Oleh: Wahidi Akbar Sirinawa
LombokPost-Suatu hari nanti, Batu Hijau akan berhenti berbunyi.
Jalan tambang yang puluhan tahun dilalui alat berat kelak akan lengang. Mesin-mesin yang mengangkat tembaga dan emas dari perut Sumbawa Barat akan berhenti. Debu akan turun. Pada hari seperti itu, NTB harus menjawab pertanyaan yang lama mudah ditunda: apa yang tersisa ketika salah satu denyut ekonomi penting berhenti bekerja?
Pertanyaan itu terdengar jauh. Padahal, ia harus dijawab sekarang, saat tambang masih bekerja, pekerja masih berganti sif, dan pabrik masih menyala.
Batu Hijau memulai produksi komersial pada 2000. Hingga 31 Desember 2025, tambang ini mencatat produksi kumulatif 10.364 juta pon tembaga dan 10,9 juta ons emas. Angka sebesar itu ikut membentuk sejarah kerja, pendapatan daerah, keluarga pekerja, rantai pasok, dan wajah Sumbawa Barat selama lebih dari dua dekade.
Namun, umur operasi tambang tetap punya batas. Pada 2025, Batu Hijau mulai menghasilkan bijih awal dari Fase 8. Tahap penambangan lanjutan ini menambah cadangan bijih 442 juta ton dan memperpanjang umur operasi hingga sekitar 2030. Studi kelayakan definitif tambang Elang selesai pada 2025. Pembangunannya dijadwalkan mulai 2026, lalu produksi bijih awal direncanakan pada 2031.
Baca Juga: Cerita Sasambo 2026 Dibuka, AMMAN Siapkan Hadiah Ratusan Juta untuk Jurnalis NTB
Urutan waktu itu memberi NTB tambahan napas. Namun, tambahan waktu bisa menjadi jembatan menuju kemandirian atau alasan baru untuk menunda. Elang dapat memperpanjang kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi. Namun, proyek itu juga dapat memperpanjang ketergantungan bila daerah kembali menyerahkan denyut ekonominya kepada tambang berikutnya.
Karena itu, peralihan Batu Hijau–Elang tidak boleh hanya berarti perpindahan pusat operasi. Ukurannya terletak pada kemampuan NTB mengubah waktu tambahan menjadi keterampilan, usaha mandiri, dan ekonomi yang tidak goyah ketika satu fase tambang berakhir.
Pengalaman daerah tambang lain memberi peringatan. Appalachia di Amerika Serikat lama bertumpu pada batu bara. Saat industri itu melemah, pekerjaan menyusut dan usaha sekitar ikut terdampak. Ketika transisi terlambat disiapkan, yang lebih dulu terasa bukan pidato tentang ekonomi baru. Yang terasa adalah kontrak yang habis, toko yang sepi, dan keluarga yang mulai menghitung ulang pengeluaran.
Baca Juga: AMMAN Cetak Laba USD 163 Juta di Awal 2026, Produksi dan Penjualan Melonjak
Ruhr di Jerman menunjukkan kemungkinan lain. Kawasan yang lama tumbuh dari batu bara dan baja itu memakai kembali ruang bekas tambang dan pabrik untuk fungsi baru: ruang budaya, kawasan pendidikan, tempat rekreasi, hingga pusat usaha. Masa lalu industrinya tidak dihapus, tetapi dijadikan dasar untuk membangun kehidupan baru.
NTB tidak perlu menjadi Appalachia. NTB juga tidak harus menyalin Ruhr. Dua contoh itu cukup menjadi pengingat bahwa daerah tambang tidak boleh menunggu mesin berhenti lebih dulu baru memikirkan masa depannya.
Keberhasilan Batu Hijau selama ini mudah dibaca melalui jumlah mineral, umur operasi, investasi, dan hilirisasi. Semua itu merupakan capaian penting bagi industri. Namun, capaian perusahaan belum otomatis menjadi capaian daerah. Ia baru berarti bagi NTB bila pengetahuan tinggal, pekerja lokal naik kelas, pemasok mampu berdiri tanpa satu pembeli, dan anak muda memperoleh bekal untuk bekerja di luar siklus tambang.
Data tenaga kerja menjadi pintu untuk menguji soal itu. Pada 2025, AMMAN mencatat 2.875 karyawan tetap dan 21.792 kontraktor. Pekerja lokal mengambil porsi 40 persen. Angka ini menunjukkan keterlibatan, tetapi belum membuktikan kesiapan pascatambang. Ukurannya terletak pada keterampilan yang tetap bernilai setelah kontrak berakhir dan kemampuan pekerja berpindah ke sektor lain.
Baca Juga: AMMAN Cetak Sejarah: Melangkah Maju sebagai Produsen Tembaga dan Emas Terintegrasi Penuh
Laporan Keberlanjutan AMMAN 2025 juga mencatat 8.791 orang dari komunitas lokal bekerja dengan AMMAN, termasuk sebagai karyawan, tenaga aliansi, dan mitra bisnis. Jaringan pemasok lokal mencapai 1.566 dan mewakili 88 persen pengeluaran pengadaan. Perusahaan menginvestasikan USD 5,6 juta untuk program pengembangan masyarakat.
Angka-angka itu menunjukkan besarnya hubungan ekonomi antara perusahaan dan komunitas lokal. Namun, hubungan yang besar juga berarti risiko ketergantungan yang besar. Pemasok yang tumbuh bersama kontrak tambang belum tentu mampu bertahan tanpa pesanan perusahaan. Keterlibatan baru menjadi ketahanan bila orang dan usaha lokal sanggup berdiri saat tambang bukan lagi penggerak utama.
