LombokPost-Peneliti dari Universitas Kitakyushu, Jepang memberikan pelatihan kepada guru-guru dari Sekolah Dasar (SD) di Kota Mataram terkait mitigasi bencana.
Hal ini sebagai langkah untuk pengenalan pendidikan mitigasi bencana kepada peserta didik di sekolah.
“Ada 30 guru dari 30 sekolah di Kota Mataram yang hadir. Itu ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kota Mataram langsung,” kata Kepala Departemen Mitigasi Penanggulangan Bencana Universitas Kitakyushu Jepang, Fumitoshi Murae saat ditemui di Universitas Mataram, Selasa (20/8).
Fumitoshi Murae mengatakan, dalam sejarahnya Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan terkait bencana yang beragam.
Dengan banyaknya bencana yang terjadi di Jepang, dalam kurikulum sekolahnya dimasukkan pembelajaran terkait mitigasi bencana.
"Anak-anak sekolah di Jepang mempelajari mitigasi bencana. Tapi di Indonesia anak-anak sekolah belum mempelajari itu," jelasnya.
Fumitoshi Murae dan tim pun melakukan workshop mitigasi bencana untuk 30 guru dari 30 sekolah di Mataram.
Penanggulangan dan mitigasi bencana Jepang dapat diadopsi sesuai dengan kondisi di Indonesia sendiri.
Salah satu contohnya, jika terjadi bencana di Jepang saat mengungsi warga menggunakan kertas sebagai piring untuk makan.
Berbeda dengan di Indonesia, yang memiliki daun pisang dengan ukuran panjang dan lebar yang dapat menjadi pengganti piring.
Harapannya, pelajaran terkait mitigasi bencana ini dapat diintegrasikan dalam pelajaran peserta didik.
"Kita berharapnya di mana yang kira-kira cocok diselip-selipkan ke dalam mata pelajarannya," harap dia.
Dalam workhsop tersebut, ada enam narasumber dari guru muda di Kota Mataram.
Pada dua tahun lalu enam guru delegasi dari sekolah di Mataram belajar terkait penanggulangan dan mitigasi bencana ke Jepang.
Guru-guru itulah yang nanti diharapkan bisa membagikan ilmunya ke guru yang lain untuk diajarkan ke peserta didik.
Jadi apa yang dipelajari di Jepang itu bisa diimplementasikan ke guru-guru lain.
"Jadi saat ini, bukan kami yang mengajarkan guru-guru ini. Tapi enam guru yang kemarin belajar itu,” terangnya.
Indonesia terdiri dari banyak pulau yang memungkinkan untuk potensi dan jenis bencana yang terjadi juga berbeda.
Sehinga juga ada rencana untuk melakukan pelatihan ke sekolah di kabupaten kota lain yang ada di NTB.
"Harapannya memang tahun depan itu tidak hanya di Mataram. Tapi juga disebar ke tempat lain," imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti dari Universitas Kitakyushu Fakultas Teknik Lingkungan Indriyani Rachman mengatakan, dengan adanya pelatihan mitigasi bencana ini dapat membiasakan murid berlatih saat ada bencana, salah satunya gempa.
"Jadi murid itu tidak panik karena dia latihan lagi, latihan lagi. Murid tahu apa yang dilakukan kalau tiba-tiba gempa bagaimana, harus lari ke mana, dasar-dasar itu diajarkan," kata Indriyani.
Untuk percontohan di wilayah Mataram telah disusun lima bahan ajar bencana berdasarkan latihan evakuasi dan pencegahan pembelajaran pencegahan bencana yang dilakukan di Jepang.
Kelima bahan ajar tersebut dibuat secara kronologis, dengan fokus pada pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan sebelum hingga setelah bencana terjadi.
“Seperti proses kehidupan sehari-hari sebelum kejadian, kemudian latihan menghadapi bencana ketika terjadi bencana. Ada emergency bag untuk evakuasi dan saat mengungsi,” tandasnya. (chi/r9/*)
Editor : Kimda Farida