Penulis : Prof.Edi Syafri (Director of Green Engineering
Masuknya Prof. Dr. Ir. Nasmi Herlina Sari, M.T, dosen Teknik Mesin Universitas Mataram (UNRAM), dalam daftar “World’s Top 2% Scientists 2026” versi Stanford-Elsevier seharusnya tidak berhenti sebagai kabar membanggakan.
Di balik euforia itu, ada pesan yang jauh lebih penting: dunia akademik tidak mengenal kompromi terhadap kualitas.
Tidak peduli asal kampus, lokasi geografis, atau keterbatasan fasilitas—yang dihitung hanya satu hal: apakah karya ilmiah kita benar-benar dipakai dan berdampak secara global.
Daftar Top 2% ini bukan sekadar ranking biasa. Ia disusun berdasarkan indikator ketat seperti H-indeks, jumlah sitasi, kontribusi sebagai penulis utama, hingga konsistensi publikasi.
Baca Juga: Marta Kostyuk Juara Madrid Open 2026, Tumbangkan Mirra Andreeva dan Rebut Gelar WTA 1000 Perdana
Dengan lebih dari 90 publikasi terindeks Scopus, H-indeks 24, dan lebih dari 2.100 sitasi, karya Prof.
Nasmi terbukti menjadi rujukan peneliti lintas negara—mulai dari Eropa hingga Asia.
Bidang yang ia geluti, seperti material komposit, nanoteknologi, dan energi terbarukan, menjadi arena kompetisi global yang tidak mudah ditembus.
Namun, ia membuktikan bahwa dari Mataram pun, kontribusi ilmiah bisa diakui dunia.
Di titik ini, kita perlu jujur: fakta bahwa hanya satu nama dari Nusa Tenggara Barat yang masuk daftar tersebut adalah prestasi sekaligus peringatan.
Prestasi karena membuktikan bahwa capaian kelas dunia itu mungkin. Peringatan karena menunjukkan bahwa ekosistem riset kita belum cukup kuat untuk melahirkan lebih banyak nama serupa.
Dari ribuan akademisi yang ada, baru satu yang mampu menembus radar global secara konsisten. Ini bukan soal kekurangan individu, melainkan tantangan sistem yang perlu segera dibenahi.
Perjalanan menuju pengakuan global seperti ini jelas bukan proses instan. Dibutuhkan konsistensi bertahun-tahun: membangun kolaborasi internasional, menghadapi penolakan jurnal bereputasi, hingga menjaga ritme publikasi yang tidak mudah.
Baca Juga: Kaesang Lantik Pengurus PSI NTB, Target Dua Kursi DPR RI 2029 dan Perkuat Struktur hingga Desa
Apa yang dicapai Prof. Nasmi adalah hasil dari ketekunan panjang, bukan keberuntungan sesaat.
Justru di sinilah letak pelajaran terbesarnya—bahwa standar global hanya bisa diraih oleh mereka yang bersedia bekerja melampaui batas kenyamanan.
Lebih dari sekadar angka sitasi atau indeks, capaian ini seharusnya mengubah cara pandang kita terhadap riset.
Tidak ada lagi alasan untuk merasa tertinggal hanya karena berada di luar pusat-pusat akademik besar.
Tidak ada ruang untuk cepat puas dengan capaian administratif semata. Dan yang terpenting, tidak ada lagi pembenaran untuk berjalan sendiri-sendiri tanpa membangun kolaborasi yang lebih luas.
Karena itu, keberhasilan ini tidak boleh berhenti sebagai simbol kebanggaan.
Ia harus menjadi titik awal perubahan. Kampus, pemerintah daerah, dan komunitas akademik perlu menjadikannya sebagai referensi nyata—bahwa ada jalan yang sudah terbukti bisa ditempuh.
Tantangannya sekarang adalah memperbanyak yang berjalan di jalur tersebut.
Ke depan, ukuran keberhasilan bukan lagi sekadar satu nama yang bertahan di daftar Top 2%.
Target yang lebih relevan adalah munculnya lebih banyak peneliti dari daerah yang mampu menembus panggung global.
Sebab pada akhirnya, satu nama memang membanggakan, tetapi banyak nama adalah tanda ekosistem yang benar-benar hidup.
Dan mungkin, di situlah makna terbesar dari capaian ini: bukan tentang siapa yang masuk daftar, tetapi tentang bagaimana capaian itu mendorong yang lain untuk tidak lagi merasa cukup dengan standar biasa.
Editor : Kimda Farida