Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bang Zul dan Abah Uhel: Politik sebagai Panggilan Pengabdian

Rury Anjas Andita • Senin, 1 Juli 2024 | 08:10 WIB
Photo
Photo

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq

(Politisi PKS, Sosiolog Muda Alumni Unram)

 

POPULARITAS Abah Uhel yang moncer sepanjang karirnya salah satunya adalah karena kemampuannya mengolah praktik asketisme politik yang hidup dalam tindakannya. Sebagai aktor utama politik, ia menghadirkan renjana politik berdasarkan prinsip etik-moral dengan memproyeksikan modus operandinya sebagai lelaku pengkhidmatan untuk kemaslahatan rakyat. Abah Uhel tak menjadikan politik sebagai alat mengeruk uang demi kepentingan pribadi. Mental greedy, kemaruk kekuasaan jauh dari ambisinya di tengah godaan praktik dan hasrat politik yang dimonopoli oleh politik rendah (low politic).

Politik menurut Abah Uhel adalah jalan spiritual untuk berkhidmat dan memberi maslahat. Pikiran dan tindakannya adalah anti tesa dari “hidup dari politik” (leben von politik) di mana politik bukan sebagai panggilan (avocation) dengan memilih “hidup untuk politik” (leben fur politik): politik sebagai panggilan (vocation), tesis yang diajukan oleh Maximilian Weber, sosiolog terkemuka berkebangsaan Jerman, dalam artikelnya “Politics as Vocation” (1958).

“Hidup dari politik” (leben von politik): politik bukan panggilan (avocation) menempatkan politik selesai pada kepentingan pribadi (self interest), nir kualitas moral dengan meminggirkan nilai yang dihayati baik nilai etis, estetis, maupun religius. Dimafhumi karenanya, tanggung jawab moral, keseriusan, dan pengabdian bukan menjadi nilai utama. Sementara “hidup untuk politik” (leben fur politik): politik dimaknai sebagai panggilan (vocation) karena penekanannya adalah nilai-nilai moral-etis. Politisi sadar diri, tidak menjadikan self interest sebagai ending dari seluruh kekuasaannya, melainkan valere, nilai intrinsik etis: pengabdian, ketulusan, keseriusan, kepekaan sosial, tanggung jawab terhadap kepentingan bersama. Politisi memiliki gairah untuk menyelesaikan suatu ‘misi’ dan bergerak sepenuh hati (compassion) untuk mewujudkannya. Dan Abah Uhel telah memerlihatkan kegirangannya politik sebagai panggilan (vocation) ini.

Moral-nalar etis inilah yang diperagakan Abah Uhel. Baginya politik adalah panggung besar untuk mengabdi karena politik (kekuasaan) di tangannya mampu mengubah banyak hal. Ia  telah membuktikannya, Lombok Tengah tersulap megah. Abah Uhel terpanggil kembali keluar dari zona nyamannya sebagai rohaniawan agama. Otak dan ototnya rasanya masih kekar untuk berbuat demi NTB. Lebih-lebih namanya cukup berkibar dari berbagai survei yang dirilis oleh pelbagai lembaga survei terpercaya. Bahkan selalu bertengger di urutan kedua atau ketiga di bawah Bang Zul yang dulu menjadi teman tandingnya pada kontestasi Pilgub tahun 2018.

Popularitas dan magnet politik Abah Uhel yang masih mentereng tidak mengagetkan karena basis kultural jamaah Yatofa, Jamaah Al-Fadhiliyah yang cukup merata di berbagai daerah di NTB, ditambah basis politiknya di Lombok Tengah. Sebut saja misalnya pada Pilkada Lombok Tengah tahun 2015, ia memeroleh suara 213395 (46,34 persen) dan mendominasi perolehan suara di Lombok Tengah pada Pilgub 2018 dengan raihan 341.980 suara. Unggul jauh dari kandidat lainnya, modal suaranya pada Pilgub 2018 sebesar 637.048 yang masih ia rawat dalam safari dakwahnya dan yang tak boleh dilupakan adalah suara setia pemilih Golkar yang merupakan rumah politiknya. Abah Uhel telah membuktikan jati dirinya sebagai tokoh dengan basis massa yang kuat dan terukur.

Dengan basis kekuatan politiknya yang demikian besar, Abah Uhel memiliki pesona dan daya tawar politik tinggi, dilirik serta sangat diperhitungkan dalam bursa Pilgub NTB tahun 2024 ini. Pinangan politik silih berganti mendatanginya, tapi hatinya hanya terpaut pada Bang Zul, politisi-teknokrat yang pikiran-tindakannya sangat nyata kontribusinya untuk NTB. Ibarat kopi dan gula, hati mereka menemukan langgam yang senada untuk mendayung bersama, Bersatu untuk NTB Gemilang.

