LombokPost - Ketika surat Rektor Universitas Mataram Nomor 5125 Tahun 2026 sampai di meja saya, saya membacanya dua kali. Undangan itu mengajak seluruh Guru Besar hadir dalam pertemuan bertajuk “Profesor Berdampak” pada 9 April 2026 yang bertempat di Hotel Prime Park, Mataram.
Bukan seminar biasa, bukan rapat koordinasi rutin. Ini adalah panggilan untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita, para Guru Besar Unram, benar-benar memberikan dampak yang berarti?
Saya teringat seorang mahasiswa bimbingan saya beberapa waktu lalu. Ia berasal dari keluarga yang secara ekonomi sangat terbatas. Berkali-kali saya melihat keraguan di matanya bukan karena ia tidak mampu secara akademik, melainkan karena beban hidup yang menghimpitnya.
Baca Juga: Unram Genjot Program Profesor Berdampak, Siapkan Rp 100 Juta per Tim
Saya memutuskan untuk membantunya dengan cara yang menurut saya paling realistis: merancang judul skripsi yang sederhana namun tetap ilmiah, tidak membutuhkan biaya penelitian yang besar, tetapi cukup kuat secara metodologis.
Bahkan, saya membimbingnya menulis skripsi dalam bahasa Inggris sesuatu yang awalnya ia anggap mustahil. Hasilnya? Mahasiswa itu lulus tepat waktu. Untuk saya, itulah dampak. Bukan angka di laporan kinerja dosen, tetapi satu kehidupan yang berubah arahnya karena seorang profesor memilih untuk hadir sepenuhnya.
Pengalaman seperti itu yang membuat saya percaya bahwa konsep “Profesor Berdampak” bukan wacana kosong. Tapi mari kita jujur. Di Universitas Mataram, dengan ribuan mahasiswa dan tantangan yang kita tahu bersama keterbatasan laboratorium, minimnya dana penelitian mandiri, mahasiswa yang sebagian besar adalah generasi pertama di keluarganya yang kuliah menjadi profesor berdampak itu tidak mudah.
Baca Juga: Unram Kukuhkan Enam Guru Besar, Gaspol Program Profesor Berdampak
Godaan untuk sekadar menjalankan rutinitas pengajaran, memenuhi beban SKS, lalu menunggu pensiun, itu nyata. Saya sendiri pernah merasakannya.
Namun justru di situlah pertemuan yang digagas Rektor ini menemukan urgensinya. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sudah lama mendorong perguruan tinggi melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka.
Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi sekarang mengukur hal-hal yang lebih substansial: seberapa banyak mahasiswa mendapat pengalaman belajar di luar kampus, seberapa besar kontribusi riset terhadap masyarakat, dan seberapa kuat kolaborasi dengan dunia usaha.
Baca Juga: PSPPA Unram Lulus 100 Persen Ukomnas PDPA Maret 2026
Kebijakan ini memberi ruang. Pertanyaannya: apakah kita mengisi ruang itu, atau membiarkannya kosong?
Saya khawatir jawabannya belum memuaskan. Kolaborasi lintas fakultas di Unram masih berjalan sendiri-sendiri. Guru Besar di satu fakultas jarang menahu apa yang sedang diteliti rekannya di fakultas lain. Padahal persoalan NTB ketahanan pangan, kemiskinan, pariwisata yang belum merata manfaatnya adalah persoalan yang tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja. Kita butuh profesor peternakan bicara dengan profesor ekonomi. Profesor pertanian duduk bersama profesor pendidikan. Itu belum terjadi secara sistematis.
Apa artinya menjadi profesor berdampak? Menurut pengalaman saya selama bertahun-tahun mengajar di Fakultas Peternakan, dampak itu sering kali lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Menyesuaikan topik skripsi agar mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak terbebani biaya riset mahal. Mendorong mereka menulis dalam bahasa Inggris agar punya daya saing lebih luas. Meluangkan waktu di luar jam kantor untuk diskusi yang sesungguhnya, bukan sekadar konsultasi tanda tangan. Hal-hal ini tidak masuk dalam formulir BKD. Tapi di situlah dampak sesungguhnya terjadi.
Program MBKM, Matching Fund, dan Kedaireka sesungguhnya sudah membuka pintu lebar-lebar untuk profesor untuk berbuat lebih. Mahasiswa dapat magang, terlibat proyek masyarakat, belajar lintas prodi. Tetapi semua itu butuh profesor yang mau menjadi mentor sungguhan bukan sekadar menandatangani formulir persetujuan. Dan terus terang, menjadi mentor itu melelahkan. Tidak ada insentif finansial yang sepadan. Yang ada hanyalah kepuasan melihat mahasiswa bimbingan kita berhasil menemukan jalannya.
Maka pertemuan 9 April ini, saya berharap, bukan menjadi forum seremonial tempat kita saling memuji dan berjanji tanpa tindak lanjut. Dari ruangan itu harus keluar sesuatu yang konkret. Mungkin kesepakatan bahwa setiap Guru Besar membimbing setidaknya satu kelompok mahasiswa dalam proyek berbasis masyarakat. Mungkin pembentukan klaster riset lintas fakultas yang fokus pada persoalan riil NTB. Atau minimal, forum rutin antar Guru Besar untuk saling berbagi bukan hanya keberhasilan, tetapi juga kegagalan dan pelajaran darinya.
Saya menulis ini bukan sebagai orang yang merasa sudah berdampak cukup. Justru sebaliknya. Setiap kali mengingat mahasiswa-mahasiswa yang pernah saya bimbing, saya selalu bertanya: adakah yang dapat saya lakukan lebih? Dan pertanyaan itu, saya rasa, adalah awal dari menjadi profesor berdampak. Bukan merasa sudah cukup, melainkan terus gelisah bahwa kita dapat berbuat lebih banyak lagi. Pertemuan besok dapat menjadi langkah pertama. Atau dapat juga jadi sekadar rapat yang dilupakan minggu depan. Pilihannya ada pada kita semua yang hadir di ruangan itu. (*)
Editor : Redaksi