Ketahanan Pangan Berakar pada Tanah, Bernapas lewat Udara

Pujo Nugroho • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:34 WIB
Lalu Mokh Reza Anshari
Lalu Mokh Reza Anshari

 

 

Oleh Lalu Mokh Reza Anshari, ST., M.Ling.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB

Asap tebal membubung dari tumpukan jerami di sawah yang telah dipanen. Perlahan, pepohonan di sekitarnya tersamar. Pemandangan seperti ini masih dijumpai di sebagian lahan pertanian Nusa Tenggara Barat. Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan sisa panen menjadi salah satu pekerjaan yang perlu mendapat perhatian karena berhubungan dengan kesehatan tanah dan kualitas udara.

Sawah merupakan ruang produksi sekaligus bagian dari lingkungan tempat masyarakat hidup. Tanah yang sehat menopang tanaman, sementara udara bersih mendukung kesehatan petani dan keluarganya. Hubungan ini menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga kemampuan daerah menghasilkan pangan secara berkelanjutan.

Visi pembangunan NTB 2025–2029, “Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia”, yang diusung Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, memberi arah bagi pekerjaan tersebut. Triple Agenda pembangunan daerah mencakup pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan NTB sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Ketiganya memerlukan lingkungan yang mampu menopang kegiatan ekonomi serta kehidupan masyarakat.

Khusus pada agenda ketahanan pangan, arah menjadikan NTB sebagai lumbung pangan nasional memerlukan kesinambungan produksi. Sawah perlu tetap mampu berproduksi dari satu musim ke musim berikutnya, dengan kondisi tanah yang terpelihara dan pengelolaan sumber daya yang semakin efisien. Dalam kerangka inilah pengelolaan jerami dapat menjadi salah satu langkah praktis untuk mendukung ketahanan pangan dari tingkat lahan.

Baca Juga: Wagub NTB: Buku Two Islands, One Thread Perkuat Diplomasi Budaya

Pembakaran jerami mempunyai alasan yang perlu dipahami. Petani membutuhkan lahan yang segera siap diolah, tenaga yang terjangkau, dan kepastian waktu tanam berikutnya. Sebagian juga memanfaatkan abu pembakaran untuk menyumbang kesuburan. Pemahaman terhadap kebutuhan ini akan membantu kita menghadirkan perbaikan yang dapat diterapkan petani.

Abu jerami memang masih mengandung sebagian unsur hara, terutama kalium. Namun, pembakaran menyebabkan sebagian besar nitrogen dalam jerami hilang, disertai kehilangan unsur hara lain dan karbon organik. Karena itu, manfaat abu perlu dilihat bersama nilai bahan yang hilang selama pembakaran. Jerami sebelum dibakar masih menyimpan potensi untuk mendukung pengelolaan kesuburan tanah.

Jika dikelola dengan tepat, pengembalian bahan organik jerami membantu mendaur ulang hara, memperbaiki sifat tanah, dan mendukung organisme tanah. Bahan organik juga membantu tanah menyimpan air. Fungsi-fungsi tersebut merupakan modal ekologis bagi produksi pangan. Merawatnya menjadi bagian dari memelihara kemampuan sawah menopang panen pada musim-musim berikutnya.

Di atas lahan, perhatian tertuju pada asap. Pembakaran jerami menghasilkan partikel halus, termasuk PM2,5, serta gas pencemar seperti karbon monoksida. Paparan partikel pencemar dapat mengganggu fungsi paru dan memperburuk asma; paparan jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan pernapasan. Petani yang bekerja di sekitar pembakaran dan warga yang terpapar asap sama-sama perlu dilindungi.

Baca Juga: Pemprov NTB Evaluasi Keluhan Petani soal DBHCHT

Udara bergerak melampaui batas petakan dan menghubungkan sawah dengan permukiman. Mengurangi asap karena itu mempunyai arti bagi kesehatan masyarakat pertanian sendiri. Keluarga petani yang diharapkan memperoleh manfaat dari penguatan ketahanan pangan juga membutuhkan lingkungan hidup yang sehat.

Pembakaran jerami turut melepaskan gas rumah kaca, termasuk metana dan dinitrogen oksida. Pengurangan pembakaran dapat menjadi bagian dari pengelolaan pertanian yang memperhatikan emisi. Manfaat lingkungannya perlu dipertimbangkan bersama pilihan teknis pengganti, sehingga perbaikan benar-benar sesuai dengan kondisi sawah dan kebutuhan produksi.

