LombokPost - Diskursus politik dan keamanan global kontemporer tengah menyaksikan sebuah paradoks moral yang mengerikan. Di satu sisi, umat manusia memiliki akses informasi paling transparan dan seketika dalam sejarah peradaban; namun di sisi lain, empati kolektif justru kian terfragmentasi dan mengalami pendangkalan. Dalam konstelasi ini, Donald Trump muncul bukan sekadar sebagai aktor politik, melainkan sebagai personifikasi dari "politik tanpa moralitas" yang berkelindan dengan lahirnya Generasi Z (Gen Z) generasi digital native yang tumbuh dalam ekosistem informasi tanpa batas namun rentan terhadap dewasanya dehumanisasi.
Fenomena ini mencapai titik nadir yang krusial ketika ditarik ke dalam pusaran eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Di sana, nyawa manusia tidak lagi dipandang sebagai entitas sakral yang memiliki hak asasi kodrati, melainkan sekadar angka statistik dalam narasi geopolitik atau fragmen konten visual dalam linimasa media sosial yang lewat dalam sekali usap.
Relasi antara gaya kepemimpinan Trump dan pola konsumsi digital Gen Z bukanlah sebuah kebetulan, melainkan produk dari struktur sosial yang dikuasai oleh apa yang disebut sebagai ekonomi perhatian (attention economy). Donald Trump merevolusi panggung politik dengan mengubah kebijakan luar negeri yang biasanya bersifat teknokratis menjadi sebuah "pertunjukan" (spectacle).
Baca Juga: Mantan Bos Nuklir Dunia Panik, Peringatkan Konflik Meledak
Meminjam tesis Marshall McLuhan, "the medium is the message", cara pesan disampaikan kini jauh lebih menentukan daripada isi pesan itu sendiri. Bagi Trump, setiap ancaman militer terhadap Iran atau dukungan tanpa syarat kepada Israel adalah instrumen untuk memenangkan perhatian massa.
Namun, ketika politik murni menjadi pertunjukan, dimensi moralitasnya luruh. Narasi-narasi provokatif mengenai penghancuran total yang sering dilontarkan Trump melalui platform digital secara sistematis mengikis standar moral internasional yang dibangun susah payah pasca-Perang Dunia II. Normalisasi terhadap kekuasaan yang tuna-nurani ini menjadi berbahaya ketika ia bertemu dengan konsumsi informasi Gen Z yang sangat bergantung pada algoritma visual seperti TikTok dan Instagram.
Berdasarkan data dari Reuters Institute Digital News Report tahun 2024, sekitar 66 persen kaum muda kini mengandalkan platform visual sebagai sumber informasi primer (Nic Newman, 2024). Di sinilah letak krisis epistemik sekaligus moral. Visualisasi ledakan rudal di langit Teheran atau reruntuhan bangunan di wilayah konflik sering kali diproses oleh audiens muda melalui logika yang sama dengan video hiburan.
Baca Juga: Dua Menit Terkini, Konflik Iran-AS-Israel: Rudal Dicegat di Kuwait hingga Gejolak Internal AS
Inilah yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai Hiperrealitas: sebuah kondisi di mana simulasi realitas di layar gawai terasa lebih "nyata" dan estetis daripada tragedi berdarah yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Perang dalam kabut hiperrealitas bukan lagi sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan, melainkan sebuah tontonan sinematik.
Akibatnya, terjadi devaluasi nilai nyawa; kematian manusia kehilangan bobot ontologisnya dan terjebak dalam arus banalitas informasi. Ketika genosida atau eskalasi nuklir diproses dalam frekuensi yang sama dengan trending topic harian, maka nurani manusia sedang mengalami desensitisasi massal.
Kondisi ini diperparah oleh apa yang disebut Manuel Castells sebagai Network Society, di mana jaringan informasi digital seharusnya mampu memperkuat solidaritas global namun justru sering kali memicu polarisasi yang mendehumanisasi "pihak lawan". Dalam konflik AS-Israel vs Iran, moralitas kemanusiaan sering kali dikalahkan oleh keberpihakan buta yang didorong oleh algoritma.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Timur Tengah, Calon Jamaah Haji Mataram Tetap Berangkat
Gen Z sering kali terjebak dalam echo chamber (ruang gema) yang memaksa mereka untuk memilih satu kutub absolut: apakah mereka mendukung "keamanan Israel" atau "perlawanan Iran". Dalam pembelahan hitam-putih ini, nasib individu sipil yang terjepit di antara desingan misil sering kali terlupakan atau bahkan dianggap sebagai "efek samping" yang sah.
Moralitas tidak lagi berpijak pada universalitas nilai kemanusiaan, melainkan pada afiliasi digital dan sentimen kelompok. Kita menyaksikan bagaimana kebencian diproduksi secara massal melalui narasi populisme, membuat kematian manusia di seberang sana tidak lagi memicu kedukaan, melainkan dianggap sebagai kemenangan strategis dalam permainan catur geopolitik yang jauh.
Krisis makna ini berkaitan erat dengan teori Liquid Modernity dari Zygmunt Bauman (2005), di mana segala sesuatu dalam dunia modern menjadi cair, tidak stabil, dan tanpa jangkar moral yang kokoh. Bagi sebagian Gen Z yang mengalami kekosongan eksistensial (existential vacuum) sebagaimana diperingatkan Viktor E. Frankl dalam bukunya Man's Search for Meaning 2019), figur seperti Trump yang menawarkan narasi "kekuatan" dan "kepastian" menjadi magnet emosional.
Namun, ketegasan yang ditawarkan sering kali hanyalah pragmatisme ekstrem yang mengabaikan dimensi etis. Jika generasi masa depan memuja kekuatan militer atau figur otoriter sebagai bentuk pelarian dari kecemasan mereka terhadap instabilitas global, maka peradaban sedang bergerak menuju dekadensi moral yang akut. Perang bukan lagi dianggap sebagai kegagalan diplomasi yang paling memalukan bagi manusia, melainkan sebagai hobi geopolitik yang lumrah dan bahkan "keren" untuk dibahas dalam format meme atau video pendek berdurasi lima belas detik.
Dekonstruksi makna mencapai puncaknya ketika misil-misil nyata yang jatuh di pemukiman sipil bersahutan dengan "meme" yang merayakan atau mengejek serangan tersebut di jagat maya. Ketika sebuah senjata pemusnah massal diparodi secara jenaka, kita sedang menyaksikan keruntuhan empati kolektif yang paling brutal. Moralitas kemanusiaan menuntut kita untuk melihat setiap nyawa sebagai tujuan pada dirinya sendiri, namun di bawah bayang-bayang politik Trump dan konsumsi digital Gen Z, manusia direduksi menjadi sekadar objek atau bidak dalam narasi yang lebih besar. Kematian anak-anak di zona konflik hanya menjadi bahan perdebatan di kolom komentar, di mana argumen politik lebih diutamakan daripada duka cita. Kabut hiperrealitas membuat mata batin kita sulit membedakan antara penderitaan manusia yang otentik dan simulasi politik yang manipulatif.
Sebagai penutup, tantangan terbesar peradaban hari ini bukanlah kemajuan teknologi militer atau kecanggihan kecerdasan buatan, melainkan kemampuan manusia untuk mempertahankan nuraninya. Masa depan global sangat bergantung pada apakah Generasi Z mampu mendekonstruksi balik narasi-narasi dehumanisasi ini. Mereka harus berani keluar dari gua hiperrealitas dan menyadari bahwa di balik setiap berita konfrontasi AS-Israel vs Iran, terdapat manusia-manusia nyata dengan keluarga, harapan, dan hak asasi yang sama.
Moralitas kemanusiaan harus ditempatkan kembali di posisi tertinggi, melampaui kepentingan ekonomi perhatian, populisme sempit, maupun transaksi kekuasaan. Jika kita membiarkan nurani kita mati di tangan algoritma dan retorika tanpa empati, maka sesungguhnya kita tidak hanya sedang menuju perang fisik di Timur Tengah, tetapi kita sedang merayakan kematian martabat kemanusiaan itu sendiri dalam sunyi digital. Kemenangan sejati umat manusia bukanlah terletak pada siapa yang memiliki senjata paling mematikan, melainkan pada kemampuan kita untuk menolak menjadikan nyawa sesama manusia sebagai sekadar konten hiburan atau alat tawar politik. (Syamsul Arifin, Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram)
Editor : Redaksi