Mereka memang karib sejak lama. Sejak Bang Zul sebagai Anggota DPR dan Abah Uhel sebagai anggota parlemen NTB, Ketua DPRD NTB, dan Bupati Lombok Tengah 2 Periode. Abah Uhel ingat betul, bahwa di balik suksesnya meyakinkan Pemerintah Pusat agar Mandalika dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dan IPDN dipusatkan di Lombok Tengah, ada tangan dan pikiran Bang Zul yang ikut melakukan lobi-lobi khusus tingkat tinggi. Bang Zul memang jago. Ia licin dan lincah bergerak.

Kekariban mereka terjaga. Kontestasi politik tahun 2018 tak mengubah kelekatannya. Abah Uhel dan keluarga besar Yatofa adalah yang pertama kali disambangi Bang Zul. Dalam peringatan HUT ke-73 Kabupaten Lombok Tengah Bang Zul datang sebagai sahabat Abah Uhel, “Saya datang sebagai sahabat. Meskipun kita pernah menjadi lawan dalam kompetisi pilkada kemarin, tapi untuk kemaslahatan masyarakat kami akan duduk bersama menyamakan pemikiran untuk memberikan yang terbaik kepada daerah yang kita cintai ini," kata Zulkieflimansyah, di Lombok Tengah, Senin (15/10/2018).

Bang Zul punya kebiasaan melakukan persamuhan turun ke bawah, menyasar masyarakat kecil terpelosok, bahkan tak jarang bermalam bersama, ngobrol-ngopi mendengarkan harapan mereka. Komunikasi persuasif tanpa sekat birokratis seperti ini mengagetkan masyarakat dengan kehangatan pribadi Bang Zul yang down to earth (membumi). Mereka sudah begitu lama merindukan tipikal pemimpin seperti Bang Zul. Abah Uhel, jangan ditanya soal ini. Kapasitasnya sebagai pendakwah meniscayakan perjumpaan spiritual yang menjangkau segenap lapisan masyarakat. Bang Zul-Abah Uhel teladan soal attactment (kedekatan-kelekatan) terhadap kelompok-kelompok masyarakat bawah yang minim akses ke sumber kekuasaan, turun menyerap sendiri suara batin dan uneg-uneg, bahkan harapan mereka yang kadang tersumbat bahkan tak tahu jalan harus diarahkan ke mana.

Relasi Bang Zul dengan keluarga besar Yatofa dan Yayasan Al-Fadhiliyah yang merupakan rumah ideologis-kultural Abah Uhel bukan akhir-akhir ini terjalin. Baik dalam kapasitasnya sebagai gubernur, maupun pasca lepas tugas sebagai gubernur NTB. Kekagumannya atas kontribusi Yatofa dan Al-Fadhiliyah tidak hanya Lombok Tengah, Lombok Timur, maupun daerah lainnya, menjadikannya kerap menyerap banyak ide-ide bernas untuk pemberdayaan masyarakat, lebih-lebih untuk lembaga pendidikan Islam yang jumlahnya cukup besar NTB, di saat yang lain eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Islam tampak kembang-kempis, ngos-ngosan.

Yatofa bagi Bang Zul bisa menjadi model pengembangan bagi madrasah/pesantren yang kehadirannya dirasakan oleh masyarakat setempat. Tidak hanya sebagai inspirasi rohani, lebih dari itu telah menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, pemberdayaan ekonomi bersama masyarakat. Yatofa semakin memperkuat basis pengabdiannya dengan berdirinya Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) di Pondok Pesantren Yatofa pada tanggal 1979 yang dikhususkan untuk para jamaah dan santri Yatofa yang kini telah bermetamorfosa menjadi Rumah Sakit Islam Yatofa di bawah naungan PT Yatofa Sehat Wal Afiat.

Keakraban Bang Zul dengan Abah Uhel semakin menemukan muaranya pasca Bang Zul didaulat sebagai Ketua Dewan Pembina Yatofa yang ditawarkan langsung oleh pengasuh Ponpes Yatofa TGH Fadly Fadil Tohir saat menghadiri acara Reuni Akbar dan Halalbihalal alumni Yatofa, Sabtu, (6/5/2023). Bang Zul tak mungkin menampiknya. Di hadapan 3.000 lebih alumni Yatofa yang membanjiri acara reuni akbar dan halalbihalal itu, Bang Zul menyatakan menyatakan kesiapannya. “TGH Fadly adalah guru saya. Itu sebabnya saya menerima tawaran itu,” katanya.

