Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

AIPreneur dan Technofinance untuk Masa Depan UMKM NTB

Redaksi • Jumat, 5 Juni 2026 | 13:34 WIB
Restu Alpiansah, S.Ak., MA., MFin./Dosen Manajemen Keuangan di Program Studi S-1 Manajemen Universitas Bumigora
Restu Alpiansah, S.Ak., MA., MFin.(Dosen Manajemen Keuangan di Program Studi S-1 Manajemen Universitas Bumigora)

LombokPost - Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah dengan potensi ekonomi yang terus berkembang. Sektor pariwisata, pertanian, perikanan, perdagangan, dan ekonomi kreatif menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi masyarakat. Di balik berbagai sektor tersebut, terdapat satu kekuatan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, yaitu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTB (Satu Data NTB, 2024), jumlah UMKM di NTB pada tahun 2024 mencapai 324.624 unit usaha. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa UMKM bukan hanya pelengkap pembangunan ekonomi, melainkan fondasi utama yang menopang kesejahteraan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja di berbagai wilayah NTB.

Memasuki era transformasi digital dan kecerdasan buatan yang semakin cepat, jumlah UMKM yang besar tidak serta-merta menjamin daya saing yang kuat. Lanskap bisnis saat ini mengalami perubahan yang sangat dinamis. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk dan harga, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi. Dalam konteks inilah konsep AIPreneur dan Technofinance menjadi penting untuk diperkenalkan sebagai strategi baru dalam memperkuat daya saing UMKM NTB menuju Indonesia Emas tahun 2045.

 Baca Juga: Perbankan NTB Sebaiknya Pacu Kredit UMKM

AIPreneur merupakan gabungan dari Artificial Intelligence dan Entrepreneur. Istilah ini menggambarkan pelaku usaha yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas bisnisnya. AI saat ini telah berkembang menjadi teknologi yang semakin mudah diakses dan digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk UMKM. Kehadiran AI memungkinkan pelaku usaha melakukan berbagai pekerjaan secara lebih cepat, efisien, dan berbasis data.

Melalui AI, pelaku UMKM dapat membuat konten pemasaran secara otomatis, melakukan analisis tren pasar, memahami perilaku konsumen, menyusun strategi promosi, hingga menghasilkan ide produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Tugas-tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada inovasi dan pengembangan bisnis.

Pada sisi lain, perkembangan teknologi juga melahirkan konsep Technofinance. Secara sederhana, Technofinance dapat dipahami sebagai pemanfaatan teknologi dalam aktivitas keuangan (Alpiansah, 2025). Konsep ini mencakup penggunaan pembayaran digital, pencatatan transaksi berbasis aplikasi, pengelolaan keuangan digital, hingga akses pembiayaan berbasis teknologi. Kehadiran Technofinance membantu UMKM mengelola keuangan secara lebih profesional, transparan, dan terukur.

 Baca Juga: OJK NTB: Ekonomi Nasional Stabil, Penguatan UMKM Jadi Fokus Utama di Tahun 2026

Pentingnya transformasi digital bagi UMKM sebenarnya telah menjadi perhatian berbagai pihak. Bank Indonesia Provinsi NTB, misalnya, terus mendorong akselerasi transformasi digital UMKM melalui perluasan penggunaan QRIS, pemasaran digital, dan pelatihan pencatatan keuangan berbasis aplikasi (Metro NTB, 2024). Upaya ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diadopsi oleh pelaku usaha agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.

Selain itu, Bank NTB Syariah bersama Pemerintah Provinsi NTB juga terus mengembangkan literasi keuangan digital melalui pemanfaatan sistem pembayaran digital dan edukasi keuangan bagi pelaku UMKM (ANTARA NTB, 2026). Langkah ini menjadi penting karena salah satu tantangan utama UMKM selama ini adalah pengelolaan keuangan yang belum optimal. Tidak sedikit pelaku usaha yang masih mencampurkan keuangan pribadi dan usaha sehingga sulit melakukan evaluasi kinerja bisnis secara objektif. Hingga saat ini, para pelaku usaha masih enggan untuk melakukan pencatatan keuangan secara terstruktur. Padahal, dengan kemajuan teknologi saat ini, pencatatan keuangan bisa jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa dimana AI dan teknologi keuangan belum secanggih saat ini.

