LombokPost-Ruang kelas merupakan tempat yang paling aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar di sekolah.
Namun ada beberapa hal yang seringkali dikesampingkan, misalnya bagaimana kesan dan pendapat siswa terhadap ruang kelas yang biasa mereka gunakan. Apakah nyaman atau ternyata malah menghambat proses belajar mereka?
Hingga akhirnya muncul pertanyaan, bagaimana jika siswa diberi kesempatan menggubah susunan ruang kelasnya sendiri?
Apakah siswa merasa lebih terikat dan senang jika diperbolehkan menempatkan benda favorit yang tidak bersinggungan dengan aktivitas belajar di area kelas sebagai identitas personal?
Berbekal pertanyaan ini tim desain dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai oleh Kukuh Rizki Satriaji datang ke SD Filial Semokan Ruak Lombok Utara.
Baca Juga: LAZ Ingin Tampung Program dan Visi-Misi Paslon Lain untuk Kemajuan Lobar
“Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan tercipta kesadaran dan kepedulian dari dalam diri siswa terhadap area sekitar ruang kelas yang mereka gunakan di sekolah,” kata Kukuh Rizki Satriaji.
Tim ini Beranggotakan dosen dari berbagai latar belakang desain, Yogie Candra Bhumi dan Hatif Adiar asisten dosen, Eljihadi Alfin dan mahasiswa MBKM, Muhammad Luqman, Raditya Farrel Anggaraksa, dan Muhamad Akmal Mushtofa.
Tim membuat desain modul maket miniatur meja dan kursi sekolah beserta aksesorisnya yang dapat digunakan untuk pembelajaran ruang dan fasilitas di dalam kelas. Modul miniatur ini mengadopsi bentuk meja dan kursi kayu yang biasa ditemukan di berbagai sekolah dasar di Indonesia.
Dalam kegiatan ini, sekitar 40 siswa kelas 4-6 SD Filial Semokan Ruak, KLU diberi pemahaman mengenai ruang kelas dengan membuat modul maket miniatur meja dan kursi.
Semua kegiatan dilakukan pada hari yang sama di lingkungan sekolah. Kegiatan diawali dengan membagi para siswa menjadi 8 kelompok dengan jumlah sebanyak 4-5 siswa dalam satu kelompok dengan jenjang yang beragam.
Setiap kelompok kemudian diberikan modul maket miniatur meja dan kursi sekolah yang dapat disusun dan dirakit sendiri oleh siswa. Untuk memudahkan, siswa juga diberikan panduan cara perakitan setiap komponen modul.
Semua modul maket dalam kondisi belum dirakit dan masih terangkai satu dengan lainnya. Aksesoris yang dimaksud di sini terdiri dari obyek yang biasa ditemukan di ruang kelas, seperti buku, botol minum, gelas, dan papan nama. Selain itu beberapa obyek yang tidak berkaitan secara langsung dengan ruang kelas, seperti bola, tanaman, akuarium, dan lampu belajar.
“Selama pelaksanaan kegiatan, terlihat siswa dengan serius mengerjakan proses perakitan dan sesekali bertanya jika ada hal yang tidak dipahami. Hasil yang dapat dilihat secara umum, ditemukan bahwa setiap kelompok telah berhasil merakit modul maket utama yaitu meja dan kursi sekolah tanpa bantuan dari orang dewasa, baik guru ataupun tim,” sambungnya.
Karya yang dihasilkan setiap kelompok sangat beragam, ada kelompok siswa yang memilih untuk tetap membuat bidang meja tetap kosong dengan hanya menempatkan 1-2 obyek di atas meja, namun kelompok lain justru menempatkan banyak obyek di atas meja.
Ada kelompok yang cenderung memilih benda-benda fungsional seperti lampu, mug, dan botol minum, sedangkan ada kelompok yang ingin dekat dengan alam dengan menempatkan obyek seperti aquarium dan pot bunga.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa siswa ternyata sudah memiliki ketertarikannya masing-masing untuk membuat area belajar di sekitarnya menjadi lebih nyaman.
“Manfaat lainnya bagi guru adalah secara tidak langsung dapat mengamati kondisi ruang kelas seperti apa yang dikehendaki oleh siswa selama aktivitas berlangsung. Guru juga dapat melakukan diskusi dengan siswa kelasnya untuk berkala melakukan perubahan di dalam kelas untuk menciptakan suasana baru sehingga siswa tidak merasa bosan,” pungkasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat dari DRPM ITB 2024 pada bidang pendidikan, terutama pendidikan di tingkat dasar.
Selama proses kegiatan tim ini juga bekerkerja sama dengan dosen dari Desain Produk ISI Yogyakarta, yaitu Nandang Septian dan komunitas kreatif karasa.bdg, Andi Abdul Qodir dan Arum Kartikaningbudi. (r2/*)
Editor : Marthadi