Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belajar Penerapan SRA, SMAN 1 Sumbawa Besar Studi Tiru ke SMAN 9 Mataram

Ali Rojai • Selasa, 30 April 2024 | 17:40 WIB
STUDI TIRU: Kepala sekolah dan guru SMAN 1 Sumbawa Besar foto bersama guru SMAN 9 Mataram saat studi tiru di sekolah setempat, kemarin (29/4).
STUDI TIRU: Kepala sekolah dan guru SMAN 1 Sumbawa Besar foto bersama guru SMAN 9 Mataram saat studi tiru di sekolah setempat, kemarin (29/4).

LombokPost-SMAN 1 Sumbawa Besar berkunjung ke SMAN 9 Mataram, Senin (29/4).  

Kedatangan Kepala SMAN 1 Sumbawa Besar Ainun Asmawati bersama belasan guru dan perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk belajar sejumlah hal.

Salah satunya, bagaimana menerapkan sekolah ramah anak (SRA) di sekolah penggerak tersebut. ”Kami ingin melihat keunggulan SMAN 9 Mataram lebih dekat,” kata Ainun, sapaan karibnya.

Dia tidak ingin sekolah yang dipimpinnya nanti hanya sebuah jargon saja sebagai SRA. Untuk itu ia ingin ada imbas dari studi tiru  ke SMAN 9 Mataram sebagai pilot project SRA.

”Kedatangan kami untuk belajar dan nanti kami akan mempersiapkan deklarasi SRA,” ucapnya.

”Kami akan mengundang SMAN 9 Mataram saat deklarasi SRA nantinya,” imbuh perempuan berjilbab ini.

Dia ingin menumbuhkembangkan SRA di sekolah yang dipimpinnya.

Karena kekerasan terhadap anak di NTB cukup tinggi. SRA cukup bagus menciptakan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak.

”SRA menjadi pintu masuk di NTB mencegah kekerasan terhadap anak. Bagaimana mencipatkan rasa nyaman kepada siswa di sekolah, terutama dalam pelayanan,” urai Ainun.

Dari studi tiru banyak manfaat yang bisa diambil untuk berbenah dan mengimbaskan SRA ke sekolah yang ada di NTB.

Karena SMAN 9 Mataram menjadi acuan Dikbud NTB untuk belajar penerapan SRA.

”Kita akan saling menguatkan dan bisa menjadikan sekolah yang nyaman bagi siswa,” tutur Ainun.

Kepala SMAN 9 Mataram Nengah Istiqomah memberikan apresiasi terhadap SMAN 1 Sumbawa Besar untuk kerja sama dan berbagi praktik baik.

UIa menyebutkan, SRA merupakan gerakan mengubah mindset dan paradigma di satuan pendidikan untuk memberikan pelayanan agar anak mendapatkan pendidikan tanpa ada kekerasan, perundungan, dan perbedaan.

”Praktik orang dewasa jika anak salah harus dihukum. Yang boleh menghukum itu aparat. Di sekolah guru harus membina dan mendampingi anak untuk mendapatkan pelayanan terbaiknya,” tegasnya.

Dikatakan, anak-anak harus dihargai untuk mewujudkan SRA. Anak-anak melakukan kegiatan positif di sekolah atas kesadaran dirinya, bukan karena takut dihukum.

”Misalnya anak datang tepat waktu ke sekolah bukan karena takut dihukum, tapi agar bisa mendapatkan pelajaran yang baik,” pungkasnya. (jay/r9)

Editor : Kimda Farida
#osis #SMAN #Mataram