Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Prof Dr Syamsul Arifin: Pentingnya Revitalisasi Pendidikan Akhlak di Era Digital

Yuyun Kutari • Rabu, 23 April 2025 | 09:17 WIB
Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Ag
Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Ag

LombokPost-Guru Besar Pendidikan Akhlak UIN Mataram Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Ag memandang penting revitalisasi pendidikan akhlak di era peradaban digital.

Menurutnya, pelaksanaan pendidikan akhlak harus kembali pada jati diri akhlak yang bersifat instrinsik. Jika tidak, maka hasilnya akan stagnan.

“Fenomena  tindakan-tindakan immoral yang sering terjadi belakangan, menjadi indikasi kuat sebagai warning pendidikan ini harus segera direvitalisasi,” jelasnya.

Diprediksi tindakan immoral tersebut akan terus meningkat, baik jenis, jumlah, maupun bobotnya seiring menguatnya era peradaban digital.

Di era ini, hubungan dunia manusia dimediasi oleh internet, komunikasi seluler yang menghasilkan nilai, norma, praktik perilaku baru, dan akhirnya sangat berpotensi mengubah sifat manusia.

Masyarakat digital sangat berpotensi mengalami hal-hal negatif, seperti kekosongan eksistensial, disorientasi aksiologis dalam ranah nyata, deformasi esensi komunikasi interpersonal dengan virtualisasi aspek sensual dan emosionalnya.

“Serta munculnya bentuk-bentuk kebebasan baru  yang menyimpang,” tambah Prof Syamsul Arifin.

Pada titik ini, dari hasil penelitian, seseorang akan mendapati dua hal yang tidak diinginkan yaitu: ketidakpastian moral di mana seseorang merasa tidak mampu untuk mencegah dan menjawab pertanyaan moral, dan kerugian moral di mana seseorang berada dalam kondisi tidak mengetahui kewajiban, hak, dan tanggung jawab moralnya sendiri atau orang lain.

Untuk memperbaiki dan memperkuat kualitas akhlak karimah umat Islam di era peradaban digital, perlu dibedah problematika filosofis akhlak dan pendidikan akhlak dalam tiga dimensi keilmuan yaitu ontologi, epsitemologi dan aksiologi.

“Di sini perlu kita kaji lebih jauh, apakah akhlak sama dengan adab?; apakah yang diajarkan dalam pendidikan selama ini akhlak atau adab? Apakah yang benar adalah tadzhib al-akhlaq, tarbiyah al-akhlak atau bina al-akhlak?,” ujarnya.

Kemudian bagaimana pendidikan akhlak mestinya dipraktikkan, nilai transendental apa yang harus diinternalisasikan dalam konteks kekinian, dan pertanyaan filosofis ini akan mempengaruhi bagaimana semestinya pendidikan akhlak dipraktikkan.

Dijelaskan Prof Syamsul Arifin, meskipun saling berkaitan karena sama-sama membahas perilaku manusia,  istilah akhlak dan adab memiliki perbedaan mendasar.

Diantaranya, akhlak berada pada level syari’ah menyangkut ketetapan baik dan buruk yang bersifat universal dan bersumber dari Allah sehingga memiliki kebenaran mutlak, sedangkan adab berada pada tataran fiqih.

Perwujudannya merupakan hasil ijtihad manusia tentang akhlak dalam konteks sosial dan budaya sehingga memiliki kebenaran relatif.

Akhlak bersifat intrinsik, berkaitan dengan keadaan hati seseorang yang menjadi energi untuk berbuat.

Karena bersifat psikis, akhlak tidak kasad mata, sedang adab bersifat ekstrinsik, perwujudan perilaku manusia yang bersifat dhahiriyah dan terindera.

Juga, akhlak tidak membutuhkan logika karena ia berkaitan dengan hati, bagian terdalam diri manusia, dan tidak berkaitan dengan akal.

Sedangkan  menurutnya adab sangat bergantung pada akal dalam upaya memastikan bahwa perilaku yang ditampakkan sesuai dengan norma-norma budaya dan sosial tertentu dan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan logis-empiris yang detail.

Akhlak memuat dan atau membahas nilai baik dan nilai buruk, sedangkan adab hanya memuat dan atau membahas nilai baik saja dalam konteks sosial dan budaya, dan terakhir, akhlak yang baik tercermin dalam adab, sedangkan adab belum tentu mencerminkan akhlak.

Inilah perbedaan fundamental antara istilah akhlak dan adab.

“Dari sini dapat kita lihat, bahwa selama ini terjadi proses pendangkalan terhadap hakekat akhlak. Seolah-olah akhlak adalah adab dan adab adalah akhlak,” terangnya.

Pada dasarnya, akhlak adalah essensi Islam. Karenanya, penting untuk segera dilakukan revitalisasi pemahaman ontologis akhlak dalam perspektif filsafat, dan penerapan pendidikan akhlak dengan pendekatan psiko-sufistik.

Pendekatan ini dipilih karena hakekat akhlak adalah hal-hal yang bersifat qalbiyah, dan pendekatan psiko-sofistik memandang manusia atau peserta didik lebih pada aspek intrinsiknya atau batiniyahnya.

Dengan revitalisasi ini, pendidikan akhlak berpotensi berhasil membentuk individu-individu muslim yang memiliki kecerdasan kompleks yang bersumber dari ruh ilahiyah.

“Sehingga mereka mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara konstruktif dan produktif bukan destruktif dan konsumtif di era peradaban digital,” katanya.

Lebih dari itu, mereka juga turut terdorong untuk mengaktualisasi diri yang diikuti dengan tindakan kontributif, dalam membangun tatanan kehidupan yang lebih ideal sebagai wujud penghambaan kepada Allah. (yun)

Editor : Kimda Farida
#uin mataram #guru besar #AKHLAK #era digital #revitalisasi