Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjaga Penolong Agar Tetap Mampu Menolong, Mengapa Wellbeing Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Harus Menjadi Prioritas

Hamdani Wathoni • Jumat, 3 Juli 2026 | 07:32 WIB
DR. dr. Rohadi Sp.BS, Subsp.N-Onk (K), S.H, M.H.Kes (Ketua IDI Wilayah NTB)
DR. dr. Rohadi Sp.BS, Subsp.N-Onk (K), S.H, M.H.Kes (Ketua IDI Wilayah NTB)

LombokPost - Pelayanan kesehatan selalu dipandang sebagai panggilan kemanusiaan. Masyarakat berharap dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga laboratorium, dan seluruh tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan yang profesional, cepat, empatik, dan aman dalam berbagai situasi.

Namun di balik tuntutan tersebut terdapat satu aspek yang sering terlupakan, yaitu wellbeing tenaga medis dan tenaga kesehatan itu sendiri. Padahal, kualitas pelayanan pasien sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual para pemberi layanan.

Berbagai laporan internasional dalam periode 2023–2026 menunjukkan bahwa burnout, depresi, kelelahan kronis, gangguan tidur, moral injury, dan stres berkepanjangan masih menjadi persoalan serius di kalangan tenaga kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, sementara berbagai publikasi di JAMA, The Lancet, BMJ, dan National Academy of Medicine menunjukkan bahwa burnout tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga meningkatkan medical error, menurunkan kualitas komunikasi, memperburuk keselamatan pasien, serta meningkatkan angka pengunduran diri tenaga kesehatan.

Di Indonesia, tantangan tersebut semakin kompleks. Tingginya beban pelayanan, tuntutan administratif, sistem pembiayaan kesehatan, keterbatasan sumber daya manusia, ancaman litigasi, intimidasi, kekerasan terhadap tenaga kesehatan, hingga paparan media sosial menciptakan tekanan psikologis yang terus meningkat.

Dalam kondisi demikian, menjaga wellbeing bukanlah bentuk kemewahan, melainkan bagian dari kompetensi profesional.
Konsep wellbeing tidak sekadar berarti bebas dari penyakit.

Modul Wellbeing Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram menjelaskan bahwa wellbeing merupakan kondisi sejahtera secara fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual yang memungkinkan seseorang belajar, bekerja, beradaptasi, serta memberikan pelayanan secara optimal.

Modul tersebut juga menekankan pendekatan PERMA, pengelolaan stres, mindfulness, aktivitas fisik, refleksi diri, dan pencarian makna profesi sebagai bagian dari pembentukan tenaga kesehatan yang tangguh. 

Wellbeing fisik berarti menjaga tidur yang cukup, nutrisi seimbang, aktivitas fisik, hidrasi, pemeriksaan kesehatan berkala, dan manajemen risiko kesehatan. Seluruh aspek tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan konsentrasi, pengambilan keputusan klinis, daya tahan tubuh, serta keselamatan pasien. 

Baca Juga: Melindungi yang Menyelamatkan: Negara Harus Berdiri di Belakang Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan

Tidak kalah penting adalah wellbeing spiritual. Tenaga medis dan tenaga kesehatan yang memiliki makna profesi, empati, refleksi moral, serta ketahanan psikologis yang baik terbukti lebih mampu menghadapi tekanan pekerjaan, membangun komunikasi yang manusiawi, dan mempertahankan kualitas pelayanan bahkan pada situasi klinis yang berat. 

Rumah sakit dan institusi pendidikan kesehatan perlu mengubah paradigma. Selama ini indikator keberhasilan lebih banyak diukur dari produktivitas pelayanan, jumlah tindakan, atau capaian administrasi.

Ke depan, indikator wellbeing tenaga kesehatan perlu menjadi bagian dari tata kelola mutu, melalui skrining burnout, layanan konseling yang mudah diakses, jadwal kerja yang manusiawi, budaya saling mendukung, perlindungan terhadap intimidasi, kepemimpinan yang suportif, serta ruang refleksi profesional.

Pada akhirnya, menjaga wellbeing tenaga medis dan tenaga kesehatan bukanlah kepentingan individu semata. Ini adalah investasi terhadap keselamatan pasien, mutu pelayanan, keberlanjutan sistem kesehatan, dan kepercayaan masyarakat. Penolong yang sehat akan mampu menolong lebih baik.

Baca Juga: Revolusi Pelayanan Kesehatan: Presiden Prabowo Siapkan Beasiswa Penuh bagi Tenaga Medis, Target 1 RS Modern per Kabupaten/Kota

Sebaliknya, sistem yang terus menguras tenaga kesehatan tanpa memulihkan mereka pada akhirnya juga akan mengorbankan pasien. Karena itu, sudah saatnya wellbeing dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme dan keselamatan pelayanan kesehatan.

Editor : Rury Anjas Andita
#Tenaga Kesehatan #ikatan dokter indonesia #tenaga medis #IDI #NTB