning Centre) Jakarta (mulai terbentuk 2008) sudah memiliki daftar penamaan berdasarkan nama bunga dan buah asli Indonesia. Nama buah dan bunga lebih mudah dihapalkan selain itu juga agar terkesan tidak menakutkan seperti nama Siklon Tropis pertama yang masuk ke wilayah Indonesia yaitu Siklon Tropis Durga (diambil dari nama Wayang) yang terkesan menakutkan. Beberapa daftar nama siklon tropis yang dikeluarkan oleh TCWC Jakarta yaitu Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lili, Mangga, Seroja, dan Teratai. Selain itu juga ada alternatif nama yang digunakan jika ada nama-nama yang tidak dapat digunakan lagi karena dampak yang ditimbulkan luar biasa. Nama alternatifnya antara lain Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Melati, Nangka, Pisang, Rambutan dan Sawo.
Dampak yang Ditimbulkan dan Mitigasinya
Seperti yang kita tahu, Siklon Tropis merupakan fenomena cuaca bencana hidrometeorologi yang memiliki dampak kerusakan cukup tinggi. Dampak yang ditimbulkan bisa secara langsung maupun juga secara tidak langsung. Dampak langsung yang terjadi antara lain hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi di laut, naiknya tinggi permukaan laut yang datang tiba-tiba tetapi bukan seperti Tsunami, karena Tsunami dibangkitkan oleh kejadian gempa bumi dangkal di lautan, bukan akibat siklon tropis. Dampak tidak langsung kadang kala menyebabkan cuaca cerah tanpa hujan tapi adanya angin yang cukup kencang karena awan-awan konvektif tertarik ke pusat siklin tropis. Tetapi bisa juga terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang sekitar 15-30 km/jam. Berdasarkan dampak yang jelaskan sebelumnya perlu adanya rangkaian mitigasi yang dilakukan dengan kerja sama BMKG sebagai sumber utama peringatan dini, BPBD sebagai penggerak, Pemda sebagai penghimbau dan masyarakat sebagai pelaku mitigasinya. Mitigasi bisa dilakukan dengan memulai sosialisasi pengertian tentang bencana siklon tropis, bagaimana pembentukannya dan dampak yang dihasilkan. Lalu kemudian menyiapakan lingkungan yang siap siaga dengan bencana hidrometeorologis salah satunya Siklon Tropis dengan pembentukkan kelompok siaga bencana atau semacamnya serta selanjutnya pembuatan jalur dan tempat evakuasi pada saat kejadian siklon tropis. Perlu juga dilakukan himbauan untuk penguatan struktur bangunan yang berada di wilayah rentan siklon tropis agar dampak (selain korban jiwa) bisa diminimalisir. (*) Editor : Administrator