LombokPost - Tesla Inc. mulai meluncurkan teknologi Full Self-Driving (FSD) Supervised atau mengemudi otonom di Tiongkok. Sistem FSD Supervised mengandalkan akal imitasi (AI) yang dilatih menggunakan jutaan data video dari pengalaman berkendara nyata dan bukan sekadar pemrograman aturan statis.
Dilansir dari The Wall Street Journal, Tesla menyebut bahwa FSD Supervised telah tersedia di Tiongkok sebagai negara kesepuluh di dunia.
Sebelumnya, selain negara-negara Benua Amerika, FSD Supervised telah masuk ke Benua Asia ke Korea Selatan, lalu Benua Australia (Australia dan Selandia Baru), serta Benua Eropa melalui Belanda dan Lithuania.
Efek Kedatangan Musk
Di Tiongkok, peluncuran itu tidak lepas dari dinamika geopolitik dan bisnis yang melibatkan CEO Tesla Elon Musk.
Pekan lalu, Musk melakukan kunjungan ke Beijing dalam rangkaian agenda bisnis besar bersama delegasi yang hadir dalam pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Baca Juga: Elon Musk Umumkan Robotaxi Tesla Rilis 22 Juni, Tapi Belum Pasti? Ini Faktanya!
Persetujuan tersebut memperkuat posisi Tesla di pasar kendaraan listrik Tiongkok, sekaligus menempatkan perusahaan pada kompetisi langsung dengan pemain lokal yang juga mengembangkan teknologi serupa.
Di antara mereka, XPeng menjadi salah satu yang paling sering dibandingkan dalam kemampuan sistem mengemudi otonom.
”Langkah ini merupakan katalis positif bagi industri otomotif Tiongkok karena akan mempercepat pengembangan teknologi mengemudi otonom di Tiongkok,” kata Analis CCB International, Qu Ke.
Baca Juga: Elon Musk Mundur dari Pemerintahan Trump, Fokus Lagi ke Tesla di Tengah Penurunan Penjualan
Dalam pandangan Qu, kondisi tersebut menjadi semakin relevan di tengah pelemahan pasar.
”Industri otomotif Tiongkok telah menghadapi pelemahan permintaan dalam beberapa bulan terakhir,” imbuhnya.
Pasar Otomotif Melemah
Data dari China Passenger Car Association menunjukkan tentang tekanan yang belum mereda di pasar otomotif Tiongkok. Penjualan ritel mobil penumpang pada April turun 21,5 persen menjadi 1,38 juta unit dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa pelemahan permintaan terjadi bersamaan dengan percepatan transisi menuju teknologi kendaraan berbasis AI, bukan di fase yang terpisah.
Hingga Ahad (24/5), Tesla maupun Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok belum menyampaikan tanggapan resmi. Kekosongan respons ini memperlihatkan pola umum dalam peluncuran teknologi sensitif di sektor otomotif Tiongkok. Yaitu, inovasi sering bergerak lebih cepat dibanding kerangka komunikasi regulator.
NEGARA YANG ADA TESLA DENGAN FSD: Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Puerto Riko, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Belanda, Lithuania, dan Tiongkok. (din/dns/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online