Diagram alur pembakaran jerami, dampak pada tanah dan udara, pengelolaan jerami yang lebih baik, serta kontribusinya pada Triple Agenda dan visi NTB.

Salah satu pilihannya adalah mengolah jerami menjadi kompos atau mengembalikannya ke tanah dengan pengaturan waktu dan air yang tepat. Pembenaman jerami segar pada sawah yang terus tergenang dapat meningkatkan emisi metana akibat penguraian dalam kondisi minim oksigen. Pendampingan teknis diperlukan agar pengelolaannya mendukung kesehatan tanah sekaligus mengendalikan dampak lingkungan

Jerami juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak melalui pengolahan dan penyusunan ransum yang sesuai, atau sebagai media jamur apabila terdapat pelaku usaha dan pasar. Jika jerami dibawa keluar lahan, keseimbangan hara sawah perlu tetap dijaga melalui pengelolaan bahan organik dan pemupukan sesuai kebutuhan tanah.

Baca Juga: Pemprov NTB Perketat Pembukuan Aset, Cegah Data dan Fisik Tak Sinkron

Hubungannya dengan agenda pengentasan kemiskinan dapat dibangun melalui kegiatan ekonomi yang layak di tingkat desa. Pengumpulan jerami, jasa pencacahan, atau pengolahan kompos berpotensi membuka peluang usaha apabila kebutuhan pengguna dan perhitungan biayanya jelas. Peluang ini perlu diuji bersama petani agar pemanfaatan jerami dapat memberi nilai tambah yang sepadan dengan tenaga serta biaya yang dikeluarkan.

Keterkaitan dengan pariwisata berkelas dunia hadir melalui kualitas lingkungan wilayah. Di sekitar desa wisata dan jalur perjalanan, udara yang lebih bersih serta lanskap sawah yang terawat dapat mendukung kenyamanan warga dan pengunjung. Pertanian tetap menjalankan fungsi produksinya sekaligus menjadi bagian dari identitas dan kehidupan desa yang dinikmati dalam pengalaman wisata.

Kontribusi pengelolaan jerami terhadap Triple Agenda tersebut dapat dimulai dari percontohan pada satu hamparan. Kelompok tani dan penyuluh menyusun rencana sejak sebelum panen, menentukan pilihan pemanfaatan, kebutuhan alat, serta waktu pelaksanaannya. Pemerintah daerah dapat mendukung layanan sesuai hambatan yang ditemukan, sementara kerja sama dengan pelaku usaha dibangun berdasarkan kebutuhan yang nyata.

Dinas yang menangani pertanian dan lingkungan hidup dapat bekerja bersama dalam pendampingan lapangan. Unsur peternakan dilibatkan apabila jerami dimanfaatkan untuk pakan, sedangkan unsur kesehatan mendukung perlindungan masyarakat dari paparan asap. Koordinasi ini perlu memudahkan petani memperoleh layanan yang dibutuhkan untuk mengelola jerami secara lebih baik.

Percontohan tersebut sebaiknya dilengkapi catatan biaya, waktu penyiapan lahan, jumlah jerami yang dimanfaatkan, dan hasil panen berikutnya. Kondisi tanah perlu dipantau dalam beberapa musim. Pengukuran kualitas udara pada lokasi pembakaran berulang juga dapat membantu mengenali paparan dan menilai perubahan setelah pengelolaan diperbaiki. Hasilnya menjadi dasar untuk memilih cara yang layak diperluas.

Baca Juga: Pemprov NTB Dorong Perluasan Akses Pembiayaan bagi 533 Ribu UMKM Belum Terjangkau KUR

Dengan pendekatan ini, arah pembangunan NTB Makmur Mendunia dapat diterjemahkan ke dalam pekerjaan yang dekat dengan keseharian petani. Pengelolaan jerami membantu merawat modal produksi pangan, membuka kemungkinan nilai tambah di desa, dan mendukung kualitas lingkungan wilayah. Perubahan dimulai dari cara kita memperlakukan bahan yang tersisa setelah panen, dengan petani sebagai pelaku utama.

Jerami yang dikelola dengan baik menjadi bagian dari ikhtiar menjaga tanah dan udara tempat pangan dihasilkan. Melalui langkah yang terjangkau dan dikerjakan bersama, penguatan ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan pemeliharaan lingkungan serta kesejahteraan keluarga petani. Di sawah yang terus hidup itulah visi pembangunan daerah memperoleh makna yang dapat dirasakan masyarakat.

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Dari berbagai sumber
Ketahanan Pangan NTB Pengelolaan Jerami Berita Daerah Pertanian NTB lingkungan hidup