Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tidak Ada THR, yang Ada Hanya SHR—Sabar Hari Raya

Rury Anjas Andita • Sabtu, 29 Maret 2025 | 10:55 WIB
Photo
Photo

HARI Raya Idul Fitri selalu identik dengan kebahagiaan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, momen ini menjadi ajang perayaan sekaligus refleksi. Keluarga berkumpul, pakaian baru dikenakan, dan yang paling dinanti, Tunjangan Hari Raya (THR), menjadi penggerak roda konsumsi masyarakat.

Namun, tahun ini ada yang berbeda. Tidak ada THR, yang ada hanya SHR—Sabar Hari Raya. Istilah yang akhir-akhir ini berkembang di tengah masyarakat sebagai respons atas situasi ekonomi yang tidak menentu. Banyak pekerja di berbagai sektor tidak mendapatkan THR, sementara sebagian lainnya menerima dengan jumlah yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Fenomena ini menggambarkan realitas ekonomi yang masih penuh tantangan. Inflasi yang terus meningkat, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta ketidakpastian dunia kerja menjadi kombinasi yang sulit dihindari. Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan Indonesia per Februari 2025 mencapai 3,12 persen (BI, 2025), yang menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.

Dunia usaha juga tidak luput dari tekanan. Banyak perusahaan, terutama di sektor industri padat karya, mengalami penurunan produksi akibat melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini berimbas langsung pada kebijakan keuangan perusahaan, termasuk penghapusan atau pemangkasan THR bagi karyawan.

Dalam teori ekonomi, konsumsi masyarakat memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi (Mankiw, 2020). THR selama ini menjadi stimulus ekonomi tahunan yang mampu menggerakkan berbagai sektor, dari ritel hingga pariwisata. Ketika dana ini berkurang atau bahkan tidak ada, dampaknya bisa meluas.

Data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menunjukkan bahwa omzet ritel modern selama Ramadan dan Idulfitri mengalami penurunan 15 persen dibanding tahun sebelumnya (Aprindo, 2025). Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat benar-benar terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Bagi sebagian orang, hilangnya THR memaksa mereka untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan. Prioritas belanja bergeser dari konsumsi sekunder ke kebutuhan primer. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk baju baru atau liburan kini lebih banyak digunakan untuk bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Namun, di sisi lain, ada hikmah yang bisa dipetik. Momentum ini bisa menjadi ajang refleksi tentang esensi sebenarnya dari Hari Raya. Idulfitri sejatinya bukan sekadar tentang perayaan, tetapi juga tentang kemenangan spiritual. Kebahagiaan tidak selalu diukur dari besarnya THR, melainkan dari kualitas kebersamaan dan keikhlasan dalam berbagi.

Fenomena SHR juga menunjukkan daya tahan masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi. Konsep "sabar" yang terkandung di dalamnya mencerminkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan situasi yang tidak ideal. Dalam psikologi, kesabaran adalah bagian dari kecerdasan emosional yang memungkinkan seseorang untuk tetap tenang dalam menghadapi tekanan (Goleman, 1995).

Di tengah ketidakpastian ekonomi, pemerintah juga memiliki peran penting dalam memastikan kesejahteraan masyarakat. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah memperkuat jaring pengaman sosial, terutama bagi kelompok pekerja yang terdampak kebijakan penghapusan THR.

Beberapa negara telah menerapkan kebijakan kompensasi bagi pekerja yang tidak mendapatkan bonus tahunan akibat krisis ekonomi. Jepang, misalnya, memberikan subsidi langsung kepada rumah tangga berpenghasilan rendah untuk mengompensasi kenaikan biaya hidup (OECD, 2024). Model seperti ini bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia.

Selain itu, perlu ada kebijakan yang lebih tegas dalam mengatur pemberian THR oleh perusahaan. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 mewajibkan pengusaha memberikan THR kepada pekerja tetap maupun kontrak. Namun, dalam praktiknya, banyak perusahaan yang mengajukan penangguhan atau bahkan tidak memenuhi kewajiban ini (Kemnaker, 2024).

Tahun ini mungkin menjadi momen ujian bagi banyak orang. Namun, seperti halnya setiap ujian, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Masyarakat diajak untuk lebih mandiri secara finansial, tidak hanya bergantung pada THR sebagai satu-satunya sumber dana tambahan menjelang Hari Raya.

Literasi keuangan menjadi semakin penting. Perencanaan keuangan jangka panjang, diversifikasi sumber penghasilan, dan kebiasaan menabung harus lebih digalakkan. Di beberapa negara dengan sistem ekonomi yang lebih stabil, budaya menabung untuk kebutuhan tahunan seperti Hari Raya sudah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat (Samuelson & Nordhaus, 2018).

Pergeseran budaya konsumsi ini juga bisa berdampak positif dalam jangka panjang. Jika masyarakat lebih terbiasa mengelola keuangan dengan baik, dampaknya tidak hanya terasa secara individu, tetapi juga secara ekonomi makro. Ketahanan ekonomi rumah tangga yang lebih kuat akan menciptakan stabilitas yang lebih baik di tingkat nasional.

Hari Raya tanpa THR memang terasa berbeda. Namun, esensi sejati dari Idulfitri tidak terletak pada jumlah uang yang diterima, melainkan pada makna kebersamaan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. SHR—Sabar Hari Raya—mungkin bukan sekadar ungkapan humor, tetapi refleksi dari ketangguhan masyarakat dalam menghadapi realitas ekonomi yang ada.

Ketahanan dan adaptasi menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ini. Sebagaimana dalam setiap krisis, selalu ada peluang untuk bangkit dan menemukan cara baru dalam menjalani hidup. Jika THR tahun ini tidak ada, maka semangat berbagi dan kebersamaan tidak boleh hilang. Karena sejatinya, Hari Raya adalah tentang merayakan kemenangan, dalam bentuk apa pun yang kita miliki. (*)

 



*) Penulis: Dr. Sabirin, M.Si (Dosen Sosiologi IAI Nurul Hakim Kediri)

Editor : Rury Anjas Andita
#thr #hari raya