LombokPost- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa MAN 2 Mataram. Yuri Hanif Ramadhana, pelajar kelas XII sekaligus ketua ekstrakurikuler Manda English Club (MEC), berhasil mewakili Indonesia dalam program AFS Global STEM Academies 2025 yang digelar di Delhi, India.
Program AFS Global STEM 2025 merupakan pertukaran pelajar internasional dengan skema beasiswa penuh bagi remaja yang memiliki minat besar dalam bidang sains, teknologi, teknik, matematika (STEM), dan pengaruh sosial berkelanjutan.
AFS Global STEM 2025 menjadi ajang bergengsi bertaraf global yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara untuk belajar langsung di lapangan.
“Hanif sudah memulai tahap pertama program AFS Global STEM sejak Maret lalu secara daring. Kini, ia melanjutkan pembelajaran tatap muka di India hingga 17 Agustus,” jelas Kepala MAN 2 Mataram Lalu Syauki, Sabtu lalu (19/7).
Sejak dinyatakan lolos seleksi pada awal tahun ini, Hanif menjalani hybrid learning yang terdiri dari pembelajaran online dan tatap muka.
Tahap daring berlangsung selama dua bulan, didampingi fasilitator bersertifikat dari AFS dan University of Pennsylvania. Sedangkan tahap kedua, kini sedang dijalaninya langsung di India.
Program AFS Global STEM 2025 bukan sekadar belajar teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
Hanif dan pelajar lain dari seluruh dunia akan mengikuti kegiatan kunjungan sekolah, pengelolaan limbah (waste management), rumah sakit, serta program unggulan seperti AI and Robotics Event.
Pembina MEC MAN 2 Mataram Sri Kurniawati menyebutkan, keberhasilan Hanif tak lepas dari kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
“Dia juga punya track record prestasi akademik dan nonakademik yang kuat,” ujar Nia.
Sejumlah prestasi telah ditorehkan Hanif, di antaranya, runner-up nasional Smakerz English Debate, runner-up ESC Debate tingkat NTB-Bali Nusra, juara I Olimpiade Dignity bidang matematika nasional, hingga juara storytelling tingkat kota.
Kehadiran Hanif di India sebagai bagian dari AFS Global STEM 2025 bukan hanya membawa nama sekolah, tapi juga menjadi duta pelajar Indonesia dalam forum sains dan budaya global.
“AFS Global STEM 2025 ini bukan hanya soal akademik, tapi juga keterampilan antarbudaya, berpikir kritis, dan kolaboratif,” tambah Nia.
Dengan program seperti AFS Global STEM 2025, siswa seperti Hanif mendapat peluang emas untuk berkembang secara global. Ia diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi pelajar NTB lainnya untuk berani bersaing di panggung dunia.
Editor : Siti Aeny Maryam