Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Siap Sambut Musim Kemarau

Administrator • Jumat, 16 April 2021 | 21:20 WIB
ILUSTRASI. (Dok/Lombok Post)
ILUSTRASI. (Dok/Lombok Post)
Oleh:

Nindya Kirana, S.Tr

Prakirawan Iklim BMKG NTB

MUSIM hujan memang belumlah pergi dari bumi Sasak Kita tercinta. Masih kerap Kita temui dan rasakan hujan di sekitar tempat tinggal Kita. Bahkan tak jarang di beberapa wilayah, intensitas hujan terasa masih lebat hingga menimbulkan bencana berujung kerugian bagi masyarakat. Lalu sampai kapan hujan akan mengguyur bumi Sasak tercinta ini?

Sebagian masyarakat awam kerap menandai bulan April sebagai bulan masuknya musim kemarau di wilayah Indonesia. Bukan tidak tepat, namun dasar penentuan masuknya musim kemarau tidak hanya berdasar pada bulan-bulan tertentu saja, melainkan banyak faktor yang perlu diamati dan dianalisis, terlebih karakter wilayah Indonesia yang terbilang cukup unik. Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis; terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, diapit oleh Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur serta dikelilingi oleh lautan yang luas menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

Keragaman iklim di Indonesia dipengaruhi pula oleh beberapa fenomena global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD); fenomena regional seperti sirkulasi angin monsoon Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

Sementara itu, kondisi topografi wilayah Indonesia yang terdiri dari wilayah pegunungan, berlembah dan banyak pantai merupakan faktor lokal yang menambah beragamnya kondisi iklim di Indonesia baik menurut skala ruang (wilayah) dan waktu. Beberapa keunikan tersebut di atas mendasari terbaginya wilayah Indonesia menjadi beberapa Zona Musim (ZOM) yang Kemudian dijadikan dasar pembagian wilayah pola iklim. Di Indonesia, berdasarkan hasil analisis data rata-rata 30 tahun, terbagi menjadi 407 pola iklim, dimana 342 pola merupakan Zona Musim (ZOM) yang umumnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan 65 pola lainnya adalah Non Zona Musim (Non ZOM) yang sepanjang tahun curah hujannya sellau tinggi atau selalu rendah.

BMKG sebagai suatu lembaga yang bertugas dalam memberikan layanan informasi kepada instansi terkait dan masyarakat terkait iklim dan musim, telah secara berkala melakukan prakiraan musim. Prakiraan musim ini dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada musim kemrau dan musim hujan.

 Kapan Musim Kemarau di NTB?

Berdasarkan rilis prakiraan musim kemarau yang dilakukan oleh Stasiun Klimatologi Lombok Barat sebagai UPT BMKG yang berwenang menganalisis dan memonitor musim di Provinsi NTB pada awal April lalu, sebanyak 76 persen Zona Musim (ZOM) di Provinsi NTB diprakirakan akan memasuki musim kemarau mulai April hingga Mei 2021. Provinsi NTB sendiri terbagi menjadi 21 Zona Musim (ZOM).

Hasil pemantauan terhadap anomali iklim global menunjukkan kondisi La Nina diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas yang terus melemah. Sedangkan pemantauan kondisi Indian Ocean Dipole Mode (IOD) diprediksi netral hingga September 2021. Kedatangan musim kemarau umumnya berkait erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia). BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret 2021 dan setelah itu Monsun Australia akan mulai aktif.

Dari total 21 Zona Musim (ZOM) di NTB, sebanyak 76 persen diprediksi akan mengawali Musim Kemarau pada April 2021, yaitu beberapa zona musim di seluruh wilayah Pulau Sumbawa dan sebagian kecil Pulau Lombok di wilayah pesisir. Kemudian di sebagian besar wilayah Pulau Lombok akan terjadi pada bulan Mei. Puncak musim kemarau 2021 di seluruh wilayah NTB diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2021.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Kemarau pada periode 1981-2010, maka Awal Musim Kemarau 2021 di NTB diprakirakan MUNDUR pada 20 ZOM (95 persen) dan SAMA pada 1 ZOM (5 persen). Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2021 diprakirakan NORMAL atau SAMA dengan rerata klimatologisnya pada 8 ZOM (38 persen) hingga ATAS NORMAL atau lebih tinggi dibandingkan rerata klimatologisnya pada 13 ZOM (62 persen).

Puncak Musim Kemarau 2021 diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2021. Oleh karena itu, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat diharapkan untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan akan adanya dampak musim kemarau yaitu bencana kekeringan meteorologis. Bencana kekeringan meteorologis identik dengan kebakaran hutan dan lahan serta kurangnya ketersediaan air bersih. Provinsi NTB nampaknya perlu lebih memperhatikan hal tersebut mengingat sebagian besar wilayah NTB termasuk pada wilayah rawan bencana kekeringan meteorologis.

Dalam persiapan menghadapi musim kemarau yang tidak lama lagi akan datang, pemerintah daerah dan juga masyarakat pada umumnya perlu untuk melakukan kegiatan preventif seperti mengoptimalkan penyimpanan air untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya. Hal ini sebagai wujud dari gerakan memanen air hujan pada masyarakat di periode peralihan musim hujan ke musim kemarau guna mengantisipasi kerugian dari dampak hadirnya musim kemarau di tengah masyarakat. (*) Editor : Administrator
#musim kemarau #Opini