Rektor Unram Prof Bambang Hari Kusumo mengatakan momentum Isra Mikraj, menjadi pengingat kebesaran Allah SWT. Dengan izin-Nya, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. ”Para hadirin bisa bayangkan jarak antara Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sekitar 1.238 KM. Kemudian dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha yang jaraknya tak seorang pun di antara kita yang mengetahui,” terangnya.
Rektor menegaskan, manusia saat ini bisa menghitung jarak bumi sampai ke bulan, jarak bumi ke matahari, dan jarak bumi dengan beberapa planet yang ada.
Bahkan sekarang ini manusia sudah mengirimkan beberapa peralatan, untuk mengecek atau memonitor planet mars. Tetapi belum ada satu pun manusia yang mencapai atau melewati bintang-bintang lain, apalagi menuju Sidratul Muntaha.
Kesimpulannya, saat Yang Maha Kuasa berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Jadi semata-mata hanya kehendak Allah yang memperjalankan Nabi Muhammad untuk menerima perintah salat. ”Sehingga kita manusia jangan sampai ada kesombongan sekecil apa pun di dalam diri kita,” tandasnya.
KH Zulkifli Muhadli, pengurus wilayah ICMI NTB, menyampaikan ceramah tentang hikmah dari Isra Mikraj. Peristiwa besar ini, memberikan pesan bahwa manusia wajib menunaikan ibadah salat, sebagai pedoman jiwa dan perilaku. ”Salat adalah kebutuhan dan ibadah utama yang wajib dilaksanakan dalam sendi kehidupan,” jelasnya.
Saat melakukan wudu, perbaiki dan perhatikan tata caranya, jangan sampai ada yang tertinggal. Pastikan air itu masuk ke celah-celah jari, tangan maupun kaki. Setelah itu sucikan tempat sujud, sucikan pakaian, sucikan hati. ”Dan kita akan mikraj seperti mikraj-nya Rasulullah SAW, Insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat,” jelasnya. (yun/r9/*) Editor : Baiq Farida