”Kondisinya memang seperti itu,” kata Kepala Bidang Pembinaan SMK H Muhammad Yahya.
Dinas Dikbud NTB mempertimbangkan untuk menghadirkan siswa SMK melakukan praktik di ruang bengkel sekolah.
”Karena tidak semua praktik itu bisa menggunakan daring. Misalnya untuk menyambung kabel, bekerja di bengkel tidak bisa daring,” kata dia.
Rencananya, Dinas Dikbud NTB akan mencoba melakukan simulasi. Pihaknya hendak menemukan metode atau mekanisme yang paling tepat untuk adaptasi kebiasaan baru. ”Kita simulasikan sehingga kami bisa menemukan metodenya,” terang Yahya.
Kendati demikian, tidak semua SMK melakukannya. Kegiatan ini bersifat piloting dan untuk kompetensi keahlian tertentu.
Dinas Dikbud NTB akan berusaha semaksimal mungkin, agar siswa bisa praktik di bengkel sekolah. Acuannya tetap menerapkan protokol kesehatan.
”Anak-anak kita yang tata busana misalnya, kan tinggal diatur jarak saja. menjahit juga tidak berkerumun, kalau sudah diatur kita harapkan sekolah, disiplin implementasinya,” tandas Yahya.
Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMK H Umar mengatakan, akan tetap melaksanakan pola shift atau blok. ”Kami tetap patuhi aturan,” tegasnya.
Terpisah, Wakasek Bidang Kurikulum SMKN 5 Mataram Dedi Ermansyah mengatakan, metode pembelajaran jarak jauh melalui daring memang tak maksimal. Diingatkan, sekolah kejuruan yang sebagian besar waktu belajarnya dihabiskan dengan praktik. Termasuk dengan menghasilkan produk, serta bersentuhan langsung dengan alat. Namun karena pandemi, sampai sekarang pihaknya belum bisa melaksanakan semua itu.
”Kendala kami di situ, tidak semua jurusan bisa maksimal menerapkan praktikum, semoga ada pola terbaik nantinya,” tandas dia. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida