11 SMA Terbuka Baru Atasi Masalah Putus Sekolah
Wahyu Prihadi • Kamis, 20 Mei 2021 | 12:12 WIB
MATARAM-SMA negeri di NTB yang mendapatkan mandat sebagai penyelenggara SMA Terbuka bertambah 11 sekolah. ”Insya Allah dalam pekan ini, SK mereka akan segera keluar,” terang Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB Purni Susanto, (19/5).
Awalnya hanya SMAN 1 Narmada saja. Sekolah ini terlebih dulu menyelenggarakan SMA Terbuka, dan sudah menghimpun 500 siswa. Tambahannya, SMAN 2 Gerung ada 37 siswa, SMAN 1 Pemenang 38 siswa.
Kemudian 61 siswa dihimpun SMAN 1 Praya Timur, SMAN 2 Jonggat dengan 34 siswa, dan SMAN 1 Pringgarata 42 siswa. Berikutnya SMAN 2 Selong 66 siswa, SMAN 4 Sumbawa 41 siswa, dan SMAN 1 Moyo Utara 28 siswa. Ada juga 56 siswa dari SMAN 2 Manggelewa, 30 siswa untuk SMAN 1 Kempo, dan SMAN 2 Sanggar 45 siswa.
”Jumlah siswa yang ada, merupakan data-data yang berhasil dihimpun sekolah berdasarkan nama sekaligus alamat lengkap mereka,” jelasnya pada koran ini.
Sebelum mengajukan permohonan sebagai sekolah penyelenggara SMA Terbuka, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Utamanya, melampirkan jumlah riil siswa. ”Data siswa harus lengkap, misalnya nama, tempat tanggal lahir, nama orang tua, alamat, nomor ijazah SMP, NIK, dan data lain dan penting data tersebut harus valid,” jelasnya.
Dikbud NTB hanya memperoses sekolah, yang memiliki jumlah siswa signifikan. ”Sebagaimana arahan pak kadis, minimal 36 siswa,” kata Purni.
Kendati demikian, jumlah siswa yang ada sekarang, masih bersifat sementara. Sebab, sekolah boleh menambahnya pada pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran baru 2021/2022. ”Maka semakin banyak anak putus sekolah, karena berbagai kondisi kembali bisa mengenyam pendidikan,” ujarnya.
Penyelenggara SMA Terbuka, tetap mengacu pada kurikulum yang berlaku di sekolah induk. Misalnya, SMAN 1 Praya Timur yang memiliki Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang tersebar di wilayah itu. Tetap dikendalikan untuk kualitas dan mutu pembelajarannya oleh sekolah induk. ”Guru-gurunya juga didatangkan dari sekolah induknya. Kecuali jika ada guru yang sudah overload jam mengajar maka mereka boleh merekrut tutor dari luar sekolah induk,” terang Purni.
Sekolah tidak perlu khawatir. Kebijakan ini tetap dilengkapi Standar Opersional Prosedur (SOP). ”Untuk SOP pengelolaan SMA terbuka sedang kami siapkan, mudah-mudahan segera tuntas dalam waktu dekat ini,” pungkas dia.
Sekolah yang telah ditetapkan menjadi SMA terbuka itu, harus gencar melakukan sosialisasi. ”Semakin banyak yang terakomodir, diharapkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB, sekaligus Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) meningkat,” tegas ketua Panitia PPDB Tahun Ajaran 2021/2022 Dinas Dikbud NTB H Muhammad Hidlir. (yun/r9) Editor : Wahyu Prihadi