Kombinasi antara AIPreneur dan Technofinance berpotensi menjadi katalisator baru bagi pertumbuhan UMKM NTB. AI dapat meningkatkan produktivitas dan efektivitas pemasaran, sementara Technofinance memperkuat aspek pengelolaan keuangan dan akses terhadap permodalan. Ketika kedua pendekatan ini diterapkan secara bersamaan, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, memperluas pasar dan meningkatkan daya saingnya.

Baca Juga: BPJPH Pacu Sertifikasi Halal Gratis UMKM di NTB

Menariknya, NTB memiliki modal demografis yang cukup menjanjikan untuk mendorong transformasi tersebut. Data Dinas Perindustrian Provinsi NTB menunjukkan bahwa sekitar 75 persen pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di NTB didominasi oleh generasi milenial (NTB Satu, 2023). Fakta ini menjadi sinyal positif karena generasi milenial dikenal lebih adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap inovasi dan memiliki karakteristik yang mendukung percepatan transformasi digital.

Dominasi generasi milenial dalam aktivitas usaha menunjukkan bahwa NTB memiliki peluang besar untuk melahirkan lebih banyak AIPreneur di masa depan. Terlebih lagi, generasi Z yang kini mulai memasuki dunia kerja dan kewirausahaan juga memiliki kedekatan yang tinggi dengan teknologi digital. Kombinasi kedua generasi ini dapat menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun ekosistem bisnis berbasis teknologi di daerah.

Meski demikian, optimisme tersebut harus dibarengi dengan upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hingga saat ini belum tersedia data resmi yang secara khusus mengukur tingkat literasi AI pelaku UMKM di NTB. Namun, berbagai program pelatihan yang mulai diperkenalkan menunjukkan bahwa kebutuhan akan literasi AI semakin meningkat. Pada tahun 2026, PLN Unit Induk Wilayah NTB mengadakan pelatihan pemanfaatan AI untuk promosi produk UMKM sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas digital pelaku usaha (ANTARA NTB, 2026).

Langkah tersebut menunjukkan bahwa AI mulai dipandang sebagai instrumen strategis dan penting dalam pengembangan UMKM. Sebelumnya, Google Indonesia juga telah melatih ribuan pelaku UMKM di NTB melalui program Gapura Digital untuk meningkatkan kemampuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital dalam bisnis (ANTARA NTB, 2019). Berbagai inisiatif tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kesiapan UMKM menghadapi era ekonomi digital.

Transformasi UMKM tentu tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, lembaga keuangan dan komunitas bisnis. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan program pendampingan UMKM. Peran perguruan tinggi sangat penting terutama dalam mengelola kurikulumnya agar sudah mulai memasukkan AI dan Technofinance ke dalam materi pembelajaran. Hal ini tentunya akan semakin membantu kita dalam mencetak generasi masa depan yang melek dalam bidang IT keuangan dan teknologi AI. Selain itu, Pemerintah daerah juga perlu terus memperkuat infrastruktur digital dan memperluas akses pelatihan bagi pelaku usaha di berbagai wilayah.

Di masa yang akan datang, daya saing UMKM tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. AI akan mengubah cara bisnis dijalankan, sementara Technofinance akan mengubah cara keuangan dikelola. Pelaku usaha yang mampu memanfaatkan kedua instrumen tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat dibanding mereka yang masih bertahan dengan pola konvensional.

Jumlah UMKM yang mencapai lebih dari 324 ribu unit usaha dan dominasi generasi milenial sebagai pelaku usaha ini, NTB sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk memasuki era ekonomi digital. Tantangannya bukan lagi pada ketersediaan teknologi, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkannya secara produktif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sudah saatnya transformasi UMKM tidak hanya berbicara tentang digitalisasi sederhana, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem AIPreneur dan Technofinance yang kuat. Jika langkah ini dilakukan secara konsisten, maka UMKM NTB tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang lebih inovatif, adaptif, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global. Dengan demikian, NTB pun akan semakin cepat mendunia. (*)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#UMKM #ai #pelaku usaha #NTB #indonesia emas