Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dukung Pengembangan Kentang Sembalun, Unram Lakukan Matching Fund

Baiq Farida • Kamis, 27 Oktober 2022 | 15:02 WIB
BERMANFAAT UNTUK PETANI: Pemateri Mathing Fund Unram menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan tanaman kentang, dalam diskusi kelompok terfokus sekaligus pelatihan untuk para petani, di Sembalun Agro Villa, Sabtu (22/10). (Unram for Lombok Post)
BERMANFAAT UNTUK PETANI: Pemateri Mathing Fund Unram menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan tanaman kentang, dalam diskusi kelompok terfokus sekaligus pelatihan untuk para petani, di Sembalun Agro Villa, Sabtu (22/10). (Unram for Lombok Post)
SELONG--Sembalun merupakan kawasan potensial pengembangan tanaman kentang di NTB. Karena didukung letak daerah dataran tinggi, dengan kesesuaian agroklimat.

”Memperhatikan potensi tanaman kentang di Sembalun, akademisi Unram memberikan dukungan melalui pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” terang peneliti kentang sekaligus Direktur Pascasarjana Unram Prof Muhammad Sarjan, Rabu (26/10).

Kegiatan ini akan mengulik berbagai hal lain. Bukan saja potensi, namun tantangan saat produksi. Menurutnya, permasalahan peningkatan produksi kentang di Sembalun, dihadapkan pada kendala produktivitas yang berhubungan dengan manajemen produksi. Juga kesesuaian lahan dan ketersediaan benih bermutu yang sangat terbatas.

Ia bersama Tim Peneliti Kentang Unram, sejak 2013-2018, telah melakukan penelitian perbenihan kentang di Sembalun. Dilakukan melalui skim Penelitian Unggulan Strategis Nasional (PUSNAS). ”Penelitian ini menghasilkan berbagai inovasi perbenihan kentang mulai dari umbi, stek pucuk, sampai dengan kultur jaringan atau yang disebut planlet,” tandasnya.

Tahun ini Unram kembali melakukan penelitian. Mendapatkan dana penelitian skim Matching Fund Kedaireka tema Kemitraan Agribisnis Kentang untuk Pasar Indonesia.

Ketua Tim Matching Fund Unram Aluh Nikmatullah mengungkapkan, kegiatan ini dilatabelakangi konsumsi kentang industri di Indonesia masih dan terus dipenuhi melalui impor. Sementara itu produsen kentang industri terbatas dan terkendala pemenuhan kebutuhan kentang yang sesuai spesifikasi pasar. ”Pola kemitraan produksi umbi kentang industri pernah menjadi andalan NTB, namun terhenti, terkendala tingginya biaya produksi dan kebutuhan benih yang masih diimpor,” terangnya.

Sehingga Program Matching Fund ini ditujukan untuk membangun kembali kemitraan agribisnis kentang, meliputi perbenihan dan produksi umbi konsumsi untuk kebutuhan industri di Indonesia.

Matching Fund ini dilaksanakan melalui diseminasi teknologi budidaya dan teknologi perbenihan kentang, melalui pelatihan dan pendampingan. Selain itu, dilakukan juga pelatihan dan pendampingan pengolahan kentang industri bagi wanita tani yang dikomandani Ihlana Nairfana. Dia adalah dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Univeritas Teknologi Sumbawa (UTS) yang menjadi salah satu anggota Matching Fund kemitraan Agribisnis Kentang ini.

Juga melibatkan petani pelaku agribisnis perbenihan untuk kepentingan kemitraan. Pelaku on-farm agribisnis untuk menyediakan umbi kentang industri bagi pasar Indonesia, dengan offtaker PT Clarexindo Makmur Sejahtera (CMS). Sebuah perusahaan swasta nasional pertanian yang memiliki anak perusahaan produsen benih kentang industri, yaitu PT Agra Intan Makmur Sejahtera (AIMS).

Turut dilibatkan, wanita tani sebagai pelaku UMKM pengolahan kentang. Ini untuk mengantisipasi terserapnya umbi kentang yang mutunya tidak terserap industri.

Pelaksanaannya berlangsung sejak September, dilakukan delapan dosen dan melibatkan 12 mahasiswa magang, KKN dan skripsi, serta praktisi PT CMS dan AIMS memberikan kuliah dosen praktisi pada mata kuliah kapita selekta produksi bibit dan benih, serta budi daya tanaman semusim. ”Jadi, program Mathcing Fund ini juga diarahkan untuk mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, atau MBKM, dan pemenuhan indikator kinerja utama Universitas Mataram,” tandasnya.

Tommy Chitra, direktur PT CMS mengungkapkan mereka telah menghasilkan benih kentang bermutu varietas Chitra. ”Kami mendukung Tim Unram untuk menemukan pola kemitraan yang tepat dan saling menguntungkan antara PT CMS dengan petani di Sembalun,” ujarnya.

Agus Purbathin Hadi, ahli Komunikasi Pertanian mengungkapkan Matching Fund Unram telah melaksanakan kegiatan diskusi kelompok terfokus (FGD) dan pelatihan. Diadakan di Sembalun Agro Villa mulai Sabtu (22/10). ”Tujuannya, merumuskan pola kemitraan yang menguntungkan petani dan mitra,” jelas dia.

Dalam FGD, terungkap bahwa kemitraan yang dilaksanakan selama ini kurang berpihak kepada petani. Harga pembelian yang telah ditetapkan perusahaan seringkali di bawah biaya produksi yang terus meningkat.

Di sisi lain, terjadi penurunan produksi karena berkurangnya daya dukung lahan. Petani mengusulkan pola ngadas, sebagai bentuk kearifan lokal bagi hasil yang selama ini diterapkan petani secara tradisional. ”Sementara untuk benih kentang industri, petani meminta perusahaan membeli produksi dengan memberikan persentase keuntungan 10-30 persen di atas biaya produksi,” terang pria bergelar doktor ini.

Karena itu, Tim Unram bersama mitra menggelar pelatihan selama tiga hari, berlangsung tanggal 22, 23 dan 28 Oktober. Hari pertama, ada Pelatihan On-farm Agribisnis Produksi Umbi Konsumsi Kentang Industri Sesuai Mutu. Sedangkan di hari kedua, ada Pelatihan Teknis Produksi Benih Kentang Varietas Chitra. ”Setelahnya, akan dilanjutkan dengan pendampingan pada kelompok produsen benih kentang dan pelaku on-farm produksi umbi kentang sampai dengan akhir tahun ini,” terang Purbatin.

Tim Matching Fund Unram juga memberikan pendampingan pengolahan aneka produk berbahan baku kentang yang dikoordinir oleh Ihlana Nairfana dan tim UTS. Produk yang dihasilkan berupa roti kentang mini, pai kentang, bolen kentang, donat kentang, kripik kentang, dan aneka olahan lainnya. (yun/r9/*)

 

  Editor : Baiq Farida
#Kentang Sembalun #Universitas Mataram Unram #Matching Fund