LombokPost - IQBAL-Dinda telah melewati 100 hari pertamanya sejak dilantik sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB pada 20 Februari yang lalu.
Namun, yang masih ditunggu oleh publik hingga tulisan ini dimuat ialah gebrakan program apa yang sudah dilakukan oleh mereka selaku kepala daerah untuk membangun wilayah dan masyarakat yang dipimpin.
Pasalnya, di berbagai ruang publik mulai dari media sosial hingga warung kopi ramai oleh khalayak yang mempertanyakan kejelasan hasil kinerja pasangan baru tersebut.
Masyarakat di NTB semakin riuh dan tambah heran ketika dirilisnya data pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2025 NTB yang mengalami kontraksi -1,47 persen.
Bahkan, Menteri Dalam Negeri turut kebingungan dan bertanya-tanya lantaran menurunnya performa perekonomian di Bumi Gogo Rancah.
Menurut Kepala BPS NTB yang dilansir dari berbagai media, kontraksi tersebut disebabkan oleh penurunan tajam hingga -30,14 persen pada sektor pertambangan dan penggalian.
Akan tetapi, di tengah kontraksi yang terjadi, daya beli dan konsumsi masyarakat NTB justru tumbuh 4,18 persen.
Hal ini disebabkan oleh sektor basis yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami peningkatan sebesar 10,28 persen.
Selain itu, sektor industri pengolahan turut mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 24,89 persen.
Sejarah telah mencatat bahwa kedua sektor di atas memang merupakan sektor yang telah teruji tangguh di tengah berbagai goncangan krisis ekonomi, terutama di wilayah dengan potensi agromaritim.
Hal itu disebabkan oleh tumpuannya yang mantap pada sumber daya lokal disertai dengan potensinya yang tinggi dalam menyerap tenaga kerja.
Oleh karenanya, untuk menegaskan pondasi pembangunan NTB yang kokoh ke depan, maka kedua sektor tersebut harus menjadi pilar utama yang tidak bisa ditawar lagi.
Agroindustri dan Agromaritim Sebagai Fondasi
Salah satu misi Iqbal-Dinda pada momentum kampanye pilkada NTB 2024 ialah NTB Agromaritim.
Suatu misi yang berkehendak mengurangi angka kemiskinan melalui pembangunan ekosistem industrialisasi berbasis pertanian, peternakan, dan kelautan dengan cita-cita menjadikan NTB sebagai kawasan industri agromaritim yang berkelanjutan.
Misi ini kemudian diterjemahkan menjadi sepuluh kegiatan strategis yang mencakup intensifikasi hingga hilirisasi.
Sayangnya, implementasi awal dari misi dan kegiatan strategis tersebut hingga saat ini belum menunjukkan keseriusannya.
Padahal, pembangunan yang berbasis sektor agromaritim yang disertai dengan agroindustrialisasi sudah sangat tepat dan lebih dari cukup untuk menjadi turning point kemajuan daerah.
Tidak lebih penulis mengatakan demikian, sebab potensi yang terkandung di dalam sektor tersebut sangat berlimpah.
Untuk diketahui, NTB telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan sentra produksi nasional untuk beberapa jenis komoditas unggulan, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, peternakan, hingga perikanan dan kelautan.
Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa NTB sejatinya tidak kekurangan potensi dan peluang.
Di sektor tanaman pangan, NTB dikenal luas sebagai lumbung jagung nasional dengan produksi terbesar ke-4 di Indonesia.
Salah satu keunggulan jagung NTB ialah kandungan aflatoxin-nya yang rendah, menjadikannya sangat potensial untuk dikembangkan lebih luas.
Untuk komoditas tanaman pangan lainnya, provinsi ini juga menunjukkan performa yang cukup signifikan.
Berdasarkan data BPS (2024), NTB tercatat sebagai daerah penghasil padi terbesar ke-9 dengan produksi 1,53 juta ton.
Pada sektor perkebunan, NTB memiliki komoditas tebu sebagai potensi andalan. Hal ini dikarenakan NTB menjadi salah satu dari 12 provinsi penghasil tebu nasional.
Dengan luas lahan mencapai 2.912 hektare, NTB khususnya Kabupaten Dompu telah ditetapkan sebagai kawasan tebu nasional berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03 Tahun 2024.
Selain itu, NTB juga dikenal sebagai produsen tembakau terbesar ke-2 di Indonesia.
Untuk komoditas hortikultura, pada tahun 2023 NTB berhasil menjadi penghasil bawang putih dan bawang merah terbesar ke-2 dan ke-4 secara nasional.
Sementara di sektor peternakan, provinsi ini berada di peringkat ke-12 dalam hal produksi daging sapi.
Tak kalah penting, sektor kelautan dan perikanan turut memberikan kontribusi besar bagi perekonomian NTB.
Pada tahun 2022, NTB berhasil menempati urutan ke-4 sebagai produsen rumput laut nasional dengan nilai produksi mencapai 3,4 triliun rupiah.
Selain itu, kekayaan laut dari Teluk Saleh di Sumbawa hingga pesisir utara Lombok menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentral produksi komoditas perikanan budidaya.
Berbagai potensi yang telah dipaparkan di atas, ironisnya belum didukung oleh industrialisasi yang memadai.
Padahal, nilai tambah dari setiap komoditas hanya akan mampu ditingkatkan ketika agenda hilirisasi melalui agroindustrialisasi dijalankan.
Dengan demikian, agroindustrialisasi sektor agromaritim seharusnya bukan sekadar dijadikan pelengkap narasi, melainkan mesti menjadi kunci utama yang digunakan demi kokohnya pembangunan struktur ekonomi masyarakat dan daerah yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Menyongsong Asa Kembali
Di tengah pertumbuhan perekonomian NTB yang stagnan dan cenderung mengalami kemunduran, geliat harapan mesti terus dipupuk sebagai suatu optimisme akan adanya pembenahan.
Selain itu, sepenggal kutipan “perjalanan panjang mesti dimulai dari langkah pertama” kini rasa-rasanya menjelma suatu mantra yang cukup relevan untuk melecutkan kondisi tersebut.
Oleh sebab itu, atensi yang utuh, disertai political will yang konkret terhadap pengelolaan potensi daya saing daerah menjadi sangat diperlukan.
Herman Malik dalam bukunya “Bangun Industri Desa, Selamatkan Bangsa” telah memaparkan bahwa keunggulan daya saing wilayah ditentukan oleh empat faktor pokok dan dua faktor penunjang.
Empat faktor pokok yang dimaksud ialah kondisi faktor produksi, permintaan pasar, industri-industri terkait dan industri pendukung serta strategi perusahaan, struktur dan persaingan.
Sedangkan faktor penunjangnya yaitu peluang dan peranan pemerintah.
Dalam konteks NTB, dua faktor pokok serta satu faktor penunjang: produksi, permintaan pasar dan peluang telah terbuka lebar.
Sisanya sangat bergantung pada kepiawaian Iqbal-Dinda sebagai pasangan kepala daerah dalam memainkan peranannya menjadi fasilitator sekaligus regulator yang benar-benar berkomitmen menghadirkan ekosistem agroindustrialisasi sektor agromaritim yang kuat sebagaimana salah satu misinya dalam memimpin NTB lima tahun mendatang.
Saatnya Iqbal-Dinda melangkah nyata dan membuktikan bahwa NTB Agromaritim bukan sekadar slogan dan narasi kampanye, melainkan jalan baru menuju kemandirian dan kemajuan daerah beserta masyarakat Bumi Gogo Rancah yang tangguh, makmur, dan berdaya saing. (*)
Editor : Kimda Farida