Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Permainan Menjadi Ancaman: Alarm Keselamatan Anak di Era Konten Viral

Redaksi • Jumat, 8 Mei 2026 | 09:30 WIB
Dr. Elinda Rizkasari.,S.Pd.,M.Pd (Dosen prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta)
Dr. Elinda Rizkasari.,S.Pd.,M.Pd (Dosen prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta)

LombokPost - Belum lama ini, ruang publik kembali diguncang oleh kabar duka tentang anak-anak yang kehilangan nyawa akibat meniru aksi freestyle dan tantangan viral yang beredar di media sosial.

Ada yang mencoba atraksi berbahaya tanpa pengawasan, ada yang meniru gerakan ekstrem demi terlihat berani, ada pula yang sekadar ingin dianggap keren oleh teman-temannya. Namun, yang berakhir bukan tepuk tangan, melainkan tangis keluarga yang kehilangan anaknya untuk selamanya.

Fenomena ini bukan lagi sekadar “kenakalan anak”. Ia telah berubah menjadi alarm serius tentang bagaimana dunia digital membentuk perilaku generasi muda hari ini.

Baca Juga: Dapur D’Rice, Nasi Puyung Viral Porsi Kuli di Mataram

Di era media sosial, anak-anak tumbuh dalam budaya tontonan. Popularitas tidak lagi diukur dari prestasi atau kedewasaan, tetapi dari seberapa menarik seseorang di depan kamera. Tantangan ekstrem, aksi berbahaya, dan atraksi nekat sering kali mendapatkan jutaan tayangan, komentar, dan pujian. Dalam logika digital, perhatian adalah hadiah. Dan bagi anak-anak yang masih berada dalam fase pencarian identitas, validasi seperti ini terasa sangat menggoda.

Masalahnya, anak-anak belum memiliki kemampuan matang untuk menilai risiko secara utuh. Mereka melihat aksi viral sebagai hiburan, bukan ancaman. Mereka memahami sensasi, tetapi belum sepenuhnya memahami konsekuensi.

Kita menyaksikan bagaimana beberapa kasus berakhir tragis. Anak-anak yang awalnya hanya ingin mencoba atraksi sederhana justru mengalami cedera berat, bahkan kehilangan nyawa. Di balik video berdurasi singkat yang tersebar di media sosial, ada orang tua yang harus menerima kenyataan pahit bahwa satu momen tanpa pengawasan telah mengubah hidup mereka selamanya.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Drakor Terbaru Mei 2026 Beserta Sinopsisnya, Mulai dari Pahlawan Super Netflix Hingga Kisah Koki Militer yang Viral

Ironisnya, banyak dari peristiwa itu terjadi di tengah keberadaan orang dewasa yang sebenarnya dekat secara fisik, tetapi jauh secara perhatian. Anak-anak kini lebih sering diasuh oleh algoritma dibandingkan percakapan yang hangat di rumah. Media sosial perlahan menjadi “guru baru” yang diam-diam membentuk cara berpikir dan bertindak mereka.

Penelitian terbaru dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa paparan konten berisiko secara berulang dapat meningkatkan kecenderungan anak untuk meniru perilaku berbahaya, terutama ketika perilaku tersebut mendapat respons positif dari lingkungan digital. Kajian yang dipublikasikan dalam beberapa jurnal perkembangan anak pada 2022–2025 juga menunjukkan bahwa anak dan remaja memiliki dorongan tinggi terhadap pencarian sensasi (sensation seeking), sementara kemampuan mengontrol impuls belum berkembang secara optimal.

Laporan UNICEF terbaru tahun 2026 bahkan mengingatkan bahwa dunia digital tanpa pendampingan dapat meningkatkan risiko perilaku imitasi berbahaya pada anak. Dalam konteks ini, konten viral bukan hanya persoalan hiburan, tetapi juga persoalan keselamatan.

Baca Juga: VIRAL: Aksi Berbahaya Balita 4 Tahun Santai Berbaring di Atas Genteng, Warga Histeris!

Namun, menyalahkan anak sepenuhnya tentu bukan solusi. Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka ingin mencoba, mengeksplorasi, dan mencari pengakuan. Persoalannya adalah apakah lingkungan di sekitar mereka mampu menjadi pagar yang melindungi.

Sayangnya, banyak orang tua hari ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Kesibukan kerja, kelelahan mental, dan tekanan ekonomi membuat pengawasan terhadap anak sering kali melemah. Gadget akhirnya menjadi “penjaga paling praktis”. Anak tenang, orang tua merasa aman. Padahal, di balik layar kecil itu, ada dunia tanpa batas yang tidak semuanya ramah bagi perkembangan anak.

Di sisi lain, platform media sosial juga memiliki tanggung jawab moral. Konten berbahaya sering kali menyebar jauh lebih cepat dibandingkan edukasi keselamatan. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian, bukan keamanan. Selama konten ekstrem menghasilkan interaksi tinggi, ia akan terus muncul di beranda anak-anak.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan sesaat setiap kali tragedi terjadi. Kita membutuhkan langkah yang lebih serius dan berkelanjutan.

Pertama, literasi digital harus menjadi bagian penting dalam pola pengasuhan modern. Orang tua tidak cukup hanya membatasi durasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu memahami jenis konten yang dikonsumsi anak. Pendampingan digital harus menjadi bagian dari kedekatan emosional keluarga.

Kedua, komunikasi di rumah perlu diperkuat. Anak-anak yang merasa didengar cenderung lebih terbuka terhadap nasihat dan pengawasan orang tua. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam relasi yang dingin akan lebih mudah mencari validasi dari dunia luar, termasuk media sosial.

Ketiga, sekolah perlu mengambil peran lebih aktif dalam edukasi keselamatan digital. Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua hal viral layak ditiru. Keberanian sejati bukanlah melakukan aksi berbahaya demi tontonan, melainkan kemampuan menjaga diri dan menghargai hidup.

Keempat, pemerintah dan platform digital perlu memperketat pengawasan terhadap konten yang membahayakan anak. Konten ekstrem yang berpotensi ditiru seharusnya tidak dibiarkan bebas beredar hanya demi angka interaksi.

Dan yang tidak kalah penting, kita perlu kembali menghadirkan ruang bermain dan interaksi nyata bagi anak-anak. Anak yang memiliki hubungan hangat dengan keluarga, lingkungan, dan aktivitas positif cenderung tidak mudah mencari sensasi berbahaya di dunia maya.

Tragedi demi tragedi yang terjadi hari ini seharusnya menjadi peringatan bahwa kita sedang menghadapi perubahan besar dalam dunia pengasuhan. Ancaman terhadap anak tidak lagi hanya datang dari luar rumah, tetapi juga dari layar yang setiap hari berada di genggaman mereka.

Karena pada akhirnya, masa depan anak-anak tidak cukup dijaga hanya dengan cinta. Ia juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan keberanian orang dewasa untuk mengatakan: tidak semua yang viral layak ditiru. (*)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#freestyle #kenakalan anak #viral #risiko #ruang publik