LombokPost-SDIT Abata Islamic and Bilingual School menerapkan pembelajaran full day.
Konsep pembelajaran di sekolah yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Ampenan Utara, Kota Mataram itu berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Visi sekolah ini Islamic, ceria, kreatif, dan berwawasan global.
”Tagline kita Islamic and bilingual serta ramah anak. Di mana, anak-anak harus ceria,” kata Kepala SDIT Abata Lombok Islamic and Bilingual School Lia Oktavia pada Lombok Post.
Diutarakan, sesuai dengan visi sekolah, pihaknya fokus untuk peningkatan akademik dan tingkat emosional anak yang paling diprioritaskan.
Bagaimana anak-anak datang ke sekolah penuh semangat dan ceria.
”Kadang anak-anak mau sekolah tidak ada semangat, tapi di Abata berbeda. Anak-anak dan guru harus ceria. Apa pun masalahnya anak-anak harus ceria ketika masuk di Abata,” urai Lia, sapaan karibnya.
Para murid melaksanakan pembelajaran pukul 07.00 hingga pukul 14.00 Wita. Lalu dilanjutkan dengan program bina prestasi hingga pukul 15.00 Wita.
”Anak-anak mengembangkan bakat dan minat melalui bina prestasi,” kata perempuan asal Sekarbela ini.
Dia menyebutkan, ada 30 bina prestasi yang dikembangkan di sekolah. Diantaranya, karate, taekwondo, english club, sains club, hingga memanah.
”Setiap ada lomba kita ikutkan murid,” jelasnya.
Sedangkan untuk konsep lingkungan kata dia, ramah anak.
Kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak hanya di dalam kelas, namun juga di luar kelas.
”Kami ada pembelajaran di luar kelas agar anak-anak tahu belajar itu bisa di mana saja,” cetusnya.
Selain itu, bukan hanya guru saja yang menjadi role model menyampaikan materi, tetapi juga teman sebaya.
Jadi ketika belajar dalam kelas dan ada anak yang sudah selesai mengerjakan tugasnya, maka akan mengajarkan ke temannya.
”Di sini kita ada penerapan tutor sebaya,” kata Lia.
SDIT Abata Lombok menerapkan tiga kurikulum saat ini yaitu Kurikulum Merdeka bagi kelas I,II, IV dan V, sedangkan K-13 diterapkan di kelas III dan VI.
”Kami juga ada kurikulum khas Abata,” terang Lia.
SDIT Abata menerapkan dua bahasa yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
”Bahasa Inggris ini sebagai bahasa pengantar,” tutur perempuan berjilbab ini.
Ketua Yayasan Abata Lombok Islamic and Bilingual School Tatik Rokhani menuturkan, program keagamaan juga dikembangkan di sekolah.
Ada program tahfiz, dai cilik, pidato bahasa Arab, dan bahasa Inggris. ”Kita kembangkan pembelajaran yang ceria.
Satu kelas ada guru yang mengajar,” pungkasnya. (jay/r9/*)
Editor : Kimda Farida