Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran: Panggung Perang Dingin Jilid Kedua

Redaksi • Rabu, 15 April 2026 | 13:48 WIB
OPINI
OPINI

LombokPost - Perdebatan mengenai konflik Amerika Serikat dan Iran kerap terjebak pada pertanyaan klasik: siapa yang akan menang? Sebagian meyakini Iran akan bertahan melalui kekuatan internal dan militansi ideologinya. Sebagian lain menilai superioritas militer Amerika Serikat akan menentukan hasil akhir.

Namun, dalam perspektif sejarah, perang bukan sekadar soal kemenangan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: siapa yang paling diuntungkan?

Jika menengok ke belakang, pola keterlibatan Amerika dalam konflik global menunjukkan kecenderungan yang konsisten: hadir di fase akhir, lalu memetik keuntungan strategis.

Baca Juga: Perundingan Damai Amerika Serikat-Iran Buntu, Wapres JD Vance Angkat Kaki dari Pakistan tanpa Hasil

Pada Perang Dunia I, yang pecah pada Juli 1914 antara Blok Sekutu dan Blok Sentral, Amerika Serikat baru bergabung pada 1917 ketika perang telah memasuki fase penentuan.

Pada tahun yang sama, lahir Deklarasi Balfour, hasil kesepakatan Inggris dan Amerika yang membuka jalan bagi pendirian negara Israel di wilayah Palestina, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani.

Secara militer, Utsmani belum sepenuhnya runtuh, tetapi secara politik, peta kekuasaan sudah mulai diatur ulang.

Baca Juga: Syarat Damai Iran ke Amerika Serikat: Setop Serangan Israel hingga Pencairan Aset Beku USD 6 Miliar

Hal serupa terjadi pada Perang Dunia II. Pada awal konflik, Jerman Nazi menunjukkan dominasi di Eropa. Namun, setelah Amerika Serikat masuk pada 1941, arah perang berubah drastis. Pada 1945, Blok Sekutu keluar sebagai pemenang. Dari sinilah Amerika muncul sebagai kekuatan global baru, sejajar dengan Uni Soviet.

Pasca perang, dunia memasuki era Perang Dingin sebuah konflik tanpa kontak militer langsung antara Amerika dan Uni Soviet yang berlangsung selama lebih dari empat dekade. Persaingan berlangsung melalui perang proksi, perebutan pengaruh ideologi, dan perlombaan teknologi. Korea terbelah, Vietnam terpecah, dan Afghanistan menjadi arena benturan kepentingan dua kekuatan besar.

Dari tiga fase sejarah ini, terlihat satu benang merah: Amerika Serikat tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga memenangkan perjanjian. Diplomasi pascakonflik menjadi instrumen utama untuk mengukuhkan dominasi.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz oleh Iran di Tengah Konflik dengan Amerika Serikat dan Israel Memicu Krisis Energi Global

Lalu, bagaimana membaca konflik Amerika dan Iran hari ini?

Secara militer, keunggulan Amerika sulit dibantah. Serangan terhadap fasilitas militer Iran dan operasi yang menewaskan tokoh penting Iran menunjukkan kapasitas tempur yang superior. Namun, Iran memiliki kekuatan berbeda: kohesi internal yang dibangun melalui ideologi perlawanan terhadap Barat. Doktrin anti-Amerika telah menjadi bagian dari identitas politiknya.

Iran tidak menyerang langsung wilayah Amerika. Sebaliknya, responsnya terbatas pada target-target strategis di kawasan Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang terbuka, melainkan bagian dari permainan yang lebih besar.

Di sinilah relevansi istilah “Perang Dingin Jilid Kedua”.

Konflik Iran–Israel–Amerika bukan sekadar konflik regional. Ia adalah bagian dari rivalitas global antara Amerika Serikat dan Cina, dengan Rusia sebagai pemain pendukung. Seperti pada Perang Dingin pertama, pertarungan tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui negara-negara proksi dan isu-isu strategis.

Iran menjadi titik kunci, terutama karena posisinya di Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia. Mengendalikan Iran berarti mempengaruhi arus energi global, sekaligus membatasi pengaruh Cina dan Rusia di kawasan tersebut.

Strategi yang digunakan pun tidak jauh berbeda dari masa lalu: tekanan militer diikuti upaya diplomasi. Tujuan akhirnya bukan sekadar menghancurkan, melainkan membuka ruang negosiasi yang menguntungkan. Dalam banyak kasus, Amerika tidak menaklukkan melalui perang, tetapi melalui perjanjian.

Namun, Iran bukanlah negara yang mudah ditundukkan. Ideologi anti-liberalisme yang mengakar kuat membuat perubahan rezim bukan perkara sederhana. “Gugur satu, tumbuh seribu” bukan sekadar slogan, melainkan realitas sosial-politik yang membentengi negara tersebut.

Di sisi lain, Cina mulai memainkan peran strategis. Dukungan terhadap Iran, termasuk wacana pengaruh di Selat Hormuz, menunjukkan bahwa konflik ini telah melibatkan kepentingan global yang lebih luas. Jika jalur energi terganggu, dampaknya akan dirasakan secara global dan Cina tampaknya telah bersiap dengan alternatif, termasuk dominasi pada sektor energi baru seperti kendaraan listrik.

Dengan demikian, konflik ini bukan hanya tentang Iran atau Israel. Ini adalah pertarungan panjang antara dua kekuatan besar dunia: Amerika Serikat dan Cina.

Lalu, di mana posisi Indonesia? Pada Perang Dingin pertama, Indonesia memilih jalur Non-Blok sebuah sikap strategis untuk menjaga kedaulatan di tengah tarik-menarik kekuatan global. Namun, dalam konteks hari ini, posisi tersebut mulai dipertanyakan. Keterlibatan dalam berbagai aliansi ekonomi dan geopolitik menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya berada di luar pusaran.

Pertanyaannya: apakah Indonesia tetap menjadi penonton, atau mulai menjadi pemain?

Yang perlu disadari, isu perdamaian dan konflik sering kali bukan sekadar nilai moral, melainkan instrumen geopolitik. Narasi tentang stabilitas dan keamanan bisa menjadi pintu masuk untuk mempengaruhi kedaulatan negara lain.

Pada akhirnya, konflik yang kita saksikan hari ini hanyalah permukaan. Di baliknya, berlangsung pertarungan besar antara Amerika dan Cina sebuah Perang Dingin versi baru yang lebih kompleks, lebih panjang, dan lebih tersembunyi.

Dan seperti sejarah yang berulang, pemenangnya bukan hanya yang bertahan, tetapi yang paling mampu mengatur permainan. (Diman, S.Pd, Guru Sejarah)

Editor : Redaksi
#Amerika Serikat #Israel #iran #eropa #militer