Kenyamanan dus kedekatan hati dan pikiran inilah yang menjadi dalih Bang Zul untuk melamar Abah Uhel sebagai teman perjuangannya untuk Bersatu Menuju NTB Gemilang. Prosesnya gampang-gampang susah, Bang Bang Zul sibuk bermanuver ke kanan dan ke kiri, di saat yang lain Abah Uhel mondar-mondir, wara-wiri bergerak lincah membangun komunikasi politik dengan pelbagai pihak dan juga partai politik yang diincar sebagai pengusungnya. Perjalanan pencairan jodoh politik yang berkelok-kelok ini pada akhirnya berhenti pada satu titik kesepakatan: Bang Zul dan Abah Uhel akan mendayung bersama untuk terwujudnya NTB Gemilang. “Tidak ada manuver-manuver lagi. Kami Bang Zul dan Abah Uhel memiliki pikiran dan komitmen yang seirama untuk membangun NTB yang bermartabat,” pernyataan keduanya pada saat deklarasi pada hari Sabtu tanggal 08 Juni 2024. Ribuan simpatisan yang hadir saat deklarasi nampak antusias, semangat, bangga, dan terharu, atas bersatunya dua tokoh arsitektur pembangunan ini.

Sikap politik ini tentu atas dasar kalkulasi politik yang matang, terutama memperhitungkan terkait potensi menang paling besar. Bang Zul dan Abah Uhel bukan politisi kacangan yang lahir kemarin sore. Darah politik mereka lebih kental dari air. Hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Bang Zul sangat tinggi, bahkan mencapai angka 86 persen. Pun hasil survei pasangan Zul-Uhel juga sangat moncer. Survei yang dirilis oleh Lembaga Survei Olat Maras Institut (OMI) yang rutin telah melakukan survei internal sejak 4 tahun terakhir terkait pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB dan dievaluasi tiap 3-6 bulan setiap tahunnya mendedahkan bahwa tingkat keterpilihan Bang Zul selalu berada di angka tertinggi, yaitu rata-rata di atas 85 persen keterpilihan secara pribadi. Bahkan di survei terakhir Maret 2024 mendapatkan angka 91 persen keterpilihan pribadi sebagai gubernur yang disusul oleh Abah Uhel di angka rata-rata 80 persen. Jadi persekutuan antara Bang Zul dengan Abah Uhel adalah perkawinan dua kekuatan raksasa politik yang didukung oleh basis sektoral yang jelas dan teruji secara saintifik politik.

Pernikahan politik Bang Zul dengan Abah mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Tapi politik adalah the art of the possible (seni kemungkinan), yang telah menemukan muara akhirnya: Bang Zul dan Abah Uhel duduk bersama dalam resepsi politik. Abah Uhel sendiri, memilih pinangan sebagai Wakil Gubernur dari Bang Zul merupakan sikap politik yang paling rasional sekalipun jauh hari kerap bernyanyi sebagai Calon Gubernur. “Biasalah. namanya juga retorika politik. Kita harus pasang harga tinggi. Yang paling utama, ini bukan soal ego pribadi. Bukan ego Suhaeli. Ini semata-mata demi kemajuan dan keberlanjutan pembangunan NTB ke depan,” tutur Abah Uhel. Baginya, kejelasan status politiknya sekarang ini mementahkan skeptisisme publik yang meragukan ia dapat mentas dalam kontestasi Pilgub NTB 2024. “Banyak yang tidak percaya kalau saya bisa nyalon. Bahkan dari semua calon yang ada, saya adalah orang yang paling tidak punya apa-apa. Mulai dari tidak punya partai, apalagi uang. Tapi hari ini pertanyaan itu bisa terjawab. Sekarang saatnya kita harus bersatu, sekat-sekat yang membuat kita berbeda harus kita singkirkan untuk membangun NTB lebih gemilang ke depannya” ujarnya.

Kita tidak menginginkan NTB bagaikan “cidomo tanpa kusir”, masyarakat tanpa pemimpin yang yang memiliki kapabiltas dan integritas yang mumpuni. Akibatnya, rakyat penumpang cidomo terpaksa menempuh risiko terus mengalami kecelakaan sosial karena daerah tempat mereka bernaung-berharap nir dari pemimpin yang andal. Bang Zul-Abah Uhel adalah jawabannya. Kelincahan Bang Zul menari melakukan lobi di pusat akan diimbangi oleh Abah Uhel sang eksekutor andal akan mengantarkan NTB akan lebih Gemilang ke depannya. Kita meyakini itu karena track recordnya sebagai pemimpin telah teruji, tahan banting, dan mampu membawa NTB keluar dari masa-masa sulit di awal kepemimpinannya yang centang perenang dalam badai. Bang Zul-Abah Uhel adalah prototype pemimpin yang mendedikasikan pikiran dan batinnya di mana politik sebagai panggilan (vocation), sepenuh hati (compassion) untuk mengabdi serta membidani NTB yang lebih Gemilang. (*)

Editor : Rury Anjas Andita
#Bang Zul #Abah Uhel #politik #Pilkada NTB 2024