LombokPost-Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram meminta satuan pendidikan berperan menumbuhkan sikap dan perilaku peduli lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah. “Kami ingin sekolah bisa berperan mengurangi sampah,” kata Kepala Disdik Kota Mataram Yusuf.
Ia ingin sampah di sekolah bisa dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai. Misalnya, sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Sedangkan sampah anorganik dijadikan sebagai kerajinan.
“Kami ingin sampah dihasilkan sekolah tidak hanya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” cetus Yusuf.
Tak hanya itu lanjut dia, satuan pendidikan juga harus mengurangi penggunaan sampah plastik di sekolah. Bungkus minuman yang menggunakan plastik diganti pakai gelas. Pun juga dengan bungkus makanan baiknya menggunakan bahan-bahan yang bisa diurai menjadi pupuk.
Kepala SMPN 10 Mataram H Chamim Tohari menuturkan, sekolah yang dipimpinnya ini memiliki unit produksi sampah. Ada bank sampah untuk sampah anorganik. Sedangkan untuk sampah organik diolah menjadi briket arang, pupuk kompos, dan pakan maggot.
“Ini yang sudah kami terapkan di sekolah,” ujar Chamim.
Spenten sebutan SMPN 10 Mataram pernah meraih penghargaan sekolah adiwiyata. Ia akan berbagi praktik baik di sekolah lain terkait bagaimana mengelola sampah yang didapatkan di Surabaya.
Menurutnya, sampah, baik itu organik maupun anorganik dihasilkan sekolah bagian yang harus dikelola dengan baik. Apalagi, Kota Mataram sebagai ibu kota NTB pengelolaan sampah harus ditangani dengan baik. “Sekolah harus punya kontribusi mengolah sampah sehingga bisa dimanfaatkan,” kata Chamim.
Misalnya sebut dia, sampah dari perampingan ranting pohon, meubelair yang rusak bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan briket arang. Selain itu, untuk pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan daunnya. “Kami juga ada program Lisa (lihat sampah ambil),” pungkasnya. (jay/r2)
Editor : Akbar Sirinawa