Batu Hijau juga membentuk kebiasaan kerja. Pekerja berhadapan dengan jam kerja ketat, prosedur keselamatan, teknologi, perawatan alat, pengolahan mineral, energi, logistik, dan standar mutu. Pemasok lokal belajar menjaga tenggat, kualitas, administrasi, dan keselamatan. Namun, disiplin industri baru menjadi warisan bila kemampuan itu bisa dibawa keluar pagar tambang, masuk ke bengkel, usaha jasa, ruang kelas, dan sektor ekonomi lain.
Orang mudah melihat lubang dan menghitung produksi. Yang lebih sulit adalah menilai apakah sebuah industri benar-benar membuat orang-orang di sekitarnya lebih terampil dan lebih siap hidup setelah operasi memasuki babak baru.
Hilirisasi memperjelas perbedaan antara capaian perusahaan dan capaian daerah. Pada 2025, AMMAN memproduksi katoda tembaga pertama pada Maret dan emas murni pertama pada Juli. Katoda tembaga merupakan produk tembaga hasil pemurnian. Peristiwa ini menandai rantai industri yang bergerak lebih jauh dari konsentrat, bahan setengah jadi sebelum pemurnian.
Bagi perusahaan, produksi itu menjadi tonggak industri. Bagi NTB, hilirisasi baru menjadi capaian daerah bila melahirkan tenaga ahli lokal, riset kampus, keterampilan baru di SMK, usaha turunan, dan pengetahuan yang tetap tinggal ketika fasilitas berhenti beroperasi.
Baca Juga: AMMAN Buka Beasiswa SMK Unggulan 2026, Gratis Sekolah hingga Sertifikasi Internasional
Di balik proses pemurnian ada kerja metalurgi, laboratorium, listrik, pengelolaan limbah, keselamatan, dan ketelitian produksi. Tanpa hubungan nyata dengan sekolah, kampus, balai latihan kerja, dan usaha lokal, nilai tambah bisa berhenti di dalam pagar pabrik.
Anak muda NTB tidak seharusnya hanya menunggu lowongan di ujung rantai industri. Bekal mereka bukan hanya akses terhadap lowongan, tetapi penguasaan teknologi, membaca peluang usaha, dan membangun kemampuan yang tetap berguna ketika tambang memasuki fase baru. Peran kampus lokal akan terlihat dari tumbuhnya riset energi, air, reklamasi, pengolahan mineral, dan ekonomi pascatambang.
Tanggung jawab itu tidak bisa diletakkan hanya pada perusahaan. Pemerintah daerah juga memegang peran karena masa depan setelah tambang menyangkut arah pendidikan, tenaga kerja, tata ruang, usaha lokal, dan ekonomi daerah.
Ukuran keseriusan pemerintah bukan banyaknya forum tentang pascatambang. Ukurannya terlihat pada peta keterampilan, hubungan sekolah dengan industri, dukungan bagi pemasok agar punya pasar lain, serta rencana ekonomi yang tidak menempatkan tambang sebagai satu-satunya penyangga.
Penutupan tambang memang bicara lahan, air, vegetasi, fasilitas, dan pemulihan bentang alam. Bagi masyarakat, penutupan juga berarti perubahan ritme hidup. Ada pekerjaan yang berakhir, indekos yang kehilangan penghuni, rumah makan yang sepi, pemasok yang harus mencari pasar, dan keluarga yang menyusun ulang masa depan.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum NTB dan AMMAN Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual untuk Warisan Budaya Sumbawa
Dosen Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Mataram, Syamsul Hidayat Daud, memperkirakan masyarakat sekitar tambang dapat melewati tiga fase setelah operasi berakhir: guncangan sosial-ekonomi, penyesuaian, lalu kemandirian. Fase pertama bisa terasa paling berat karena banyak aktivitas ekonomi mikro selama ini ikut bergerak bersama operasi tambang, mulai dari penginapan, indekos, pemasok logistik, pertanian, peternakan, rumah makan, hingga usaha jasa.
“Manfaat dari aktivitas industri tambang hari ini harus diarahkan secara sistematis untuk membangun ketahanan ekonomi mikro maupun makro ketika tambang berakhir. Kontrol dan pengawasan lingkungan juga harus dilakukan secara ketat dan berorientasi masa depan,” kata Syamsul.
Batu Hijau sudah memberi NTB pelajaran panjang tentang industri. Elang memberi tambahan waktu untuk menentukan apakah pelajaran itu akan menjadi bekal atau sekadar jeda sebelum ketergantungan berikutnya. Daerah tidak boleh hanya menunggu dampak ekonomi datang dari operasi baru.
Mungkin ada yang merasa pembicaraan tentang pascatambang masih terlalu jauh. Padahal, justru karena terasa jauh, ia harus disiapkan dari sekarang. Daerah sering terlambat bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan akibat terlalu lama merasa masih punya waktu.
Seratus tahun setelah Batu Hijau, orang mungkin tidak lagi mengingat angka produksi tahunannya. Mereka mungkin tidak hafal berapa banyak tembaga dan emas pernah diangkat dari sana. Tetapi mereka akan tahu apakah tambang itu meninggalkan generasi yang lebih siap.
Yang akan mereka lihat kelak bukan angka produksi, melainkan jejak yang tinggal: anak-anak NTB yang mewarisi keterampilan, kampus yang tumbuh bersama kebutuhan daerah, usaha lokal yang naik kelas, bekas ruang industri yang menemukan fungsi baru, dan ekonomi daerah yang tetap bergerak tanpa terus bergantung pada tambang.
Kelak, ukuran Batu Hijau tidak hanya terletak pada mineral terakhir yang diangkat. Ia juga akan terlihat dari kehidupan yang tetap berjalan setelah mesin-mesin berhenti.
Editor : Akbar Sirinawa