LombokPost - Lembah Sembalun di kaki Gunung Rinjani bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang tempat alam, manusia, dan spiritualitas bertemu. Dalam satu dekade terakhir, Sembalun tumbuh menjadi magnet baru pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), sejajar dengan gili dan Mandalika.
Namun di balik keindahan yang memesona, lembah ini menghadapi paradoks: pertumbuhan cepat yang disertai tekanan ekologis, sosial, dan spiritual.
Pertumbuhan wisata di Sembalun membawa berkah ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan sektor kreatif. Namun, pembangunan yang tak terkendali telah menekan daya dukung ekologis.
Data menunjukkan kunjungan wisata meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019, sementara pembangunan penginapan dan kafe melonjak hingga 140 persen. Di sisi lain, debit air menurun dan lahan pertanian kian terdesak.
Krisis air di Sembalun bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah cermin dari ketidakseimbangan antara pengelolaan alam dan keserakahan pembangunan. Ketika air berubah dari rahmat menjadi komoditas, alam kehilangan makna sakralnya.
Warga di Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang kini sering mengeluhkan kekurangan air, baik untuk pertanian maupun rumah tangga. Ironisnya, hotel dan homestay justru meningkat konsumsi airnya untuk kolam, taman, dan sanitasi. Di satu sisi, wisata menuntut kenyamanan. Di sisi lain, petani harus menunggu giliran air untuk menyiram ladang.
Krisis air ini mestinya menjadi alarm ekologis bagi semua pihak. Air bagi masyarakat Sembalun bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan juga sumber spiritual. Menjaga air berarti menjaga keseimbangan antara syukur dan keserakahan, antara mengambil dan mengembalikan.
Beberapa titik seperti Pusuk Sembalun, Taman Langit, dan Kedai Sawah kini mengalami tekanan pengunjung melebihi kapasitas ideal. Akibatnya muncul parkir liar, kebisingan, dan penumpukan sampah. “Dulu air mengalir sepanjang tahun, sekarang setengahnya saja,” tutur seorang tokoh adat. Kalimat sederhana ini menyiratkan: keramaian manusia telah mengganggu ritme alam.
Sembalun dikenal sebagai lumbung sayur dataran tinggi. Namun intensifikasi pertanian kimia menurunkan kualitas tanah dan air. Di sisi lain, pariwisata mengusung citra “alam hijau” yang justru bertolak belakang dengan praktik pertanian intensif.
Karena itu, masa depan Sembalun terletak pada sinergi pertanian organik dan pariwisata hijau. Konsep agroekowisata dapat menjadi solusi—menjadikan lahan pertanian bukan hanya sumber pangan, tetapi juga ruang edukasi ekologis bagi wisatawan.
Berbagai aktor telah masuk ke Sembalun—pemerintah, LSM, akademisi, dan pelaku usaha. Namun koordinasi di antara mereka masih lemah. Pemerintah fokus pada promosi, LSM pada konservasi, pelaku usaha pada profit. Tanpa forum kolaboratif, kebijakan cenderung terpecah dan tidak menyentuh akar persoalan.
Sudah saatnya dibentuk Platform Kolaborasi Hijau Sembalun—forum multipihak berbasis data, nilai, dan partisipasi masyarakat. Forum ini bisa menjadi ruang sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kearifan lokal.
Dalam tradisi Sembalun, air dan tanah dianggap suci—simbol karunia Tuhan. Filosofi “mangan sak cukupé, tandur sak perlué” (makan secukupnya, tanam seperlunya) mengajarkan keseimbangan ekologis. Namun nilai itu kian terkikis oleh logika pasar. Ritual adat yang dulu sarat makna kini kerap direduksi menjadi atraksi wisata semata.
Padahal, nilai religius ini sesungguhnya inti dari etika keberlanjutan. Dalam Islam, manusia disebut khalifah fil ardh—penjaga bumi. Maka, menjaga alam bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan ibadah sosial.
Generasi milenial Sembalun kini menjadi penggerak utama ekonomi wisata. Mereka kreatif, digital, dan penuh energi. Namun muncul pertanyaan: apakah mereka memahami makna pariwisata hijau atau sekadar mengejar konten media sosial?
Fenomena selfie tourism menandai pergeseran nilai: alam dijadikan latar, bukan ruang kontemplasi. Karena itu, pendidikan lingkungan berbasis komunitas perlu diperkuat—agar generasi muda tak hanya menjadi pelaku ekonomi wisata, tapi juga penjaga nilai dan keseimbangan.
Krisis air di Sembalun harus dilihat sebagai titik balik kesadaran ekologis. Dalam ajaran agama, air adalah sumber kesucian lahir dan batin. Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Sumur yang kering bisa lebih berbahaya daripada jalan yang mulus—sebab ia menandakan kegagalan manusia membaca tanda-tanda alam.
Dalam segitiga wisata Lombok—Gili, Mandalika, dan Sembalun—setiap kawasan memiliki ruhnya. Gili adalah laut, Mandalika simbol kemajuan, dan Sembalun adalah jiwa hijau Lombok. Ia seharusnya menjadi penyeimbang, bukan pesaing. Pembangunan Sembalun hendaknya menegaskan jati dirinya: hijau, sejuk, dan spiritual.
Sembalun adalah cermin kecil bumi yang sedang diuji. Krisis air hari ini adalah peringatan agar manusia menata ulang relasinya dengan alam. Pariwisata hijau sejati bukan sekadar wisata tanpa sampah, tetapi wisata yang menumbuhkan kesadaran: bahwa setiap langkah di tanah lembah adalah amanah.
Sebagaimana pesan Jalaluddin Rumi, “Tanah bukan warisan dari nenek moyangmu, tetapi titipan dari anak cucumu.” Menjaga Sembalun berarti menjaga masa depan—bukan proyek jangka pendek, melainkan tanggung jawab lintas generasi. (Anwar Fachry Dosen dan Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Pembangunan (PSKP) Universitas Mataram)
Editor : Kimda Farida